Jika Berpeluang Menang, Jokowi Diprediksi Maju
Rabu, 31 Desember 2014 - 10:05 WIB
Jika Berpeluang Menang, Jokowi Diprediksi Maju
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemungkinan dihadapkan pada situasi dilema saat menghadapi momentum pemilihan ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada kongres 2015 nanti.
Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yuda mengatakan, jika Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai ketua umum, dia akan membenarkan persepsi publik selama ini bahwa dia hanya boneka dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Di sisi lain, kalau dia maju, kendalanya adalah Jokowi tersandera dengan janji sendiri untuk tidak merangkap jabatan.
Dua situasi ini, kata Hanta, yang akan membuat Jokowi berada dalam situasi sulit. “Bayangkan kalau Jokowi bertarung dia akan dihabisi, tidak ikut bertarung dia juga akan dihabisi. Itu terjadi karena Jokowi membuat janji tanpa melihat realitas politik,” ujar Hanta pada diskusi Outlook Politik 2015 bersama jajaran redaksi MNC Media di MNC Tower, Jakarta, kemarin.
Di sisi lain, jika Jokowi tidak tampil memimpin partai, posisinya sebagai presiden akan seterusnya lemah dan sangat rentan untuk diintervensi parpol pengusungnya. Kondisi yang dialami Jokowi ini jauh berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya.
Hanta mencontohkan BJ Habibie yang waktu itu punya cukup dukungan dari Partai Golkar, begitu pun dengan Gus Dur yang didukung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Megawati yang didukung PDIP, dan SBY yang didukung Partai Demokrat.
“Sedangkan Jokowi ini bukan siapa-siapa di PDIP. Makanya, saya melihat ada kemungkinan jika Jokowi merasa punya peluang untuk menang melawan Mega, dia akan maju. Tapi kalau tidak ada peluang dia tidak akan berani maju. Kalau Jokowi maju, pasti akan ramai,” papar Hanta.
Mengenai pergantian ketua umum sejumlah partai politik di 2015, Hanta melihat relatif akan aman tanpa dinamika berarti. Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Gerindra merupakan partai yang ditentukan oleh figur. Berbeda dengan PPP dan Golkar yang sangat dipengaruhi dinamika internalnya sehingga konflik bisa terjadi.
Di tempat yang sama, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro memprediksi munas atau kongres parpol pada 2015 akan berlangsung senyap jika figur lama tetap mendominasi, terlebih jika terjadi aklamasi untuk ketua umum lama yang meniadakan kompetisi.
Khoirul muzakki
Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yuda mengatakan, jika Jokowi tidak mencalonkan diri sebagai ketua umum, dia akan membenarkan persepsi publik selama ini bahwa dia hanya boneka dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Di sisi lain, kalau dia maju, kendalanya adalah Jokowi tersandera dengan janji sendiri untuk tidak merangkap jabatan.
Dua situasi ini, kata Hanta, yang akan membuat Jokowi berada dalam situasi sulit. “Bayangkan kalau Jokowi bertarung dia akan dihabisi, tidak ikut bertarung dia juga akan dihabisi. Itu terjadi karena Jokowi membuat janji tanpa melihat realitas politik,” ujar Hanta pada diskusi Outlook Politik 2015 bersama jajaran redaksi MNC Media di MNC Tower, Jakarta, kemarin.
Di sisi lain, jika Jokowi tidak tampil memimpin partai, posisinya sebagai presiden akan seterusnya lemah dan sangat rentan untuk diintervensi parpol pengusungnya. Kondisi yang dialami Jokowi ini jauh berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya.
Hanta mencontohkan BJ Habibie yang waktu itu punya cukup dukungan dari Partai Golkar, begitu pun dengan Gus Dur yang didukung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Megawati yang didukung PDIP, dan SBY yang didukung Partai Demokrat.
“Sedangkan Jokowi ini bukan siapa-siapa di PDIP. Makanya, saya melihat ada kemungkinan jika Jokowi merasa punya peluang untuk menang melawan Mega, dia akan maju. Tapi kalau tidak ada peluang dia tidak akan berani maju. Kalau Jokowi maju, pasti akan ramai,” papar Hanta.
Mengenai pergantian ketua umum sejumlah partai politik di 2015, Hanta melihat relatif akan aman tanpa dinamika berarti. Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Gerindra merupakan partai yang ditentukan oleh figur. Berbeda dengan PPP dan Golkar yang sangat dipengaruhi dinamika internalnya sehingga konflik bisa terjadi.
Di tempat yang sama, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro memprediksi munas atau kongres parpol pada 2015 akan berlangsung senyap jika figur lama tetap mendominasi, terlebih jika terjadi aklamasi untuk ketua umum lama yang meniadakan kompetisi.
Khoirul muzakki
(bbg)