DKI Enggan Investasi Transportasi Massal Baru

Senin, 10 November 2014 - 13:40 WIB
DKI Enggan Investasi...
DKI Enggan Investasi Transportasi Massal Baru
A A A
JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta menyarankan perusahaan swasta yang berminat membangun moda transportasi massal dengan investasi murni, tanpa harus melibatkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengungkapkan, pihaknya tidak tertarik berinvestasi membiayai pembangunan angkutan massal baru di Ibu Kota. Di sisi lain, dia mempersilakan pihak swasta menanamkan modalnya sendiri. Apalagi, kebutuhan moda transportasi publik di Jakarta masih sangat tinggi untuk mengurai kemacetan lalu lintas.

”Pemprov DKI Jakarta tak tertarik menginvestasikan uang rakyat untuk proyek pembangunan transportasi massal,” kata Ahok kemarin. Pernyataan Ahok ini terkait ajakan dari PT Adhi Karya yang ingin membangun monorel di Ibu Kota. Badan usaha milik negara (BUMN) itu meminta Pemprov DKI Jakarta ikut menginvestasikan anggarannya untuk membangun monorel.

Kendati menolak berinvestasi dalam rencana pembangunan monorel, Ahok tetap mempersilakan perusahaan pelat merah tersebut membangun moda transportasi massal. Dia menyebutkan, siapa saja bisa ikut berkontribusi membangun Jakarta, terutama di bidang transportasi massal. Pemberian ruang ini tentunya harus disertai konsep pembangunan dan pengelolaan bisnis yang jelas. Diketahui, PT Adhi Karya berencana di tiga koridor, Bekasi-Cawang, Cibubur-Cawang, dan Cawang-Kuningan dengan total panjang rute sekitar 52 km.

Rute ini dianggap dapat melayani perjalanan dari Bekasi ke tengah Jakarta. Bahkan, moda transportasi ini dapat mengurangi perjalanan darat dari arah Cikampek, Jagorawi, Bekasi, dan Cawang. Proyek ini diperkirakan menelan anggaran investasi hingga Rp8,4 triliun. Koordinator Traffic Demand Management (TDM) Achmad Syafrudin mengungkapkan, Jakarta merupakan daerah tujuan perjalanan bagi masyarakat. Tidak hanya dari sekitar Bodetabek.

Dari luar Jabodetabek banyak warga datang untuk mencari penghidupan. Sementara ketersediaan wilayah sangat terbatas sehingga mereka terpaksa bertempat tinggal di luar Jakarta, sedangkan volume ruas jalan di Jakarta masih 7% dari luas wilayah. ”Nyaris tidak ada penambahan ruas jalan. Perjalanan masyarakat perlu dilayani. Salah satunya dengan menyediakan angkutan massal,” ungkapnya.

Menurutnya, siapa pun yang akan berinvestasi di bidang transportasi publik dengan jaminan kenyamanan dan keamanan pasti akan menjadi idola bagi masyarakat. ”Ini tergantung keberanian dan keseriusan untuk membantu penyediaan moda transportasi publik di tengah kota,” tandasnya.

Ilham safutra
(ars)
Berita Terkait
Usung Slogan Jakarta...
Usung Slogan Jakarta Baru, Ridwan Kamil: Jakarta Butuh Imajinasi Baru
Aturan Baru Masuk Jakarta
Aturan Baru Masuk Jakarta
Mengantar Jakarta Memasuki...
Mengantar Jakarta Memasuki Normal Baru
Pramono akan Sulap Pasar...
Pramono akan Sulap Pasar Baru Jakpus Jadi Hub Baru seperti Blok M
Ridwan Kamil-Suswono...
Ridwan Kamil-Suswono Janji Bawa Jakarta Baru, Jakarta Maju
Megahnya Jakarta International...
Megahnya Jakarta International Stadium, Ikon Baru Spirit Olahraga Jakarta
Berita Terkini
Penjelasan Menteri PU...
Penjelasan Menteri PU Dody Hanggodo tentang Isu Tak Mau Salaman dengan Bawahan dan Pakai Private Jet
Kuntadi Jadi Jampidsus,...
Kuntadi Jadi Jampidsus, Yusril: Tugas Pokoknya Selesaikan Kasus Febrie Adriansyah
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Jaksa Agung Mutasi 8...
Jaksa Agung Mutasi 8 Kepala Kejaksaan Tinggi, Ada Kajati Aceh hingga Sulsel
Ditjen Imigrasi Siapkan...
Ditjen Imigrasi Siapkan Satu Jenis Paspor Nasional, Nomor Tak Berubah Seumur Hidup
Koalisi Sipil Tolak...
Koalisi Sipil Tolak Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak, Dinilai Ancam Supremasi Sipil
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved