Pertemuan Jokowi-Dubes AS wujudkan 'capres boneka'

Selasa, 15 April 2014 - 12:41 WIB
Pertemuan Jokowi-Dubes...
Pertemuan Jokowi-Dubes AS wujudkan 'capres boneka'
A A A
Sindonews.com - Pertemuan antara bakal calon presiden (Capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Duta Besar Amerika Serikat (AS) yang baru, Robert O Blacke menuai kritik.

Pengamat Politik dari Universitas Jayabaya Igor Dirgantara menilai, jika pertemuan tersebut benar membahas sosok cawapres untuk dipasangkan dengan Jokowi serta kepentingan Pemilu 2014 seperti yang dikabarkan sebelumnya, maka hal itu adalah bentuk besarnya kepentingan Amerika Serikat (AS) untuk mendikte pemimpin Indonesia yang baru.

Dirinya mengatakan, biasanya Amerika Serikat akan menanamkan dukungan dan pengaruh baik terhadap figur atau arah kebijakannya. "Ini bentuk pendiktean AS terhadap Indonesia akan posisi strategisnya terhadap dinamika masa depan kawasan Asia Tenggara," ujar Igor saat dihubungi wartawan, Selasa (15/4/2014).

Menurut dia, wujud nyata kepentingan Amerika Serikat dalam menguasai perekonomian dan sumber daya alam (SDA) Indonesia, sebenarnya telah terungkap dari kasus terbongkarnya penyadapan Amerika dan kebocoran kawat diplomatik Amerika oleh Edward Snowden.

Karena itu, kata dia, bukan Amerika namanya apabila tidak memiliki agenda politik ekonomi. "Wacana 'capres boneka' bukan sesuatu yang mustahil buat Jokowi dalam upaya mencari dukungan negara besar dalam pencapresannya tahun ini," ucapnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, sangat berbahaya jika Indonesia masuk orbit hegemoni Amerika, mengingat perseteruannya dengan China dalam kasus Laut China Selatan, yang juga melibatkan negara anggota ASEAN lainnya seperti Filipina dan Vietnam.

"Amerika Serikat gemar mengunjungi negara yang dianggap sekutunya untuk mendukung politik anti Suriah dan Iran. Padahal Indonesia menganut politik bebas dan aktif dari campur tangan negara besar," bebernya.

Tak hanya itu, kata dia, Amerika kini juga gencar mempropagandakan Trans Pacific Partnership (TPP) dan ingin memasukkan Indonesia sebagai anggotanya, seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Akan tetapi, lanjut dia, semua perdagangan bebas regional selalu berdampak negatif bagi Indonesia.

Maka dari itu, menurutnya, bangsa Indonesia perlu mewaspadai dengan apa yang sekarang ini terjadi di Ukraina akibat campur tangan Amerika Serikat. Isu besar di balik jatuhnya Presiden Yanukovich dinilai pertarungan penguasaan energi global antara kelompok negara TPP yang diusung AS melawan negara-negara yang tergabung dalam BRICS yang dimotori Cina dan Rusia.

"AS senantiasa punya manuver politik mematikan bagi negara yang kaya sumber daya Alam tapi tidak pro-Washington," kata Igor.

Belum lagi, ujar dia, jika dikaitkan dengan adanya kepentingan korporasi besar Amerika seperti kontrak Freeport di Papua, Newmont dan lainnya. Karena, Amerika ingin agar Asia Tenggara lebih membuka akses perdagangannya demi memulihkan kembali perekonomiannya yang terpuruk akibat krisis.

"Semua masalah tersebut bisa berdampak terhadap kedaulatan wilayah NKRI. Kepentingan AS lainnya di Indonesia adalah modernisasi Kedubes AS di Jakarta yang menelan biaya Rp4,2 triliun," imbuhnya.

Menurut dia, AS selalu memonitor Indonesia sejak dulu dan menjadikan isu HAM, demokrasi serta terorisme sebagai instrumen dasarnya untuk campur tangan urusan dalam negeri.

"Karena itu akan selalu akan ada rasa curiga dan sentimen negatif terhadap AS dari masyarakat Indonesia dalam hubungan kedua negara. Begitu juga terhadap Jokowi nantinya," pungkasnya.

Seperti diketahui, kemarin Jokowi melakukan pertemuan tertutup dengan sejumlah duta besar dari negara sahabat, salah satunya Dubes AS yang baru, Robert O Blacke. Pertemuan itu dilakukan di rumah salah seorang pengusaha yakni Jacob Soetojo yang berada di Jalan Sircon Nomor 73, Permata Hijau, Jakarta Selatan.
(kri)
Berita Terkait
Jadwal dan Panggung...
Jadwal dan Panggung Debat Capres dan Cawapres 2024
Digelar 5 Kali, Berikut...
Digelar 5 Kali, Berikut Jadwal Debat Capres dan Cawapres 2024
Haedar Nashir: Debat...
Haedar Nashir: Debat Capres-Cawapres Jangan seperti Cerdas Cermat
Soal Debat Capres-Cawapres,...
Soal Debat Capres-Cawapres, Wapres: Capres Sendiri, Cawapres Sendiri
Debat Capres-Cawapres...
Debat Capres-Cawapres dan Capaian RPJMN Kesehatan
MK Tolak Gugatan Batas...
MK Tolak Gugatan Batas Usia Capres-Cawapres 35 Tahun
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved