Apakah Hasil Quick Count Akurat?

Kamis, 10 Juli 2014 - 14:41 WIB
Apakah Hasil Quick Count...
Apakah Hasil Quick Count Akurat?
A A A
JAKARTA - Pusat Studi Sosial Politik (Puspol) Indonesia menilai klaim kemenangan kubu calon presiden dan calon wakil presiden yang didasarkan atas hitung cepat atau quick count mengandung risiko.

Selain terlalu dini, pengumuman kemenangan yang disandarkan atas quick count juga dapat memicu konflik horizontal. Padahal belum tentu hasil quick count tepat.

"Perlu menjadi catatan bagi semua lembaga survei dari kedua kubu calon Presiden bahwa bisa jadi menang dalam quick count tetapi kalah dalam real count," ujar Direktur Puspol Indonesia, Ubedilah Badrun melalui siaran persnya yang dikirim ke Sindonews, Kami 10 Juli 2014.

Ubedilah pun memaparkan tentang sejumlah hasil quick count pada pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) di sejumlah daerah.

Misalnya pada pemilukada tahun 2013 di Bali. Menurut quick count Saiful Mujani Research Center (SMRC) disebutkan bahwa perolehan suara pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Puspayoga-Sukrawan 50,2%, sedangkan I Made Mangku Pastika-Sudikerta 49,8%.

Hasil quick count itu didasarkan atas data yang masuk sebesar 99,50%. Ternyata kemudian perhitungan real count KPU, kata dia, hasilnya menunjukkan sebaliknya.

Pada Pemilukada Jawa Timur pada tahun 2008, Pusat Kajian Pengembangan Strategis (Puskaptis) melakukan quick count dengan hasil pasangan Khofifah-Mujiono 50,83% dan Soekarwo-Saifullah Yusuf 49,17% dengan tingkat keyakinan 99%. Ternyata kemudian perhitungan real count KPU hasilnya menunjukan sebaliknya.

Ubedilah mengatakan, saat ini sebaiknya elite politik melakukan sesuati untik menenangkan pendukungnya. "Yang paling tepat saat ini adalah pernyataan elit politik untuk menenangkan pengikutnya dan menahan diri menunggu pengumuman resmi KPU.

Menurut dia, pengumuman kemenangan yang terlalu dini, juga menunjukan hasrat berkuasa yang sangat tinggi dari calon penguasa serta sebagai upaya perang urat saraf.

Ubedilah menilai hasil quick count meragukan karena hanya didasarkan atas sampel perolehan suara di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS)..
"Quick count itu masih menggunakan sampel, bahkan ada yang sampelnya 200 TPS. Validitasnya diragukan karena tidak 100% TPS. Berbeda dengan real count yang nanti diumumkan KPU pada 22 Juli," kata Ubedilah.
(dam)
Berita Terkait
Dosen Fisip Kalsel:...
Dosen Fisip Kalsel: Bahas Dana Alutsista 700 Triliun, Penampilan Anies Terkesan Cari Panggung
Sarat Indikasi Pelanggaran,...
Sarat Indikasi Pelanggaran, Aktivis Ciputat Kampanyekan Tagar Lawan Pemilu Curang
Gara-gara Covid-19,...
Gara-gara Covid-19, Pilpres Polandia Jadi 'Pilpres Hantu'
Jazz dan Pilpres
Jazz dan Pilpres
Gagahnya Ganjar-Mahfud...
Gagahnya Ganjar-Mahfud Kompak Pakai Jaket Bomber ala Pilot Top Gun
Potret Tiga Capres Ikuti...
Potret Tiga Capres Ikuti Debat Ketiga Pilpres 2024
Berita Terkini
Sari Yuliati Terpilih...
Sari Yuliati Terpilih sebagai Ketum PPK Kosgoro 1957 Periode 2026-2031
Prabowo Berulang Kali...
Prabowo Berulang Kali Ingatkan Jajarannya, Tugas Berat adalah Melawan Korupsi
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
Sangkal Menkeu dan Gubernur...
Sangkal Menkeu dan Gubernur BI Diganti, Mensesneg: Justru Harus Kita Perkuat
Usai Silmy Karim Ditahan...
Usai Silmy Karim Ditahan KPK, Kursi Wamen Imipas Dibiarkan Kosong
Kasus Korupsi MBG Jadi...
Kasus Korupsi MBG Jadi Alarm Integritas Yayasan, PFI Dorong Audit dan Pengawasan Ketat
Infografis
Hasil Drawing Grup Piala...
Hasil Drawing Grup Piala Dunia 2026: Brasil dan Prancis Dihadang Kuda Hitam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved