Pengamat: Golkar Era Ical, Logistik Jadi Panglima
Sabtu, 15 November 2014 - 11:12 WIB
Pengamat: Golkar Era Ical, Logistik Jadi Panglima
A
A
A
JAKARTA - Pengamat Politik dari Populi Center Nico Harjanto mengklasifikasikan model kepemimpinan di generasi berbeda Partai Golkar.
Menurut dia, Golkar di masa Orde Baru (Orba), meski menganut faham pembangunan ala politik Orde Baru, tetapi mempunyai semangat ideologis.
Sementara, di era kepemimpinan Wakil Presiden Jusuf Kalla kala itu, Golkar mampu menjadi partai yang mempunyai pengalaman formal pemerintahan.
"Sekarang logistik yang menjadi panglima. Ini sisi pragmatis Golkar yang tidak bisa dihindari," kata Nico saat diskusi bertajuk 'Berebut Golkar' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/11/2014).
Menurut Nico, kendati Golkar di masa Aburizal Bakrie (Ical) sekarang mendapatkan hasil politik yang manis. Tapi hal itu tak menjadi ukuran. Pasalnya, kompetisi di internal Golkar hanya berlaku bagi orang yang mempunyai modal kuat.
"Resiko partai modern dan terbuka ini akan terjebak menjadi oligarki. Efeknya akan menghalalkan segala cara untuk berkuasa," ungkapnya.
Ditambahkannya, di posisi itu Ical tak mempunyai prestasi dalam membangun kembali basis ideologis Partai Golkar. Menurutnya, kader Golkar hanya terjebak pada pragmatisme berpolitik.
"Kaderisasi tidak berjalan dengan baik. Dukungan kader bisa mengalir buat calon yang memiliki cukup uang," pungkasnya.
Menurut dia, Golkar di masa Orde Baru (Orba), meski menganut faham pembangunan ala politik Orde Baru, tetapi mempunyai semangat ideologis.
Sementara, di era kepemimpinan Wakil Presiden Jusuf Kalla kala itu, Golkar mampu menjadi partai yang mempunyai pengalaman formal pemerintahan.
"Sekarang logistik yang menjadi panglima. Ini sisi pragmatis Golkar yang tidak bisa dihindari," kata Nico saat diskusi bertajuk 'Berebut Golkar' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/11/2014).
Menurut Nico, kendati Golkar di masa Aburizal Bakrie (Ical) sekarang mendapatkan hasil politik yang manis. Tapi hal itu tak menjadi ukuran. Pasalnya, kompetisi di internal Golkar hanya berlaku bagi orang yang mempunyai modal kuat.
"Resiko partai modern dan terbuka ini akan terjebak menjadi oligarki. Efeknya akan menghalalkan segala cara untuk berkuasa," ungkapnya.
Ditambahkannya, di posisi itu Ical tak mempunyai prestasi dalam membangun kembali basis ideologis Partai Golkar. Menurutnya, kader Golkar hanya terjebak pada pragmatisme berpolitik.
"Kaderisasi tidak berjalan dengan baik. Dukungan kader bisa mengalir buat calon yang memiliki cukup uang," pungkasnya.
(kri)