Ahok: Emang Enggak Boleh Jadi Kutu Loncat

Senin, 22 September 2014 - 18:00 WIB
Ahok: Emang Enggak Boleh...
Ahok: Emang Enggak Boleh Jadi Kutu Loncat
A A A
JAKARTA - Eks politikus Partai Gerindra Basuki T Purnama (Ahok) akui dirinya baru satu kali pindah dari partai politik (parpol).

Menurutnya tidak masalah dirinya disebut kutu loncat seperti yang pernah disindir Prabowo Subianto waktu Kongres Luar Biasa (KLB) Gerindra di Bogor, Sabtu 20 September 2014.

"Ya enggak apa-apa dong. Loncat-loncat kenapa enggak boleh. Enggak mau tanggapinlah (disebut kutu loncat). Nanti jadi susah. Saya masuk Gerindra juga loncat dari Golkar," kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (22/9/2014).

Ahok kemudian mengatakan, dirinya tidak loncat-loncat, dia hanya berhenti dari parpol. Dirinya loncat ketika dimajukan menjadi Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta.

"Seandainya sekarang saya masuk partai lain baru loncat. Jadi kalau loncat-loncat itu enggak benar bahasanya, saya baru loncat sekali.‬ Waktu saya di PIB (Partai Indonesia Baru) itu saya berhenti dari partai September 2007," ungkapnya.

"Saya enggak berpartai lagi sampai 2008, masyarakat minta saya masuk DPR. Karena masuk DPR itu harus anggota partai, baru saya masuk Golkar. Yang asli loncat itu waktu diminta masuk ke DKI, itupun belum pasti mau mencalonkan saya waktu itu," imbuhnya.

Ahok menjelaskan, kenapa dirinya mau untuk pindah ke Gerindra. Dia ingin memperlihatkan bahwa ada partai yang tidak perlu meminta uang, karena Gerindra menawarkan itu.

"Serius (enggak minta uang). Saya juga enggak tahu, toh karena saat itu kalau hanya Gerindra enggak cukup (suaranya)," jelasnya.

Menurut itu saat hendak gabung dengan PDIP, Ahok tidak langsung dicalonkan, karena masih ada nama Deddy Mizwar.

"Jadi saya loncat dengan risiko waktu itu, keluar dari DPR. Padahal banyak orang ingin masuk DPR. Masa saya keluar padahal waktu itu enggak ada kepastian," tanya Ahok.

Menurut Ahok dirinya sampai saat ini ketiban pulung saja, dan menegaskan kembali baru dirinya hanya satu kali loncat dari partai.

"Jadi saya kalau dianggap loncat, baru sekali itu. Loncat itu pun bukan loncat yang lebih baik, tapi yang loncat yang bahaya sebetulnya. Cuma saya merasa waktu itu manfaatnya lebih banyak," tuturnya.

Lebih lanjut Ahok mengatakan, waktu itu dia sering seminar di kampus-kampus, mahasiswa nanya ‘Anda jujur, tapi apa gunanya jujur kalau tidak ada partai yang calonkan Anda’.

"Nah ketika Gerindra calonkan saya, saya pikir itu minimal modal saya untuk ngomong di seminar, walaupun dalam hati saya tahu belum tentu bisa maju. Kalau sampai sejauh ini ya karena Ahok ketiban pulung saja," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
Raih Penghargaan KIP,...
Raih Penghargaan KIP, Prabowo dan Gerindra Komitmen Berantas Korupsi dan Junjung Tinggi Demokrasi
Rayakan Usia ke-18,...
Rayakan Usia ke-18, Fraksi Gerindra DPR Gaungkan Semangat Kebersamaan
Prabowo Subianto Hadiri...
Prabowo Subianto Hadiri Peringatan HUT ke-15 Partai Gerindra
Kala Prabowo Sentil...
Kala Prabowo Sentil Orang Pintar hingga Profesor yang Banyak Bicara di Podcast
Prabowo Siap Tempur...
Prabowo Siap 'Tempur' di Pemilu 2024! Al dan El Gabung Gerindra, Iwan Bule Gantikan Posisi Sandiaga Uno
Gerindra Dukung APBN...
Gerindra Dukung APBN 2026 sebagai Katalis Pertumbuhan Nasional
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved