Sindir Jokowi, Tak Berarti Fahri Anti Santri
Kamis, 03 Juli 2014 - 16:07 WIB
Sindir Jokowi, Tak Berarti Fahri Anti Santri
A
A
A
JAKARTA - Politikus PKS Fahri Hamzah akhirnya memenuhi panggilan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk mengklarifikasi seputar kicauan 'sinting' yang ditulis dalam akun twitter miliknya.
Menurut Fahri, kicuan 'sinting' yang ditulisnya bukan dimaksudkan untuk merendahkan capres Joko Widodo (Jokowi) maupun merendahkan kalangan santri. Status 'sinting' itu dianggap sebagai cara mengkritisi seorang pejabat publik yang sudah berjanji.
Fahri mengaku lahir dari lingkungan pesantren. Oleh karena itu Fahri enggan dianggap anti santri. Katanya, status Twitternya sudah dimaknai berbeda oleh kubu Jokowi-JK, sehingga terkesan dirinya anti terhadap dunia pesantren.
"Yang dipersoalkan dan diputar seolah-olah saya anti kiai, anti santri, anti pesantren dan anti Jokowi. Padahal saya ini santri juga yang mendirikan pesantren," ujar Fahri, di Gedung Bawaslu, Jakarta, Kamis (3/7/2014).
Dia menambahkan, kata 'sinting' yang ditulis dalam akun twitter pribadinya dianggap sebagai bahasa informasi. Menurutnya, bahasa itu lazim kerap diucapkan anak muda yang meramaikan jejaring social. Dia mencontohkan ucapan 'sinting' sama dengan perkataan 'Gila lu Ndro' seperti dialog dalam film komedi Warkop.
Fahri menyatakan, ucapan 'sinting' dirinya sudah dipolitisasi oleh pihak kubu Jokowi-JK. Namun hal itu dianggap wajar, lantaran dia menjadi bagian dari tim pemenangan Prabowo-Hatta pada pemilu presiden ini.
"Bagaimana mungkin saya anti santri. Tapi ucapan saya sudah dipolitisasi. Meski begitu saya ikut rule of the game," tukasnya.
Menurut Fahri, kicuan 'sinting' yang ditulisnya bukan dimaksudkan untuk merendahkan capres Joko Widodo (Jokowi) maupun merendahkan kalangan santri. Status 'sinting' itu dianggap sebagai cara mengkritisi seorang pejabat publik yang sudah berjanji.
Fahri mengaku lahir dari lingkungan pesantren. Oleh karena itu Fahri enggan dianggap anti santri. Katanya, status Twitternya sudah dimaknai berbeda oleh kubu Jokowi-JK, sehingga terkesan dirinya anti terhadap dunia pesantren.
"Yang dipersoalkan dan diputar seolah-olah saya anti kiai, anti santri, anti pesantren dan anti Jokowi. Padahal saya ini santri juga yang mendirikan pesantren," ujar Fahri, di Gedung Bawaslu, Jakarta, Kamis (3/7/2014).
Dia menambahkan, kata 'sinting' yang ditulis dalam akun twitter pribadinya dianggap sebagai bahasa informasi. Menurutnya, bahasa itu lazim kerap diucapkan anak muda yang meramaikan jejaring social. Dia mencontohkan ucapan 'sinting' sama dengan perkataan 'Gila lu Ndro' seperti dialog dalam film komedi Warkop.
Fahri menyatakan, ucapan 'sinting' dirinya sudah dipolitisasi oleh pihak kubu Jokowi-JK. Namun hal itu dianggap wajar, lantaran dia menjadi bagian dari tim pemenangan Prabowo-Hatta pada pemilu presiden ini.
"Bagaimana mungkin saya anti santri. Tapi ucapan saya sudah dipolitisasi. Meski begitu saya ikut rule of the game," tukasnya.
(hyk)