Pelihara Konflik, PPP Bakal Tinggal Nama
Senin, 03 November 2014 - 06:05 WIB
Pelihara Konflik, PPP Bakal Tinggal Nama
A
A
A
JAKARTA - Konflik internal PPP tak kunjung mereda. Dua kepengurusan DPP terbentuk berdasarkan Muktamar Surabaya yang diketuai Romahurmuziy dan Muktamar Jakarta yang menunjuk Djan Faridz sebagai ketua umum secara aklamasi.
Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Idil Akbar mengatakan, konflik internal PPP sebetulnya sudah kompleks, tak hanya melibatkan elite internal namun juga pihak luar dalam hal ini Menkumham.
"Karena itulah saya memandang sulit bagi kedua kubu yang sama-sama mengklaim sebagai pengurus yang sah untuk bisa menurunkan tensi dan berdamai," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Senin (3/11/2014).
Kendati demikian, ia menilai, islah bukan berarti tak bisa dilakukan dengan syarat kedua kubu duduk bersama dan tidak dalam kapasitas membawa egosentrisme masing-masing sebagai pihak yang berdiri legal sebagai pengurus DPP PPP.
"Satu lagi saya lihat peran KH Maimoen Zubair sangat sentral untuk mendamaikan kedua belah pihak," jelas peneliti di Nusantara Institute ini.
Karena itu, Idil berpendapat, seluruh elite PPP harus segera bertemu dan membicarakan secara serius masa depan PPP. Jika tidak, dia khawatir PPP hanya tinggal nama saja sebagai salah satu partai Islam tertua di Indonesia.
"Elite yang berkonflik harus menekan ego masing-masing dan berpikir bagaimana menjaga eksistensi PPP dan khittahnya sebagai partai Islam," pungkasnya.
Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Idil Akbar mengatakan, konflik internal PPP sebetulnya sudah kompleks, tak hanya melibatkan elite internal namun juga pihak luar dalam hal ini Menkumham.
"Karena itulah saya memandang sulit bagi kedua kubu yang sama-sama mengklaim sebagai pengurus yang sah untuk bisa menurunkan tensi dan berdamai," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Senin (3/11/2014).
Kendati demikian, ia menilai, islah bukan berarti tak bisa dilakukan dengan syarat kedua kubu duduk bersama dan tidak dalam kapasitas membawa egosentrisme masing-masing sebagai pihak yang berdiri legal sebagai pengurus DPP PPP.
"Satu lagi saya lihat peran KH Maimoen Zubair sangat sentral untuk mendamaikan kedua belah pihak," jelas peneliti di Nusantara Institute ini.
Karena itu, Idil berpendapat, seluruh elite PPP harus segera bertemu dan membicarakan secara serius masa depan PPP. Jika tidak, dia khawatir PPP hanya tinggal nama saja sebagai salah satu partai Islam tertua di Indonesia.
"Elite yang berkonflik harus menekan ego masing-masing dan berpikir bagaimana menjaga eksistensi PPP dan khittahnya sebagai partai Islam," pungkasnya.
(kri)