Indonesia, Negara Agraris Tak Sadar Pertanian

Senin, 16 Maret 2015 - 12:28 WIB
Indonesia, Negara Agraris...
Indonesia, Negara Agraris Tak Sadar Pertanian
A A A
Indonesia merupakan negara agraris, namun kesadaran pentingnya pertanian di atas negeri agraris ini masih dikesampingkan.

Terkesampingkannya pertanian ini yang terkadang membuat rakyat agraris kurang pangan di negerinya sendiri. Lantas, apa pentingnya pertanian dan hubungannya dengan masalah agraria? Pertanian sendiri memiliki pengertian yang luas.

Pertanian tidak hanya seperti yang kita kenal dengan mencangkul lahan untuk menanam berbagai jenis padi-padian, buah, sayur, kapas dan lain sebagainya. Perikanan, peternakan, kehutanan, dan beberapa bidang lain menjadi satu pada pertanian dalam arti luas.

Beberapa waktu lalu harga beras melambung tinggi. Harga beras di daerah Pati, Jawa Tengah, mencapai 11.000 rupiah, di daerah lain bahkan lebih tinggi. Padahal, beras adalah salah satu target komoditas swasembada pemerintah tiga tahun ke depan. Kesadaran pertanian oleh masyarakat dan pemerintah menjadi salah satu penyebabnya.

Kesadaran masyarakat konsumsi pangan dalam negeri dan kesadaran pemerintah melakukan perannya. Berdasarkan data Sensus BPS 2013, rumah tangga pertanian pengguna lahan pertanian di Indonesia sekitar 17,7 juta rumah tangga, menurun dari tahun 2003.

Penurunan ini menjadi perhatian ketika jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum pada subsektor pangan sebesar 28,74% dari sensus pertanian subsektor tanaman pangan tahun 2003 (BPS 2013). Lantas dari mana bahan baku pengolahan perusahaan pertanian pangan ini kalau produksi lokal tidak memenuhi? Lagi- lagi langkah impor yang dihampiri.

Beberapa lembaga dan organisasi yang melakukan kajian agraria seperti Sajogyo Institut, Institut Pertanian Bogor, BEM- Seluruh Indonesia, dan lembaga lain telah melakukan aksinya. Namun kendala yang dihadapi selalu berujung pada kebijakan yang telah ada.

Perlu peningkatan hubungan antara inovator pertanian dan pemerintah sehingga lahan yang semakin sempit tidak menjadi kendala ketika komoditas dengan produktivitas tinggi dihasilkan.

Ironis memang jika kita hidup di negara agraris namun pangan mahal, masih tergantung impor, kejelasan mana lahan pertanian, mana milik perkebunan belum dicek ulang. Data harus dipastikan sesuai dengan kondisi lapang. Data menyebutkan, luasan lahan hutan konservasi, ketika dicek haruslah sama.

Pengecekan ulang data lahan ini sebagai langkah awal sebelum menuju reformasi agraria di negeri ini. Reformasi agraria yang bukan gagal, hanya tak terselesaikan. Sebab, pertanian tak akan lepas dengan lahan.

Henny Kristikasari
Mahasiswi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor
(ftr)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Perludem Usulkan MMP,...
Perludem Usulkan MMP, Partai Perindo Sebut Jadi Alternatif Solutif Reformasi Pemilu
Kepala BGN Sudaryono:...
Kepala BGN Sudaryono: Kami Bukan Superman, Siap Terima Masukan
Dirjen Imigrasi Sebut...
Dirjen Imigrasi Sebut Pencekalan Febrie Adriansyah Masih Berlaku
Yusril Tegaskan Abdul...
Yusril Tegaskan Abdul Karim Bukan Ulama dan Aktivis Kemanusiaan Gaza
Soal Peluang Periksa...
Soal Peluang Periksa Nanik S Deyang di Kasus MBG, Kejagung: Minggu Ini Belum Ada Jadwal
Yusril Berkunjung ke...
Yusril Berkunjung ke MUI Malam Ini, Jelaskan Penangkapan WNA Palestina Abdul Karim Raeq Miqdad
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved