Migrasi Paus Bukukan Rekor Jarak Terjauh

Minggu, 19 April 2015 - 10:20 WIB
Migrasi Paus Bukukan...
Migrasi Paus Bukukan Rekor Jarak Terjauh
A A A
Seekor paus abu-abu betina dari Western North Pacific membukukan rekor untuk migrasi jarak jauh, menurut hasil studi yang dirilis pekan ini.

Paus berusia sembilan tahun bernama Varvara itu ditandai dari Pulau Sakhalin, Rusia, pada 2011. Paus itu melintas dari barat laut ke timur laut Pasifik dan menyusuri Pantai Barat Kanada dan Pantai Amerika Serikat dan menuju tempat perkembangbiakan di Baja California, Meksiko.

Dia berenang melintasi jarak 10.880 kilometer dalam 69 hari. ”Ini rekor jarak perjalanan terpanjang dalam migrasi mamalia,” ungkap para peneliti, dikutip kantor berita AFP . Varvara kemudian kembali ke tempat semula melalui rute lebih ke selatan, menyelesaikan perjalanan 172 hari sepanjang 22.511 kilometer. Ini juga menjadi rekor untuk migrasi pergi-pulang.

Hingga saat ini, pemegang rekor yang tercatat untuk migrasi mamalia ialah paus punggung bungkuk, yang salah satunya pernah melakukan perjalanan sejauh 9.800 kilometer dari perairan Brasil menuju Madagaskar, menurut studi pada 2010. Hasil riset terbaru yang dipublikasikan jurnal Inggris, Biology Letters, menambah banyak pertanyaan tentang paus abu-abu yang memiliki nama latin Eschrichtius robustus .

Paus abu-abu ada di bagian timur dan Western North Pacific dan para peneliti menganggap kedua populasi itu berbeda. Penangkapan paus secara komersial telah mengurangi jumlah mereka di kedua bagian samudera tersebut. Meski demikian, paus yang berada di bagian timur relatif masih banyak dibandingkan di wilayah barat yang hampir punah. Bahkan, disalah satu wilayah diduga sudah punah. International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan populasi paus abu-abu di bagian barat sekitar 130 ekor, sehingga menjadikannya termasuk ”terancam punah.”

Kendati demikian, diduga ada percampuran genetik antara populasi paus di bagian timur dan barat. Dengankatalain, beberapapeneliti menduga paus abu-abu di bagian barat dapat sama seperti paus abu-abu di bagian timur. ”Identifikasi populasi paus di Pulau Sakhalin perlu evaluasi lebih lanjut,” ujar para peneliti yang dipimpin Ladd Irvine di Oregon State University. Enam paus lainnya juga diberi penanda yang dapat dimonitor melalui satelit.

Bersama Varvara, dua paus lainnya juga melintasi wilayah yang dihuni oleh paus abu-abu timur yang tidak terancam punah. Mereka adalah Flex, jantan berusia 13 tahun yang melintas menuju perairanOregon, dalamperjalanan7.611 kilometer dan Agent, betina berumur enam tahun yang menuju Teluk Alaska dalam perjalanan 5.464 kilometer. ”Pola migrasi itu berbeda dengan dugaan bahwa paus abu-abu mengikuti rute migrasi utara-selatan sepanjang pantai dan menunjukkan mamalia ini memiliki keahlian navigasi melintasi lautan terbuka,” ungkap hasil studi tersebut.

Penangkapan Paus

Komisioner Jepang untuk Komisi Penangkapan Paus Internasional (International Whaling Commission/ IWC) Joji Morishita mengungkapkan, Pemerintah Jepang akan melakukan yang terbaik untuk membuktikan perburuan paus yang mereka lakukan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Pemerintah Jepang ingin kembali melakukan penangkapan paus yang dianggapnya untuk riset. SebelumnyaIWCmenyatakan, Pemerintah Jepang tidak dapat membuktikan mengapa perlu membunuh mamalia tersebut. ”Kami menghormati rekomendasi mereka dan kami akan melakukan upaya terbaik untuk merespons rekomendasi mereka, dengan niat baik dan langkah yang tepat,” ujar Morishita di Tokyo, beberapa waktu lalu.

”Draf rencana riset kami merupakan draf dari halaman pertama hingga akhir, jadi semua bagian rencana riset itu dapat diperbaiki, diubah atau diganti dalam diskusi.” Meski tidak disetujui internasional, Jepang memburu paus di Samudera Bagian Selatan dalam pengecualian pada moratorium penangkapan paus global yang mengizinkan untuk riset dengan membunuh paus. Bukan rahasia lagi bahwa faktanya, daging paus yang dibunuh dengan alasan riset itu diproses menjadi makanan.

Mahkamah Internasional yang menjadi pengadilan tertinggi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan pada Maret tahun lalu bahwa riset itu hanya samaran untuk perburuan komersial dan memerintahkan penghentian aktivitas tersebut. Setelah keputusan tersebut, Jepang menyatakan, pihaknya tidak menangkap paus selama musim dingin di Antartika. Tapi, Jepang berkeinginan kembali melakukan ”riset perburuan paus” pada 2015-2016.

Jepang mengajukan rencana baru pada panel pakar dari IWC. Salah satunya, rencana itu mengurangi target penangkapan tahunan menjadi 333 ekor paus dari 900 ekor paus dan membatasi 12 tahun untuk riset. Panel IWC pekan ini menyatakan, tidak ada cukup bukti yang mendukung mengapa paus-paus itu harus dibunuh jika Jepang benar-benar ingin mencari tahu apa yang mereka makan dan berapa umur mereka.

”Saya yakin pakarpakar kami melakukan pekerjaan yang sangat teknis dan ilmiah sesuai harapan. Seperti Anda tahu, sering kali diskusi ilmiah di IWC dapat dilakukan, saya harus katakan secara politik atau emosional karena posisi yang diambil pemerintah,” ujar Morishita. Dia menambahkan, Jepang akan menyusun rencana terbaik sebelum pertemuan komite sains IWC di San Diego bulan depan. ”Kami akan melihat bagaimana itu akan berkembang di komite sains pada Mei,” paparnya.

Jepang meyakini, populasi paus global, khususnya jumlah paus minke, memiliki jumlah yang cukup untuk mengakomodasi penangkapan paus berkelanjutan. Mereka berpendapat, dalam proposal untuk IWC itu bahwa pengetahuan yang diperoleh dari riset dengan membunuh paus itu akan membantu IWC mengalkulasikan level kelestarian untuk perburuan. Riset itu juga akan memberi pengetahuan lebih baik tentang ekosistem laut Antartika.

Syarifudin
(ars)
Berita Terkait
Staf Ahli Mendikdasmen:...
Staf Ahli Mendikdasmen: KOSSMI 2026 Jadi Bukti Pentingnya STEM dan AI untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia
Berebut Superpower Sains
Berebut Superpower Sains
Jokowi Akui Infrastruktur...
Jokowi Akui Infrastruktur Kesehatan dan Pendidikan Buat Daya Saing Indonesia Lemah
Sains yang Nirmakna
Sains yang Nirmakna
Jaring Talenta Bidang...
Jaring Talenta Bidang Sains, Kemendikbud Gelar Kompetisi Sains Nasional 2020
Sains, Wabah dan Agama
Sains, Wabah dan Agama
Berita Terkini
Revisi UU Polri: Batas...
Revisi UU Polri: Batas Usia dan Syarat Anggota Kompolnas Diusulkan Lebih Fleksibel
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
Infografis
Head to Head Irak vs...
Head to Head Irak vs Indonesia, Skuad Garuda Dihantui Rekor Buruk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved