Ketua Fraksi Golkar Pesimis Islah Bisa Tercapai
Selasa, 14 April 2015 - 18:39 WIB
Ketua Fraksi Golkar Pesimis Islah Bisa Tercapai
A
A
A
JAKARTA - Proses mediasi antara pengurus Partai Golkar Musyawarah Nasional (Munas) Bali yang dinakhodai Aburizal Bakrie (Ical) selaku penggugat dengan tergugat I pengurus Golkar versi Agung Laksono, berakhir buntu.
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR Ade Komarudin mengatakan, dirinya pesimis islah akan dapat dicapai oleh dua kubu yang berseteru. Alasannya, ada hal prinsip yang tidak dapat dinegosiasikan hingga tercapai titik temu.
"Kalau saya pesimis ya dengan mediasi. Mana mungkin punya Ketum (ketua umum) dua. Islah salah satu langkah bagus, tapi saya pesimis bisa islah," kata Ade Komarudin, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2015).
Ade menilai, langkah mediasi yang direkomendasikan oleh pihak pengadilan sebagai masukan yang positif. Ade melanjutkan, mediasi akan dapat menyelesaikan hal yang bukan prinsipil. Sementara hal prinsip, tidak dapat diganggu gugat.
"Saya pikir itu rekomendasi pengadilan yang cukup baik. Tapi tergantung kepada dua belah pihak, apakah mau ada titik temu atau tidak. Sejak lama memang sudah mau mediasi, tapi tidak tercapai. Terlalu tajam perbedaanya. Mungkin yang lain bisa diselesaikan, tapi mana mungkin ada dua Ketum," ungkap Ade.
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR Ade Komarudin mengatakan, dirinya pesimis islah akan dapat dicapai oleh dua kubu yang berseteru. Alasannya, ada hal prinsip yang tidak dapat dinegosiasikan hingga tercapai titik temu.
"Kalau saya pesimis ya dengan mediasi. Mana mungkin punya Ketum (ketua umum) dua. Islah salah satu langkah bagus, tapi saya pesimis bisa islah," kata Ade Komarudin, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2015).
Ade menilai, langkah mediasi yang direkomendasikan oleh pihak pengadilan sebagai masukan yang positif. Ade melanjutkan, mediasi akan dapat menyelesaikan hal yang bukan prinsipil. Sementara hal prinsip, tidak dapat diganggu gugat.
"Saya pikir itu rekomendasi pengadilan yang cukup baik. Tapi tergantung kepada dua belah pihak, apakah mau ada titik temu atau tidak. Sejak lama memang sudah mau mediasi, tapi tidak tercapai. Terlalu tajam perbedaanya. Mungkin yang lain bisa diselesaikan, tapi mana mungkin ada dua Ketum," ungkap Ade.
(maf)