Tercampuri Politik, Ibunda Anas Pesimis Putusan Hakim Adil
Rabu, 24 September 2014 - 04:59 WIB
Tercampuri Politik, Ibunda Anas Pesimis Putusan Hakim Adil
A
A
A
BLITAR - Ibunda Anas Urbaningrum, Sriyati (70) pesimis, vonis majelis hakim yang akan diterima putranya itu, bisa berlaku adil.
Hal itu dikatakan Sriyati terkait Anas yang akan divonis hari ini, Rabu (24/9/2014). Menurutnya, kasus yang menjerat Anas lebih banyak tercampuri kepentingan politik dibanding penegakan hukum.
"Semua hanya bisa berdoa. Namun bila hukum telah dikondisikan, mana bisa adil," kata Sriyati saat ditemui rumahnya di Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa 23 September 2014.
Di usianya yang relatif uzur, dia masih cukup kuat mengendarai motor seorang diri. Sambil menuntun kendaraan, Sriyati bercerita bahwa dirinya baru saja dari sawah, mengitari tegalan untuk sekadar menengok kondisi tanaman.
Ia menuturkan, bagaimana kemarau panjang membuat sebagian besar petani di Desa Ngaglik terpaksa menggantungkan pengairan pada tenaga diesel.
Kondisi ini berbeda saat KPK pertama kali menetapkan Anas sebagai tersangka kasus korupsi proyek hambalang. Tensi darah Sriyati yang memang memiliki riwayat penyakit hipertensi sontak melonjak.
"Saya sehat. Hanya bagian kaki saja yang linu linu. Penyakit orang tua," tuturnya sembari tersenyum.
Tidak jauh dari sana, bertempat tinggal Agus Nasrudin, anak sulungnya yang menjabat sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) Ngaglik. Sementara Anna Luthfie, putra ketiganya berdomisili di Surabaya.
Rumah bercat oranye itu terlihat sepi. Sejak KPK menahan Anas, dan Anna Luthfie gagal sebagai anggota DPR RI 2014, nyaris tidak ada kesibukan yang berarti. Jarang lagi terlihat kunjungan. Pemandangan tersebut terasa kontras saat Anas masih berkuasa.
"Tidak ada lagi yang kemari. Mungkin semuanya pada sibuk," terangnya.
Hal itu dikatakan Sriyati terkait Anas yang akan divonis hari ini, Rabu (24/9/2014). Menurutnya, kasus yang menjerat Anas lebih banyak tercampuri kepentingan politik dibanding penegakan hukum.
"Semua hanya bisa berdoa. Namun bila hukum telah dikondisikan, mana bisa adil," kata Sriyati saat ditemui rumahnya di Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa 23 September 2014.
Di usianya yang relatif uzur, dia masih cukup kuat mengendarai motor seorang diri. Sambil menuntun kendaraan, Sriyati bercerita bahwa dirinya baru saja dari sawah, mengitari tegalan untuk sekadar menengok kondisi tanaman.
Ia menuturkan, bagaimana kemarau panjang membuat sebagian besar petani di Desa Ngaglik terpaksa menggantungkan pengairan pada tenaga diesel.
Kondisi ini berbeda saat KPK pertama kali menetapkan Anas sebagai tersangka kasus korupsi proyek hambalang. Tensi darah Sriyati yang memang memiliki riwayat penyakit hipertensi sontak melonjak.
"Saya sehat. Hanya bagian kaki saja yang linu linu. Penyakit orang tua," tuturnya sembari tersenyum.
Tidak jauh dari sana, bertempat tinggal Agus Nasrudin, anak sulungnya yang menjabat sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) Ngaglik. Sementara Anna Luthfie, putra ketiganya berdomisili di Surabaya.
Rumah bercat oranye itu terlihat sepi. Sejak KPK menahan Anas, dan Anna Luthfie gagal sebagai anggota DPR RI 2014, nyaris tidak ada kesibukan yang berarti. Jarang lagi terlihat kunjungan. Pemandangan tersebut terasa kontras saat Anas masih berkuasa.
"Tidak ada lagi yang kemari. Mungkin semuanya pada sibuk," terangnya.
(maf)