Kedua Capres Diharapkan Mampu Jaga Momentum Positif
Senin, 21 Juli 2014 - 08:05 WIB
Kedua Capres Diharapkan Mampu Jaga Momentum Positif
A
A
A
JAKARTA - Tanggal 22 Juli akan menjadi penentu siapa yang memimpin tampuk kekuasaan di Indonesia. Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengumumkan hasil rekapitulasi perolehan suara pemilu presiden dan wakil presiden (Pilpres) 2014.
Pemerhati Pemilu dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menuturkan, dua capres-cawapres yang akan ditentukan nasibnya harus mampu menjaga momentum positif berupa kemajuan kesadaran dan pola pikir warga negara dalam berdemokrasi.
"Salah satu contoh yang bisa dijadikan rujukan adalah bagaimana dua capres-cawapres bisa menghadapi realitas demokrasi secara dewasa. Bahwa pemilu merupakan salah satu mekanisme sistem demokrasi untuk menyeleksi pemimpin. Dan bahwa sebagai sebuah mekanisme, pemilu bukanlah sistem yang sempurna," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Senin (21/7/2014).
Dengan hanya selisih angka, lanjutnya, seseorang yang mendapatkan jumlah pemilih lebih banyak yang berhak memenangi pertarungan. Ini merupakan kesepakatan sistem demokratis.
"Kesepakatan itu tidak lantas menghapuskan semua kemampuan dan potensi calon yang kalah sebagai seorang pemimpin," ucapnya.
Karenanya, kata Lucius, menang dan kalah dalam pemilu merupakan sesuatu yang harus dihadapi dengan bijak. Calon yang kalah bukan karena tidak mempunyai kebajikan yang cukup dibandingkan dengan yang menang.
"Dia hanya tak mampu mendapatkan kepercayaan dengan jumlah yang melampaui lawannya. Bahwa sejumlah warga telah mempercayainya dalam pemilu, itu merupakan modal untuk tetap bersikap arif menerima keputusan hasil pemilu," jelasnya.
Menurutnya, dengan adanya kelompok warga yang memilihnya dalam pemilu, calon yang kalah dituntut untuk mendedikasikan diri melalui cara-cara lain untuk memastikan bahwa mereka yang memberikan kepercayaannya pada pemilu tetap mendapatkan perhatian dan keadilan dari negara.
"Tuntutan untuk memperjuangkan sesuatu dari mereka yang memilihnya merupakan tanggung jawab yang harus dijawab oleh calon yang kalah dengan cara-cara yang demokratis," tandasnya.
Jadi sudah sepantasnya semua calon harus merasa dipercaya oleh rakyat. Oleh karenanya, yang tidak bisa memenangi tiket menjadi presiden dan wakil presiden tak perlu marah dan kecewa berlebihan, karena jalan untuk mengabdi kepada rakyat tak selalu harus dengan menjadi presiden.
"Tetapi bahwa banyak orang telah mempercayai kita, itu harus menjadi tanggung jawabnya untuk mengabdi dengan cara-cara yang demokratis," pungkasnya.
Pemerhati Pemilu dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menuturkan, dua capres-cawapres yang akan ditentukan nasibnya harus mampu menjaga momentum positif berupa kemajuan kesadaran dan pola pikir warga negara dalam berdemokrasi.
"Salah satu contoh yang bisa dijadikan rujukan adalah bagaimana dua capres-cawapres bisa menghadapi realitas demokrasi secara dewasa. Bahwa pemilu merupakan salah satu mekanisme sistem demokrasi untuk menyeleksi pemimpin. Dan bahwa sebagai sebuah mekanisme, pemilu bukanlah sistem yang sempurna," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Senin (21/7/2014).
Dengan hanya selisih angka, lanjutnya, seseorang yang mendapatkan jumlah pemilih lebih banyak yang berhak memenangi pertarungan. Ini merupakan kesepakatan sistem demokratis.
"Kesepakatan itu tidak lantas menghapuskan semua kemampuan dan potensi calon yang kalah sebagai seorang pemimpin," ucapnya.
Karenanya, kata Lucius, menang dan kalah dalam pemilu merupakan sesuatu yang harus dihadapi dengan bijak. Calon yang kalah bukan karena tidak mempunyai kebajikan yang cukup dibandingkan dengan yang menang.
"Dia hanya tak mampu mendapatkan kepercayaan dengan jumlah yang melampaui lawannya. Bahwa sejumlah warga telah mempercayainya dalam pemilu, itu merupakan modal untuk tetap bersikap arif menerima keputusan hasil pemilu," jelasnya.
Menurutnya, dengan adanya kelompok warga yang memilihnya dalam pemilu, calon yang kalah dituntut untuk mendedikasikan diri melalui cara-cara lain untuk memastikan bahwa mereka yang memberikan kepercayaannya pada pemilu tetap mendapatkan perhatian dan keadilan dari negara.
"Tuntutan untuk memperjuangkan sesuatu dari mereka yang memilihnya merupakan tanggung jawab yang harus dijawab oleh calon yang kalah dengan cara-cara yang demokratis," tandasnya.
Jadi sudah sepantasnya semua calon harus merasa dipercaya oleh rakyat. Oleh karenanya, yang tidak bisa memenangi tiket menjadi presiden dan wakil presiden tak perlu marah dan kecewa berlebihan, karena jalan untuk mengabdi kepada rakyat tak selalu harus dengan menjadi presiden.
"Tetapi bahwa banyak orang telah mempercayai kita, itu harus menjadi tanggung jawabnya untuk mengabdi dengan cara-cara yang demokratis," pungkasnya.
(kri)