Punya Blok Politik Permudah Uji Kelayakan di DPR
Kamis, 12 Februari 2015 - 15:24 WIB
Punya Blok Politik Permudah Uji Kelayakan di DPR
A
A
A
JAKARTA - Fit and proper test atau uji kelayakan di DPR punya peran penting dalam mengisi pimpinan lembaga negara. Saat itulah DPR menguji calon tertentu untuk menentukan lolos atau tidaknya seseorang.
Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti mengatakan, untuk lolos uji kelayakan di DPR sangat mudah jika mempunyai blok politik dengan anggota DPR.
"Untuk lolos uji kelayakan di DPR tidak sulit dan tidak gampang. Tidak sulit kalau punya blok politik tertentu, bisa dibangun cepat atau bisa dibangun lama," kata Ray dalam diskusi di Kantor Formappi, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (12/2/2015).
Jika mau instan, maka harus melakukan lobi politik terhadap anggota DPR. Ray menceritakan saat dirinya mengikuti uji kelayakan sebagai anggota Bawaslu, bahkan dianggap sombong lantaran tidak melakukan lobi.
"Saya ditelepon teman yang jadi DPR, kok sombong sekali Ray, enggak lobi kita, fit and proper test soal kemampuan, tidak melobi dianggap sebagai keangkuhan," cerita Ray.
Ray menjelaskan 'transaksi' politik di DPR sangat bermacam-macam, pasalnya bisa mendapat dukungan sesuai dengan visi misi tapi ada juga karena alasan pragmatis. Tapi ada juga mendapat dukungan karena berlatang belakang organisasi.
"Ada ikatan emosional. Saat uji kelayakan ditanya, basis organisasi apa ini waktu mahasiswa, itu cukup ampuh dalam fit and proper test," ucap Ray.
Namun Ray menyayangkan rekam jejak tidak menjadi isu utama saat melakukan uji kelayakan. Dia mencontohkan DPR yang masih meloloskan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai calon Kapolri padahal sudah berstatus tersangka.
"Isu utama bukan bersih atau tidak, kita sudah menebak siapa yang akan menang," tegas Ray.
Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti mengatakan, untuk lolos uji kelayakan di DPR sangat mudah jika mempunyai blok politik dengan anggota DPR.
"Untuk lolos uji kelayakan di DPR tidak sulit dan tidak gampang. Tidak sulit kalau punya blok politik tertentu, bisa dibangun cepat atau bisa dibangun lama," kata Ray dalam diskusi di Kantor Formappi, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (12/2/2015).
Jika mau instan, maka harus melakukan lobi politik terhadap anggota DPR. Ray menceritakan saat dirinya mengikuti uji kelayakan sebagai anggota Bawaslu, bahkan dianggap sombong lantaran tidak melakukan lobi.
"Saya ditelepon teman yang jadi DPR, kok sombong sekali Ray, enggak lobi kita, fit and proper test soal kemampuan, tidak melobi dianggap sebagai keangkuhan," cerita Ray.
Ray menjelaskan 'transaksi' politik di DPR sangat bermacam-macam, pasalnya bisa mendapat dukungan sesuai dengan visi misi tapi ada juga karena alasan pragmatis. Tapi ada juga mendapat dukungan karena berlatang belakang organisasi.
"Ada ikatan emosional. Saat uji kelayakan ditanya, basis organisasi apa ini waktu mahasiswa, itu cukup ampuh dalam fit and proper test," ucap Ray.
Namun Ray menyayangkan rekam jejak tidak menjadi isu utama saat melakukan uji kelayakan. Dia mencontohkan DPR yang masih meloloskan Komjen Pol Budi Gunawan sebagai calon Kapolri padahal sudah berstatus tersangka.
"Isu utama bukan bersih atau tidak, kita sudah menebak siapa yang akan menang," tegas Ray.
(maf)