Teror di Kopenhagen, Dua Orang Tewas
Senin, 16 Februari 2015 - 09:49 WIB
Teror di Kopenhagen, Dua Orang Tewas
A
A
A
KOPENHAGEN - Dua warga sipil tewas dan lima polisi terluka dalam serangan yang terjadi pada Sabtu (14/2) malam di Kopenhagen, Denmark. Kemarin polisi berhasil menembak mati pria yang dipercaya sebagai pelaku serangan mematikan tersebut.
Serangan di kawasan Norrebro tersebut terjadi di tengah acara debat mengenai Islam dan kebebasan berbicara di Pusat Kebudayaan Krudttonden. Acara debat yang semula berjalan lancar mendadak berubah menjadi tragedi setelah seorang pria tiba-tiba mengeluarkan tembakkan ke dalam area diskusi tersebut.
Seorang pria berusia 55 tahun tewas di tempat kejadian dan tiga polisi luka-luka. Penembak yang mengenakan polo Volkswagen hitam itu kemudian melarikan diri dengan mobil menuju Jalan Krystalgade yang berjarak sekitar 5 km dari Krudttonden. Di sana dia kembali menembak mati seorang pria Yahudi di bagian kepala dan dua polisi mengalami luka-luka di lengan dan kaki.
Kepolisian Denmark langsung melakukan perburuan besar-besaran dengan menggunakan helikopter dan kendaraan lapis baja. Pukul 05.00 pagi waktu setempat polisi melepaskan tembakan dan mengonfirmasi telah menembak mati seorang pria di Distrik Norrebro, sebuah daerah di Kopenhagen yang tidak jauh dari dua lokasi terjadinya penyerangan. ”Pelaku kedua insiden tersebut adalah orang sama yang ditembak polisi,” terang Inspektur Kepala Polisi Torben MolGaard, dilansir Reuters.
Hingga saat ini polisi masih melakukan penyelidikan lanjutan terkait motif dari penembakan tersebut, sementara Perdana Menteri Denmark Helle Thorning-Schmidt meyakini bahwa serangan tersebut bermotif politik dengan target serangan mengarah pada Lars Vilks, kartunis asal Swedia yang menggambar kartun Nabi Muhammad SAW.
”Kami merasa yakin bahwa ini adalah serangan bermotif politik, dengan begitu kami pun yakin ini merupakan salah satu bagian dari aksi terorisme,” jelas Schmidt. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Bernadette Mehan sudah menghubungi stafnya di Denmark untuk membantu penyelidikan. Denmark pun mengaku belajar banyak dalam kasus ini termasuk dalam masalah pengetatan keamanan.
Terpisah, PemerintahAustralia mulai mengambil tindakan keras untuk mengontrol perbatasan sebagai langkah pencegahan terhadap serangan teroris. Perdana Menteri Australia Tony Abbott menegaskan, pihaknya tidak ingin ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kebebasan dari Pemerintah Australia untuk tujuan terorisme. Bukti keseriusan Australia tentang kebijakan ini sudah ditunjukkan dengan menangkap dua imigran Australia yang diduga terlibat dalam pembuatan video ISIS.
Australia memang memberikan keadilan bagi semua orang namun tidak untuk teroris. ”Sebagai negara kami tidak akan membiarkan orangorang jahat mengeksploitasi kebebasan kita. Pengadilan telah memberikan jaminan bahwa pelaku kejahatan sudah seharusnya dipenjara,” ujar Abbott.
Jika Australia memilih meningkatkan keamanan domestik untuk menjaga negaranya dari aksi terorisme, langkah berbeda diambil pemerintah Jepang dalam memerangi terorisme. Jepang memilih untuk menambah dana bantuan guna memerangi terorisme di Timur Tengah dan Afrika. Pembunuhan dua warga negara Jepang oleh ekstremis ISIS belum lama ini menyadarkan Jepang betapa pentingnya menghapus terorisme.
Jepang pun telah menawarkan tambahan dana mencapai USD15 juta atau sekitar Rp190 miliar. Bantuan segar ini merupakan tekad Jepang untuk tidak menyerah pada terorisme. Dana tersebut akan disalurkan ke berbagai organisasi internasional untuk selanjutnya didistribusikan ke daerah-daerah yang terkena dampak perang terutama mereka yang menjadi korban ISIS.
”Jepang akan membantu mengekang ancaman kaum ekstremis dan memberikan bantuan kepada negaranegara yang bersedia berperang dengan para ekstremis,” bunyi laporanSankei Shimbun.
Rini agustina
Serangan di kawasan Norrebro tersebut terjadi di tengah acara debat mengenai Islam dan kebebasan berbicara di Pusat Kebudayaan Krudttonden. Acara debat yang semula berjalan lancar mendadak berubah menjadi tragedi setelah seorang pria tiba-tiba mengeluarkan tembakkan ke dalam area diskusi tersebut.
Seorang pria berusia 55 tahun tewas di tempat kejadian dan tiga polisi luka-luka. Penembak yang mengenakan polo Volkswagen hitam itu kemudian melarikan diri dengan mobil menuju Jalan Krystalgade yang berjarak sekitar 5 km dari Krudttonden. Di sana dia kembali menembak mati seorang pria Yahudi di bagian kepala dan dua polisi mengalami luka-luka di lengan dan kaki.
Kepolisian Denmark langsung melakukan perburuan besar-besaran dengan menggunakan helikopter dan kendaraan lapis baja. Pukul 05.00 pagi waktu setempat polisi melepaskan tembakan dan mengonfirmasi telah menembak mati seorang pria di Distrik Norrebro, sebuah daerah di Kopenhagen yang tidak jauh dari dua lokasi terjadinya penyerangan. ”Pelaku kedua insiden tersebut adalah orang sama yang ditembak polisi,” terang Inspektur Kepala Polisi Torben MolGaard, dilansir Reuters.
Hingga saat ini polisi masih melakukan penyelidikan lanjutan terkait motif dari penembakan tersebut, sementara Perdana Menteri Denmark Helle Thorning-Schmidt meyakini bahwa serangan tersebut bermotif politik dengan target serangan mengarah pada Lars Vilks, kartunis asal Swedia yang menggambar kartun Nabi Muhammad SAW.
”Kami merasa yakin bahwa ini adalah serangan bermotif politik, dengan begitu kami pun yakin ini merupakan salah satu bagian dari aksi terorisme,” jelas Schmidt. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Bernadette Mehan sudah menghubungi stafnya di Denmark untuk membantu penyelidikan. Denmark pun mengaku belajar banyak dalam kasus ini termasuk dalam masalah pengetatan keamanan.
Terpisah, PemerintahAustralia mulai mengambil tindakan keras untuk mengontrol perbatasan sebagai langkah pencegahan terhadap serangan teroris. Perdana Menteri Australia Tony Abbott menegaskan, pihaknya tidak ingin ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kebebasan dari Pemerintah Australia untuk tujuan terorisme. Bukti keseriusan Australia tentang kebijakan ini sudah ditunjukkan dengan menangkap dua imigran Australia yang diduga terlibat dalam pembuatan video ISIS.
Australia memang memberikan keadilan bagi semua orang namun tidak untuk teroris. ”Sebagai negara kami tidak akan membiarkan orangorang jahat mengeksploitasi kebebasan kita. Pengadilan telah memberikan jaminan bahwa pelaku kejahatan sudah seharusnya dipenjara,” ujar Abbott.
Jika Australia memilih meningkatkan keamanan domestik untuk menjaga negaranya dari aksi terorisme, langkah berbeda diambil pemerintah Jepang dalam memerangi terorisme. Jepang memilih untuk menambah dana bantuan guna memerangi terorisme di Timur Tengah dan Afrika. Pembunuhan dua warga negara Jepang oleh ekstremis ISIS belum lama ini menyadarkan Jepang betapa pentingnya menghapus terorisme.
Jepang pun telah menawarkan tambahan dana mencapai USD15 juta atau sekitar Rp190 miliar. Bantuan segar ini merupakan tekad Jepang untuk tidak menyerah pada terorisme. Dana tersebut akan disalurkan ke berbagai organisasi internasional untuk selanjutnya didistribusikan ke daerah-daerah yang terkena dampak perang terutama mereka yang menjadi korban ISIS.
”Jepang akan membantu mengekang ancaman kaum ekstremis dan memberikan bantuan kepada negaranegara yang bersedia berperang dengan para ekstremis,” bunyi laporanSankei Shimbun.
Rini agustina
(ars)