Ini Kata Marzuki Soal Rencana Pelengseran Anas
Senin, 18 Agustus 2014 - 21:41 WIB
Ini Kata Marzuki Soal Rencana Pelengseran Anas
A
A
A
JAKARTA - Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Marzuki Alie ikut angkat bicara soal pertemuannya dengan mantan Bendahara Umum M Nazaruddin pada 23 Mei 2011 dan rencana pelengseran Anas Urbaningrum dari kursi Ketua Umum Demokrat.
Ketua DPR ini membenarkan dia pernah bertemu dengan Nazaruddin sebelum yang bersangkutan kabur ke Singapura. Meski begitu dia menyatakan tidak punya niatan untuk menghancurkan Partai Demokrat.
Marzuki menyampaikan dalam pertemuan 23 Mei 2011 itu turut hadir Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua dan Ketua DPP Sutan Bhatoegana. Dia memastikan alangkah gobloknya bila dia ingin menghancurkan partai.
“Tanya Max dan Sutan karena mereka ada bersama saat itu. Alangkah gobloknya MA (Marzuki Alie) mau hancurkan PD (Partai Demokrat), padahal mereka pendatang semua,” kata Marzuki saat dihubungi SINDO, Senin (18/8/2014) malam.
Marzuki kemudian menanggapi keinginan Nazaruddin melengserkan Anas dan menjadikan Marzuki sebagai ketua umum. Dia mempersilakan hal tersebut ditanyakan langsung kepada Nazaruddin. Marzuki mengklaim selalu memberikan saran atau nasihat yang baik.
“Tanya saja Nazar. Saya selalu menasihati yang baik, tidak boleh jahat dengan siapapun. Walaupun orang jahat dengan kita,” tandasnya.
Pernyataan Marzuki ini disampaikan merespon kesaksian mantan staf ahli Nazaruddin saat di DPR, Nuril Anwar saat bersaksi dan dicecar Anas dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Senin (18/8/2014). Menurut Nuril, sebelum pelarian M Nazaruddin ke Singapura, pada tanggal 23 Mei 2011 Nazaruddin pernah menemui Ketua DPR Marzuki Alie.
“Pada saat Rosa ditangkap, dia (Nazar) gusar dan memutuskan menghadap Marzuki Alie sore-sore jam 3-an sampai sore. Berangkatnya Isya (malam) lah,” tutur Nuril menjawab pertanyaan Anas di depan majelis hakim.
Nazaruddin saat itu sudah sangat gelisah karena bisa saja akan diciduk KPK menyusul Rosa. Karenanya dalam pertemuan dengan Marzuki Nazaruddin mengancam menghancurkan Partai Demokrat jika tidak dibantu. Pada akhirnya, Nazaruddin pun akhirnya kabur.
Di Singapura, Nazaruddin masih berkomunikasi dengan Nuril via telpon dan BlackBerry Messenger (BBM). Menurut Nazaruddin lanjut Nuril, Anas sudah tidak komit lagi dengan Nazaruddin. Karenanya perlu dilakukan pemilihan ulang ketua umum baru atau Kongres Luar Biasa (KLB).
“Saya bilang kok bisa, (kan) baru kemarin kongres. (Kata Pak Nazar) Oh bisa saja, apa yang tidak bisa karena kekuasaan. Intinya adalah memang puncak kemarahan dia sangat tinggi sekali ketika di Singapura.
"(Kata Pak Nazar) Kita akan buat skenario yang canggih bagaimana sahabat kita yang dimaksud Pak MA (Marzuki Alie) jadi ketua umum agar kamu nanti menjadi posisi penting di situ. Ya bisa wakil sekjen, wakil ketua umum. Cuma saya tidak menjawab,” jelas Nuril.
Ketua DPR ini membenarkan dia pernah bertemu dengan Nazaruddin sebelum yang bersangkutan kabur ke Singapura. Meski begitu dia menyatakan tidak punya niatan untuk menghancurkan Partai Demokrat.
Marzuki menyampaikan dalam pertemuan 23 Mei 2011 itu turut hadir Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Max Sopacua dan Ketua DPP Sutan Bhatoegana. Dia memastikan alangkah gobloknya bila dia ingin menghancurkan partai.
“Tanya Max dan Sutan karena mereka ada bersama saat itu. Alangkah gobloknya MA (Marzuki Alie) mau hancurkan PD (Partai Demokrat), padahal mereka pendatang semua,” kata Marzuki saat dihubungi SINDO, Senin (18/8/2014) malam.
Marzuki kemudian menanggapi keinginan Nazaruddin melengserkan Anas dan menjadikan Marzuki sebagai ketua umum. Dia mempersilakan hal tersebut ditanyakan langsung kepada Nazaruddin. Marzuki mengklaim selalu memberikan saran atau nasihat yang baik.
“Tanya saja Nazar. Saya selalu menasihati yang baik, tidak boleh jahat dengan siapapun. Walaupun orang jahat dengan kita,” tandasnya.
Pernyataan Marzuki ini disampaikan merespon kesaksian mantan staf ahli Nazaruddin saat di DPR, Nuril Anwar saat bersaksi dan dicecar Anas dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Senin (18/8/2014). Menurut Nuril, sebelum pelarian M Nazaruddin ke Singapura, pada tanggal 23 Mei 2011 Nazaruddin pernah menemui Ketua DPR Marzuki Alie.
“Pada saat Rosa ditangkap, dia (Nazar) gusar dan memutuskan menghadap Marzuki Alie sore-sore jam 3-an sampai sore. Berangkatnya Isya (malam) lah,” tutur Nuril menjawab pertanyaan Anas di depan majelis hakim.
Nazaruddin saat itu sudah sangat gelisah karena bisa saja akan diciduk KPK menyusul Rosa. Karenanya dalam pertemuan dengan Marzuki Nazaruddin mengancam menghancurkan Partai Demokrat jika tidak dibantu. Pada akhirnya, Nazaruddin pun akhirnya kabur.
Di Singapura, Nazaruddin masih berkomunikasi dengan Nuril via telpon dan BlackBerry Messenger (BBM). Menurut Nazaruddin lanjut Nuril, Anas sudah tidak komit lagi dengan Nazaruddin. Karenanya perlu dilakukan pemilihan ulang ketua umum baru atau Kongres Luar Biasa (KLB).
“Saya bilang kok bisa, (kan) baru kemarin kongres. (Kata Pak Nazar) Oh bisa saja, apa yang tidak bisa karena kekuasaan. Intinya adalah memang puncak kemarahan dia sangat tinggi sekali ketika di Singapura.
"(Kata Pak Nazar) Kita akan buat skenario yang canggih bagaimana sahabat kita yang dimaksud Pak MA (Marzuki Alie) jadi ketua umum agar kamu nanti menjadi posisi penting di situ. Ya bisa wakil sekjen, wakil ketua umum. Cuma saya tidak menjawab,” jelas Nuril.
(kri)