Di mana Sumber Masalah TKI? Ini Jawaban BNP2TKI
Sabtu, 18 April 2015 - 11:00 WIB
Di mana Sumber Masalah TKI? Ini Jawaban BNP2TKI
A
A
A
JAKARTA - Dua tenaga kerja Indonesia (TKI) dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi dalam waktu berdekatan tanpa pemberitahuan kepada pemerintah RI. Lalu di mana masalahnya?
Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid menilai persoalan TKI lebih banyak di bagian hulu.
"Memang masalah TKI 80% masalahnya di hulu, dari Indonesia," kata Nusron dalam diskusi Polemik SindoTrijaya di Hotel Doubletree, Cikini, Jakarta, Sabtu (18/4/2015).
Nusron menjelaskan, dalam perundang-undangan mengenai TKI disebutkan bahwa mereka yang bekerja di negara lain ialah orang-orang yang berkualitas melalui berbagi pelatihan sebelum diberangkatkan.
Lanjut Nusron, banyak TKI yang dikirimkan belum siap untuk diberangkatkan. Sehingga, bukan tidak mungkin menjadi persoalan di lain waktu.
"Karena agennya sudah terima duit. Bagaimana orang, ada kontrak dahulu baru ada pendidikan. Harusnya pendidikan dahulu, lalu dikontrak," terangnya.
Dia juga mengingatkan, perlu adanya psikotes terlebih dahulu sebelum TKI diberangkatkan ke negara tujuan tempat bekerja. Hal ini pun diatur di dalam undang-undang.
"Kasus Karni (TKI dieksekusi mati) itu saya yakin lebih banyak pada aspek psikologis," pungkasnya.
Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid menilai persoalan TKI lebih banyak di bagian hulu.
"Memang masalah TKI 80% masalahnya di hulu, dari Indonesia," kata Nusron dalam diskusi Polemik SindoTrijaya di Hotel Doubletree, Cikini, Jakarta, Sabtu (18/4/2015).
Nusron menjelaskan, dalam perundang-undangan mengenai TKI disebutkan bahwa mereka yang bekerja di negara lain ialah orang-orang yang berkualitas melalui berbagi pelatihan sebelum diberangkatkan.
Lanjut Nusron, banyak TKI yang dikirimkan belum siap untuk diberangkatkan. Sehingga, bukan tidak mungkin menjadi persoalan di lain waktu.
"Karena agennya sudah terima duit. Bagaimana orang, ada kontrak dahulu baru ada pendidikan. Harusnya pendidikan dahulu, lalu dikontrak," terangnya.
Dia juga mengingatkan, perlu adanya psikotes terlebih dahulu sebelum TKI diberangkatkan ke negara tujuan tempat bekerja. Hal ini pun diatur di dalam undang-undang.
"Kasus Karni (TKI dieksekusi mati) itu saya yakin lebih banyak pada aspek psikologis," pungkasnya.
(kri)