Belajar dari Petani Negeri Agraris

Sabtu, 07 Maret 2015 - 09:35 WIB
Belajar dari Petani...
Belajar dari Petani Negeri Agraris
A A A
Sitti Ghaliyah
Mahasiswi Jurusan Fisika FMIPA. Universitas Negeri Jakarta


Sebagai bangsa yang besar dengan karunia alam yang subur dan tradisi agraris yang sudah sedemikian mengakar di masyarakat, Indonesia seharusnya bisa menjadi kawasan yang mampu mengekspor berbagai produk pertanian.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Beberapa tahun belakangan ini Indonesia malah menjadi salah satu negara pengimpor yang cukup besar pada beberapa produk pertanian yang seharusnya bisa dibudidayakan sendiri.

Situasi ini tentu saja cukup ironis dan harus dibalikkan. Jangankan bicara ekspor, untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional secara mandiri (swasembada) saja kita masih kesulitan. Bangsa ini menyandang predikat negara agraris, tetapi pemerintahnya punya hobi impor segala jenis pangan untuk kebutuhan dalam negeri.

Ada apa dengan negeri agraris ini? Padahal Indonesia memiliki semua persyaratan untuk menjadi sebuah negara agraris yang menjadi lumbung pangan utama dunia. Sayangnya dalam skenario besar ini, sosok petani sebagai pelaku utama proses produksi pangan hanya samar terlihat. Posisi petani hanya ditempatkan sebagai pihak yang perlu diperhatikan dan difasilitasi, tetapi tidak berpeluang untuk ikut mewarnai arah kebijakan pertanian.

Fakta pendidikan formal petani yang kebanyakan tidak tamat SD, bahkan banyak yang buta huruf, sering dijadikanjustifikasibahwapetanitidakperludilibatkanuntuk membuat kebijakan-kebijakan di sektor pertanian. Sesungguhnya, jenjang pendidikan formal bukanlah alat ukur yang pas untuk menilai pengetahuan dan keterampilan dalam proses produksi pangan. Petaniyangtelahberpengalaman dalam budi daya tidak mungkin kalah kinerjanya dibandingkan dengan individu dengan pendidikan formal yang lebih tinggi tetapi belum pernah menginjakkan kakinya dilumpur sawah.

Kearifan lokal akan lebih jitu dibandingkan dengan pengetahuan universal yang cenderung menjadi warna utama pendidikan formal. Petani sebagai aktor kunci keberhasilan ketahanan pangan ternyata masih menjadi anak tiri di negeri agraris ini. Keberpihakan pemerintah kepada petani hanya ”setengah hati”.

Petani tidak pernah mendapat dukungan, bantuan, dan perlindungan yang berarti. Pemerintah sudah merasa yakin dengan menjalankan kebijakan-kebijakannya tanpa mau belajar dari petani agraris kita ini. Sudah waktunya bagi para pihak terkait menyiapkan diri untuk belajar dari petani agraris kita.

Pertanyaan saat ini, apakah pemerintah mau mendengarkan dan belajar dari petani? Jika benar telah belajar dari petani dan kebijakan yang digariskan telah propetani, indikator keberhasilannya adalah kebijakan yang dihasilkan sangat berkesesuaian untuk menjadi solusi atas masalah aktual yang dihadapi petani.
(ars)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Libatkan Publik Pilih...
Libatkan Publik Pilih Logo HUT ke-81 RI, Mensesneg: Simbol Kebangsaan Milik Bersama
Boni Hargens Sebut Presisi...
Boni Hargens Sebut Presisi Jadi Fondasi Transformasi Menyeluruh di Tubuh Polri
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Didakwa Terima Suap Uang dan Rumah, Total Rp4,8 M
Menkes Ungkap Ada Gap...
Menkes Ungkap Ada Gap Tinggi Penghasilan Dokter Spesialis: di Bone Rp3 Juta, di Mahakam Ulu Rp80 Juta
Istri Gus Yaqut Apresiasi...
Istri Gus Yaqut Apresiasi KPK Bantarkan Suaminya
Projo Ungkap Pesan Jokowi...
Projo Ungkap Pesan Jokowi di Kasus Roy Suryo dan Dokter Tifa, Apa Itu?
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved