Perempuan Pakistan Tetap Bekerja meski Upah Minim

Rabu, 10 Desember 2014 - 16:26 WIB
Perempuan Pakistan Tetap...
Perempuan Pakistan Tetap Bekerja meski Upah Minim
A A A
Pakistan adalah salah satu negara yang kurang menghargai kesetaraan gender. Di negara berpenduduk 196 juta lebih ini, perempuan begitu direndahkan dengan menerima pendidikan dan upah yang lebih rendah dibanding laki-laki.

Zeema Khatoon adalah contoh kasus. Ibu lima anak menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan bekerja di ladang kapas. Dia bekerja selama berjam-jam di ladang kapas pedesaan Provinsi Sindh, tenggara Pakistan. Jaraknya 225 kilometer dari tempat tinggalnya di Desa Meeran Pur, utara Ibu Kota Karachi. Khatoon rela berjemur di bawah panasnya terik matahari hanya demi upah USD2 per hari atau sekitar Rp24.000.

Upah ini jauh lebih kecil dibanding yang ia dapat pada tahun lalu. Selama tahun 2013, Khatoon bersama sekelompok wanita lainnya mengaku bisa membawa pulang dua kali lipat dari pendapatan tahun ini sebesar USD3,5 atau sekitar Rp46.000. Kendati upahnya merosot tajam, Khatoon mengaku tetap harus menjalani pekerjaan kasar ini demi menghidupi keluarganya.

Khatoon bersama puluhan perempuan lainnya yang berada di ladang kapas tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk bekerja di perusahaan bergaji tinggi. Khatoon dan puluhan pekerja lainnya adalah perempuan miskin yang dipinggirkan. Nahasnya para perempuan miskin yang buta huruf itu selain mendapatkan upah sangat kecil, juga kerap ditikung oleh para bosnya.

Karena kemampuan menghitung Khatoon dkk sangat rendah, para bos kerap menipu dengan memotong gaji Khatoon. Hal itu baru diketahui Khatoon ketika ia mulai belajar menghitung dari anaknya yang bersekolah. Selain itu, para pekerja pengambil kapas yang mayoritas masih berusia remaja ini juga kerap menjadi sasaran pelecehan seksual dari para bos.

Dari setengah juta pekerja ladang kapas, hampir semuanya mengalami kejahatan dari majikannya. Untuk menghindari segala bentuk kejahatan dari para bos, Khatoon dan teman-temannya membentuk sebuah serikat kerja. Serikat ini akan membantu para anggotanya yang diperlakukan semena-mena. Serikat ini terbentuk atas dukungan para aktivis buruh.

Para buruh perempuan miskin ini diajari untuk melakukan tawar menawar gaji sebelum bekerja agar tidak dibodohi oleh pemilik usaha. ”Kita semua bersama memutuskan untuk menolak bekerja dengan upah rendah,” ujar Khatoon. Sekitar 74% perempuan muda Pakistan yang bekerja di ladang kapas memiliki pendapatan rendah dengan perlindungan terbatas.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh World Economic Forum, Pakistan adalah negara terburuk kedua di dunia dalam kesetaraan gender setelah Yaman, dengan upah pertanian perempuan jatuh ke rata-rata USD1,46 per hari atau sekitar Rp16.000 per/hari pada 2012 dari sekitar USD1,68 (Rp18.000) pada 2007.

Rini agustina
(bbg)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Netanyahu Sebut Akan...
Netanyahu Sebut Akan Caplok 30% Wilayah Tepi Barat ke Israel
Masjid Al-Aqsa Kembali...
Masjid Al-Aqsa Kembali Dibuka Setelah Hampir 3 Bulan Ditutup
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
Kelakar Jenderal Sigit:...
Kelakar Jenderal Sigit: Selesai Jadi Kapolri, Saya Gantian Jadi Aktivis
Prabowo Dinilai Mampu...
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
5 Berita Hukum Pekan...
5 Berita Hukum Pekan Ini: Dadan Hindayana dan Silmy Karim Tersangka Korupsi, Noel Divonis 4,5 Tahun Penjara
Tata Kelola Saja Tidak...
Tata Kelola Saja Tidak Cukup, Gus Mashum: NU juga Butuh Tata Krama
DPR Tunggu Hasil Pembahasan...
DPR Tunggu Hasil Pembahasan Tim Perumus Buruh dan Apindo untuk RUU Ciptaker
Dasco Sebut Satgas Mulai...
Dasco Sebut Satgas Mulai Gelar Rapat Antisipasi Gelombang PHK Pekan Depan
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved