Pembangunan Ekonomi Berbasis Kewilayahan

Kamis, 20 November 2014 - 12:52 WIB
Pembangunan Ekonomi...
Pembangunan Ekonomi Berbasis Kewilayahan
A A A
BENY DWICANDRA KURNIAWAN
Mahasiswa Jurusan Pembangunan dan Pemberdayaan
Fakultas Politik Pemerintahan,
IPDN Bandung

Indonesia memiliki 34 provinsi dan 17.000 lebih pulau yang beraneka ragam budaya dan potensi daerah. Ini cakupan wilayah yang amat luas dan memerlukan pendekatan yang tepat dalam pembangunan ekonomi.

Pernah ada konsep pertumbuhan ekonomi dengan mendirikan pusat industri di sejumlah titik tertentu, namun kurang dirasa maksimal hingga mengakibatkan ketimpangan sosial. Kemudian muncullah konsep ekonomi kerakyatan dengan menekankan pembangunan pada sektor ekonomi masyarakat kecil seperti UMKM, pemberian bantuan modal, serta pemberdayaan masyarakat yang bertumpu pada peningkatan ekonomi rakyat dan kesejahteraan rakyat.

Pada hakikatnya segala konsep pembangunan ekonomi mengalami perubahan seiring perkembangan arah kebijakan perekonomian dunia. Dalam pertemuan G-20, sejumlah negara sepakat akan mengupayakan peningkatan ekonomi dunia hingga 2,1%. Indonesia terus memacu mesin perekonomiannya guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kini dengan sistem otonomi daerah (otda), daerah otonom diberikan hak dan wewenang untuk mengatur urusan rumah tangganya sendiri. Ini seakan memberikan angin segar pada daerah otonom untuk memanfaatkannya secara tepat dan menggunakan seluruh sumber daya yang ada demi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerahnya.

Selain itu, kini pemerintah daerah juga diberikan wewenang untuk melakukan inovasi kebijakan pembangunan daerahnya sehingga akan muncul kondisi yang efektif dan efisien. Terlebih lagi dalam UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa akan memberikan ruang khusus kepada desa untuk berkompetisi membangun desanya sesuai kearifan lokal yang ada di desa itu, terlepas dari besaran dana yang akan dikucurkan pemerintah pusat kepada desa.

Konsep wilayah dibagi menjadi empat kelompok yaitu wilayah homogen, wilayah modal, wilayah perencanaan, dan wilayah administratif. Dalam pembangunan ekonomi berbasis kewilayahan diperhitungkan pula kegiatan ekonomi yang ada di wilayah tersebut. Ada kegiatan ekonomi yang berkegiatan menghasilkan barang dan jasa yang kemudian diekspor ke wilayah lain sehingga akan memberikan nilai tambah pada daerah tersebut.

Selain itu, ada juga kegiatan ekonomi yang terletak pada penyediaan jasa untuk memenuhi kebutuhan lokal. Pembangunan ekonomi berbasis kewilayahan merupakan konsep yang tepat untuk diterapkan di Indonesia karena sudah didukung landasan hukum yang jelas.

Konsep tersebut akan menjadi jalan agar tiap wilayah bisa mencapai potensi maksimalnya. Akhirnya pembangunan ekonomi berbasis kewilayahan menjadi optimal dan sangat tepat diterapkan di Indonesia demi tercapainya Indonesia jaya dan sejahtera.
(bbg)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
Pakar Hukum Didit Wijayanto...
Pakar Hukum Didit Wijayanto Sebut Dian Sandi Harusnya Terkena Pasal 32 UU ITE, Bukan Roy Suryo
Lantik 1.177 Perwira...
Lantik 1.177 Perwira TNI-Polri, Prabowo: Pangkat adalah Amanah dan Kepercayaan Rakyat
Prabowo Lantik 1.177...
Prabowo Lantik 1.177 Perwira TNI-Polri, Anugerahkan Adhi Makayasa ke Lulusan Terbaik
Akademisi UI: Indonesia...
Akademisi UI: Indonesia Perlu Regulasi Atasi Ancaman Spionase dan Siber
Belum Genap 2 Bulan...
Belum Genap 2 Bulan Jabat Kepala BGN, Nanik Mundur untuk Pengobatan Jantung
Prabowo Setujui Nanik...
Prabowo Setujui Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN
Infografis
Kaleidoskop 2025: 7...
Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Ekonomi Paling Heboh di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved