Konflik Laut China Selatan Kemungkinan Sulit Teratasi

Selasa, 11 November 2014 - 12:24 WIB
Konflik Laut China Selatan...
Konflik Laut China Selatan Kemungkinan Sulit Teratasi
A A A
YANGON - Pertikaian diplomatik terbaru terkait siapa yang berhak memiliki Laut China Selatan sepertinya akan terpecahkan dalam pertemuan regional di Myanmar, setahun setelah China meningkatkan tensi di sumber perairan kaya kandungan mineral tersebut.

Pertikaian Laut China Selatan memang menjadi masalah pelik belakangan. Sejumlah negara saling mengklaim sebagai pemilik atau yang menguasai perairan tersebut. Negara-negara Asia Tenggara meliputi Vietnam, Filipina, dan kekuatan regional China, menganggap perairan tersebut masuk wilayah mereka. Isu ini membuat hubungan antara China dan sejumlah negara di Asia Tenggara kurang harmonis.

Oleh karena itu, isu ini akan menjadi tes penting dalam diplomasi antara China dan Amerika Serikat (AS) dalam pertemuan ASEAN Summit di Myanmar, 12–14 November mendatang. AS memiliki kepentingan membuat masalah Laut China Selatan segera teratasi karena membuat ASEAN sebagai bagian dari kebijakan luar negerinya, yakni sebagai poros mereka mengembangkan politik luar negeri lebih jauh lagi di wilayah Asia.

Peluang terciptanya “suasana damai” di Laut China Selatan dalam pertemuan yang akan digelar di Naypyitaw tersebut terbuka lebar karena sejumlah pemimpin dunia atau perwakilan penting bakal hadir. Mereka di antaranya Presiden AS Barack Obama, Perdana Menteri China Li Keqiang, dan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Penasihat Keamanan Nasional AS Susan Rice menyebut, Obama akan memanfaatkan pertemuan dengan pemimpin-pemimpin ASEAN untuk membicarakan pertikaian di wilayah maritim. Agenda lain yang juga akan dibahas adalah terkait Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan epidemis ebola.

Namun, sejumlah analis dan diplomat skeptis dengan kemungkinan terjadinya kesepakatan yang nyata. Hal tersebut karena China kemungkinan lebih memilih melakukan pembicaraan bilateral dengan tetangga-tetangga kecilnya, sembari mengerahkan kekuatan ekonomi masif dan pengaruh politik mereka di kawasan melalui perdagangan.

“Saya tak melihat akan terjadinya pemecahan masalah dalam waktu dekat ini. Mari melihat realita bahwa ini adalah isu kompleks dan sebagai tambahan, ASEAN diakui atau tidak terikat dengan China, sebagai salah satu kekuatan di kawasan dan dunia,” tutur salah seorang diplomat ASEAN dikutip AFP.

Sugeng wahyudi
(bbg)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Israel Meradang karena...
Israel Meradang karena Iran Sukses Luncurkan Satelit Militer
Kartun Menghina Khamenei,...
Kartun Menghina Khamenei, Pemred Media Iran Ditangkap
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Buku Laku Spiritual...
Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen Diluncurkan, Kupas Cara Soeharto Tunjuk Pembantunya
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved