Ini Curhat SBY Soal Reformasi

Rabu, 10 Desember 2014 - 13:59 WIB
Ini Curhat SBY Soal...
Ini Curhat SBY Soal Reformasi
A A A
JAKARTA - Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memaparkan pandangannya tentang pengalamannya mengawal reformasi.

Hal itu disampaikan SBY di hadapan mahasiswa dan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (10/12/2014).

Dalam kuliah umumnya, SBY menyatakan proses reformasi menjadi agenda wajib bagi pemerintah.

Menurut dia, proses mengawal reformasi sudah dijalankannya selama 10 tahun di pemerintahan.

"Saya tidak mungkin cerita semua karena bisa seminggu di ruangan ini. Saya akan pilih yang esensial dan fundamental," kata SBY yang disambut tawa peserta kuliah umum.

Dia mengaku kiliah umum di UIN merupakan kali pertama setelah dirinya tidak lagi menjadi presiden.

"Terus terang ini kuliah umum pertama saya, setelah 20 oktober 2014," katanya.

Ketua Umum DPP Partai Demokrat ini bercerita soal proses panjang reformasi. Dia menganggap reformasi sebagai takdir sejarah yang niscaya dirasakan semua elemen masyarakat untuk mendapatkan hak demokrasinya.

"Karena waktu itu, aspirasi dan gerakan perubahan itu tersumbat. Tak ada jalan, tak ada ruang. Karena saat itu kita menganut sistem otoratirasian dan Indonesia alami krisis yang dahsyat," tuturnya.

Menurut dia, ada 10 hal yang mejadi dasar SBY mengganggap reformasi sebagai sesuatu yang hrus dilakukan.

1.Kekuasaan yang relatif absolut, lama, dan bahkan eksesif.
2. Demokrasi yang lemah, dan kurang untuk menyampaikan kebebasan, dan ekspresi.
3. Konsentrasi kekuasaan yang terpusat. Terlalu sentralistik.
4. Eksekutif yang terlalu kuat, dan legislatif yag terlalu lemah. Sehingga tidak terjadi check and balances secara kokoh.
5. Peran militer di politik yang dirasakan berlebihan dan eksesif.
6. Dominasi parpol pemerintah, saat itu terlalu dominan dan tak adil untuk parpol lain.
7. pemilu yang jauh dari free and fair election.

"Bahkan, banyak negara sahabat yang berseloroh di Indonesia pemilu belum dilakukan, tapi hasilnya sudah tahu," kata SBY.

8. Lemahnya pemberatassan korupsi, dan membuat seolah-olah negara permisif.
9. Domiasi bisnis dari kalangan tertentu terutama yang dekat dengan kekuasaan.
10. Cara penegakan stabilitas dan keamanan yang represif dan eksesif.
(dam)
Berita Terkait
AHY Ngaku Tak Mudah...
AHY Ngaku Tak Mudah Sandang Nama Besar Yudhoyono: Kadang Ingin Protes
Demokrat Sedang Panas,...
Demokrat Sedang Panas, SBY Bertemu Dubes Uni Eropa
SBY Ajak Penonton Pestapora...
SBY Ajak Penonton Pestapora 2024 Nyanyi Lagu Pelangi di Matamu
SBY Jadi Magnet Penonton...
SBY Jadi Magnet Penonton Pestapora 2024 Hari Pertama
SBY Duet Bareng Yuni...
SBY Duet Bareng Yuni Shara, hingga Sandy Sondoro di Pestapora 2024
Tampil di Pestapora...
Tampil di Pestapora 2024 Hari Pertama, SBY: Masih Ingat Aku?
Berita Terkini
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Jejak Uang Rp366,7 Miliar...
Jejak Uang Rp366,7 Miliar ke Pegawai Imipas Bongkar Dugaan Pemerasan oleh Silmy Karim
Kejagung Tak Sita Motor...
Kejagung Tak Sita Motor Listrik Kasus Dugaan Korupsi di Badan Gizi Nasional, Ini Alasannya
Dadan Hindayana Cs Korupsi...
Dadan Hindayana Cs Korupsi Tata Kelola MBG, Noel: Memprihatinkan
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved