Cah Angon
Minggu, 22 Maret 2015 - 10:01 WIB
Cah Angon
A
A
A
Khasanah budaya Nusantara mengajarkan risalah kepemimpinan. Salah satu risalah itu dapat kita baca dari spirit cah angon .
Angon merupakan pekerjaan yang menggembirakan. Namun, tak pernah lalai dalam tugas utamanya, yaitu angon. Menggembala ternak merupakan pekerjaan yang mudah. Namun, butuh feeling atau rasa. Artinya, menggembala ternak di ladang yang dekat dengan sawah, tanaman padi, butuh pengawasan ekstra dibandingkan dengan di tanah lapang.
Pasalnya, jika kambing memakan tanaman padi milik petani, itu adalah kesalahan bagi seorang penggembala. Dalam konteks kepemimpinan, cah angon adalah pemimpin yang senantiasa menggembirakan anak buahnya. Ia senantiasa kreatif untuk mencari cara dan kegiatan agar anak buahnya betah berlama-lama dalam naungan organisasi.
Kegiatan itu bukan berasal dari keinginan “mutlak” seorang pemimpin. Namun, berdasarkan rembuk. Dalam rembuk inilah seperangkat aturan main akan yang disepakati. Artinya, semua orang berperan serta di dalamnya. Spirit cah angon selanjutnya adalah kehati-hatian. Hati-hati bukan berarti takut. Namun, bertanggung jawab atas pilihan.
Jika, satu kerja sudah tercapai kesepakatan, maka ia berkewajiban dan bertanggung jawab melaksanakan dengan sepenuh hati. Ia berkewajiban memastikan semua anggota ikut dalam rombongan kerja dan kegiatan. Jika ada yang tidak ikut rombongan, maka kewajiban penanggung jawab kegiatan untuk mencari sampai ketemu dan memastikan bahwa ia turut serta dalam kegiatan itu.
Inilah yang kemudian dalam pepatah Islam disebut sebagai imamulqaumi khadimuhum. Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka. Pelayan adalah “babu”. Babu dalam khasanah budaya Jawa adalah sosok yang sendiko dawuh. Ia adalah pelayan yang baik bagi sang majikan.
Apa saja yang diinginkan oleh majikan, ia akan dengan segera memenuhinya. Sebuah potret kerja ikhlas. Kerja ikhlas merupakan puncak dari kerja keras dan kerja cerdas. Cah angon pada akhirnya merupakan upaya seseorang menjadi pengasuh bagi semua. Ngemong bukan sekadar menggendong atau memastikan seluruh kambing pulang dengan selamat.
Namun, memastikan semuanya dalam keadaan baik dan kenyang. Dalam hal kepemimpinan, seorang pemimpin harus memastikan bahwa anggotanya nyaman dan mendapat sesuatu yang berharga, yang tak ia dapatkan ditempat lain. Saat pemimpin belum mampu mewujudkan hal itu, berarti spirit cah angon belum merasuk pada dirinya.
Itulah fungsi ngemong yang perlu dimengerti oleh seorang pemimpin. Setelah memahami hal itu tugas selanjutnya adalah menjadi pamong praja (pemimpin peradaban, gembala). Gembala dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III adalah penjaga keselamatan orang banyak. Keselamatan dalam bahasa Alquran adalah salah, islah.
Berbuat islah, kebaikan dan keselamatan bagi orang lain merupakan amanat kemanusiaan manusia. Keselamatan bukan hanya dalam bentuk fisik (sehat). Namun, juga kondisi psikis yang memungkinkan seseorang senantiasa bersemangat menapaki hari.
Lao Tzu pernah menyebut, “Dicintai sepenuh hati oleh seseorang, akan memberikan Anda kekuatan. Sementara, mencintai sepenuh hati akan memberi Anda nyali.” Cintalah yang akan menyelamatkan dan menjadi pendulum keselamatan bagi seluruh makhluk. Cinta yang menghadirkan rasa kepemilikan satu sama lain. Cintalah yang menguatkan satu sama lain.
Cintalah yang mengeratkan yang renggang, menguatkan yang telah erat, menumbuhkan yang kering, dan menyuburkan yang layu. Cinta juga yang akan menggerakkan keingintahuan akan banyak hal. Karena, kecintaan yang mendalam kita dapat menangkap keinginan Tuhan dalam proses penciptaan semesta.
Kecintaanlah yang mengantarkan manusia pada rasa kedekatan kepada Sang Khaliq dan segala hasil karya-Nya. Dalam proses kepemimpinan, cinta menjadi hal utama dalam membangun sebuah harapan. Cintalah yang akan menggerakkan seluruh potensi menjadi kekuatan.
Kekuatan inilah yang akan menyuburkan inspirasi. Sedangkan inspirasi, pada gilirannya akan menjadikan sebuah bangsa semakin dinamis. Inilah manifestasi gembala dalam proses kreatif kepemimpinan.
Benni Setiawan
Dosen di Universitas Negeri Yogyakarta, Peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity
Angon merupakan pekerjaan yang menggembirakan. Namun, tak pernah lalai dalam tugas utamanya, yaitu angon. Menggembala ternak merupakan pekerjaan yang mudah. Namun, butuh feeling atau rasa. Artinya, menggembala ternak di ladang yang dekat dengan sawah, tanaman padi, butuh pengawasan ekstra dibandingkan dengan di tanah lapang.
Pasalnya, jika kambing memakan tanaman padi milik petani, itu adalah kesalahan bagi seorang penggembala. Dalam konteks kepemimpinan, cah angon adalah pemimpin yang senantiasa menggembirakan anak buahnya. Ia senantiasa kreatif untuk mencari cara dan kegiatan agar anak buahnya betah berlama-lama dalam naungan organisasi.
Kegiatan itu bukan berasal dari keinginan “mutlak” seorang pemimpin. Namun, berdasarkan rembuk. Dalam rembuk inilah seperangkat aturan main akan yang disepakati. Artinya, semua orang berperan serta di dalamnya. Spirit cah angon selanjutnya adalah kehati-hatian. Hati-hati bukan berarti takut. Namun, bertanggung jawab atas pilihan.
Jika, satu kerja sudah tercapai kesepakatan, maka ia berkewajiban dan bertanggung jawab melaksanakan dengan sepenuh hati. Ia berkewajiban memastikan semua anggota ikut dalam rombongan kerja dan kegiatan. Jika ada yang tidak ikut rombongan, maka kewajiban penanggung jawab kegiatan untuk mencari sampai ketemu dan memastikan bahwa ia turut serta dalam kegiatan itu.
Inilah yang kemudian dalam pepatah Islam disebut sebagai imamulqaumi khadimuhum. Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka. Pelayan adalah “babu”. Babu dalam khasanah budaya Jawa adalah sosok yang sendiko dawuh. Ia adalah pelayan yang baik bagi sang majikan.
Apa saja yang diinginkan oleh majikan, ia akan dengan segera memenuhinya. Sebuah potret kerja ikhlas. Kerja ikhlas merupakan puncak dari kerja keras dan kerja cerdas. Cah angon pada akhirnya merupakan upaya seseorang menjadi pengasuh bagi semua. Ngemong bukan sekadar menggendong atau memastikan seluruh kambing pulang dengan selamat.
Namun, memastikan semuanya dalam keadaan baik dan kenyang. Dalam hal kepemimpinan, seorang pemimpin harus memastikan bahwa anggotanya nyaman dan mendapat sesuatu yang berharga, yang tak ia dapatkan ditempat lain. Saat pemimpin belum mampu mewujudkan hal itu, berarti spirit cah angon belum merasuk pada dirinya.
Itulah fungsi ngemong yang perlu dimengerti oleh seorang pemimpin. Setelah memahami hal itu tugas selanjutnya adalah menjadi pamong praja (pemimpin peradaban, gembala). Gembala dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III adalah penjaga keselamatan orang banyak. Keselamatan dalam bahasa Alquran adalah salah, islah.
Berbuat islah, kebaikan dan keselamatan bagi orang lain merupakan amanat kemanusiaan manusia. Keselamatan bukan hanya dalam bentuk fisik (sehat). Namun, juga kondisi psikis yang memungkinkan seseorang senantiasa bersemangat menapaki hari.
Lao Tzu pernah menyebut, “Dicintai sepenuh hati oleh seseorang, akan memberikan Anda kekuatan. Sementara, mencintai sepenuh hati akan memberi Anda nyali.” Cintalah yang akan menyelamatkan dan menjadi pendulum keselamatan bagi seluruh makhluk. Cinta yang menghadirkan rasa kepemilikan satu sama lain. Cintalah yang menguatkan satu sama lain.
Cintalah yang mengeratkan yang renggang, menguatkan yang telah erat, menumbuhkan yang kering, dan menyuburkan yang layu. Cinta juga yang akan menggerakkan keingintahuan akan banyak hal. Karena, kecintaan yang mendalam kita dapat menangkap keinginan Tuhan dalam proses penciptaan semesta.
Kecintaanlah yang mengantarkan manusia pada rasa kedekatan kepada Sang Khaliq dan segala hasil karya-Nya. Dalam proses kepemimpinan, cinta menjadi hal utama dalam membangun sebuah harapan. Cintalah yang akan menggerakkan seluruh potensi menjadi kekuatan.
Kekuatan inilah yang akan menyuburkan inspirasi. Sedangkan inspirasi, pada gilirannya akan menjadikan sebuah bangsa semakin dinamis. Inilah manifestasi gembala dalam proses kreatif kepemimpinan.
Benni Setiawan
Dosen di Universitas Negeri Yogyakarta, Peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity
(ftr)