PDIP Akui Pemerintah Jokowi-JK Amburadul

Senin, 20 April 2015 - 08:18 WIB
PDIP Akui Pemerintah...
PDIP Akui Pemerintah Jokowi-JK Amburadul
A A A
JAKARTA - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Effendi Simbolon berpendapat, tidak perlu hasil survei untuk mengetahui kepuasan publik terhadap pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK).

Selama ini dirinya sudah sering mengkritisi secara terbuka di awal-awal pemerintahan, tapi dirinya bicara justru dianggap melawan. Kritisi ini dilakukan dengan niatan positif sampai dengan sekarang ini.

"Saya melihat dengan pemerintahan dibangun dengan ketidakjelasan visi misi dan tidak bersandar pada konstitusi dan perundang-undangan," kata Effendi saat dihubungi Koran SINDO kemarin.

Menurut Effendi, tanpa adanya survei pun ketidakpuasan sangat nyata dan masyarakat merasakan bagaimana ketidakmampuan mereka memenuhi kebutuhan hidup. Mahalnya harga sembako, harga listrik, harga gas, dan barang dan jasa yang juga naik. Bisa dilihat dengan indikator kriminalitas yang meningkat.

"Kepatuhan masyarakat semakin luntur terhadap pemerintahan. Itu menunjukan karut marut pemerintahan," jelasnya.

Effendi menegaskan, Jokowi tidak menyadari bahwa dengan dirinya membangun pola pemerintahan seperti ini akan mengakibatkan negara yang amburadul. Bahkan, di antara negara yang tergabung dalam Konferensi Asia Afrika (KAA), Indonesia merupakan negara yang paling terpuruk.

Sementara, Indonesia adalah salah satu negara pencetus bahwa negara KAA harus terbebas dari penjajahan. "Sekarang semua udah bebas dari penjajahan dan neolib, tapi kita (Indonesia) masih terjajah dari negara kita sendiri," tegas Effendi.

Effendi yakin, survei satu bulan ke depan akan drastis turun tingkat kepuasannya. Karena, percepatan menuju terpuruknya tingkat kepuasan akan sangat cepat. Penurunan bisa terjadi dalam hitungan hari, tak perlu menunggu tahun karena, dirinya menduga kuat bahwa Jokowi beraliran neolib.

"Jokowi neolib, propasar. Negara yang tingkat kemiskinan masih tinggi tidak mungkin harganya dilemparkan ke pasar," ujarnya.

Lebih jauh dia menambahkan, dirinya tidak pernah berpikir bahwa ini salah pembantu presiden. Karena, yang dipilih masyarakat itu presiden dan menteri dipilih oleh presiden. Jadi, ini semua tanggung jawab presiden.

"Masa kita menyalahkan pembantunya. Saya tidak membela pembantunya," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
JK soal Kabinet Merah...
JK soal Kabinet Merah Putih: Nanti 6 Bulan Baru Kita Bisa Menilai
Reshuffle Kabinet, Presiden...
Reshuffle Kabinet, Presiden Lantik 2 Menteri 1 Kepala Lembaga
Jokowi Lantik Dua Menteri...
Jokowi Lantik Dua Menteri dan Tiga Wakil Menteri Kabinet Indonesia Maju
JK Sentil Wacana Kabinet...
JK Sentil Wacana Kabinet Prabowo Diisi 40 Menteri: Artinya Bukan Kabinet Kerja tapi Politis
Penilaian 6 Menteri...
Penilaian 6 Menteri Baru di Mata Jokowi
Reshuffle Kabinet, PKS...
Reshuffle Kabinet, PKS Sarankan Jokowi Libatkan KPK Pilih Calon Menteri
Berita Terkini
Paripurna DPR Setujui...
Paripurna DPR Setujui Wahidah Suaib Jadi Anggota Ombudsman Pengganti Hery Susanto
Alasan KPK Kembalikan...
Alasan KPK Kembalikan Mobil Noel Ebenezer
Bos Blueray John Field...
Bos Blueray John Field Yakin Uang Suap Tersalurkan ke Dirjen Bea Cukai, Uangnya Tidak Pernah Kembali
Dasco Sebut RUU Perampasan...
Dasco Sebut RUU Perampasan Aset dan RUU Ketenagakerjaan Tetap Dibahas pada Masa Reses
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
KPK Panggil Bupati Penajam...
KPK Panggil Bupati Penajam Paser Utara terkait Kasus Gratifikasi di Kukar
Infografis
8 Menteri Era Jokowi...
8 Menteri Era Jokowi yang Terjerat Kasus Korupsi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved