Antara Agraris atau Maritim

Rabu, 18 Maret 2015 - 08:49 WIB
Antara Agraris atau...
Antara Agraris atau Maritim
A A A
Dalam pidatonya pada National Maritime Convention tahun 1963, Ir Soekarno mengatakan bahwa untuk membangun Indonesia menjadi negara besar, negara kuat, negara makmur, negara damai yang merupakan national building bagi negara Indonesia, maka negara harus dapat menguasai lautan.

Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa presiden Indonesia telah mengarahkan perhatiannya kepada sisi bahari bangsa. Hal ini dapat bertalian erat apabila dihubungkan dengan sejarah Indonesia di masa lalu. Di masa kejayaan dua kerajaan besar Indonesia, yaitu Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Mataram, sesuai dengan bukti sejarah bahwa keduanya berorientasi pada dunia maritim.

Seiring berjalannya waktu, semua kemudian berubah bahwa kemudian Indonesia berganti menjadi sebuah negara continental oriented . Perubahan ini bisa diindikasikan pada tiga faktor penyebab, antara lain: seruan kerajaan (salah satunya Mataram Islam) kepada penduduknya untuk menjauhi laut dan beralih ke darat, seruan Belanda untuk melakukan wajib tanam paksa bagi penduduk pribumi, dan propaganda yang banyak dilakukan semasa Orde Baru yang mendoktrin bahwa Indonesia merupakan negara agraris.

Dari sini dapat diketahui mengapa Indonesia berubah haluan dari negara maritim menjadi negara agraris. Sebagai negara yang menyandang predikat sebagai negara agraris, terdapat suatu pertanyaan apakah sebutan tersebut layak disandang oleh Indonesia. Pasalnya, menjadi hal yang sangat dilematis ketika sebagai negara agraris, Indonesia mengimpor sebagian hasil pertaniannya.

Dengan keadaan ini tentunya akan berimbas pada sisi ekonomi Indonesia, dengan hasil impor maka harga yang dipasarkan kemudian menjadi tinggi dan cukup membuat masyarakat berada dalam kesulitan dalam mendapatkan hasil pertanian. Dari 1.992.570 kilometer luas daratan di Indonesia, lahan pertanian tidak sampai menyentuh setengah dari luas daratan tersebut.

Dari tahun ke tahun, Indonesia jumlah tersebut terus berkurang. Ironisnya, hampir sebagian masyarakat Indonesia saat ini menjadi tidak berorientasi pada dunia pertanian. Perkembangan zaman yang semakin modern menjadikan manusia menjadi enggan untuk mengurus tanah. Pekerjaan sebagai petani dianggap pekerjaan rendahan yang tidak memiliki derajat tinggi.

Berangkat dari beberapa realita tersebut, Indonesia sebagai negara maritim yang jaya di masa lalu kemudian berubah menjadi negara yang lebih berorientasi pada sisi agraris, kini mulai juga mengalami pergeseran ke arah yang kurang jelas. Indonesia sebagai negara agraris ataukah negara maritim.

Nesia Qurrota A’yuni
Mahasiswi Jurusan Ilmu Sejarah; Kepala Departemen Penulisan Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya Universitas Indonesia
(ftr)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Pakar Hukum Tegaskan...
Pakar Hukum Tegaskan Karya Jurnalistik Tak Bisa Dijadikan Barang Bukti Persidangan Dokter Tifa
Di Rakernas APEKSI,...
Di Rakernas APEKSI, Menko AHY: Wali Kota Adalah Duta Terbaik untuk Tarik Investasi dan Layani Rakyat Perkotaan
KPK Tahan Tersangka...
KPK Tahan Tersangka Kasus Suap Audit BPK di Muara Enim
1 Abad Kelahiran Rahmi...
1 Abad Kelahiran Rahmi Hatta Momen Refleksi Nilai Keteladanan bagi Generasi Muda
Menhut Raja Juli Bakal...
Menhut Raja Juli Bakal Kooperatif soal Pengusutan Kasus Bupati Kuansing
Presiden Lukashenko...
Presiden Lukashenko Sebut Indonesia Mitra Penting Belarus di Asia Tenggara
Infografis
Makan Daging Kambing...
Makan Daging Kambing Menyebabkan Darah Tinggi, Mitos Atau Fakta?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved