Sampai saat ini masalah DPT belum jelas
Minggu, 06 April 2014 - 15:40 WIB
Sampai saat ini masalah DPT belum jelas
A
A
A
Sindonews.com - Potensi kecurangan di Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 paling besar terjadi pada Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Hal tersebut dikatakan Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow. Menurutnya, kecurangan bisa terjadi karena sampai saat ini belum beres dan final soal DPT.
"Sampai saat ini kita tak pernah tahu jumlah pasti DPT karena sampai bulan lalu masih terjadi penambahan dan pengurangan," kata Jeirry dalam konferensi pers di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Minggu (6/4/2014).
Dia menjelaskan, begitu juga belum ada angka yang pasti berapa jumlah pemilih yang bertambah berdasarkan DPTb (DPT tambahan), DPK dan DPKTb (DPT khusus tambahan).
"Belum lagi dengan pemilih yang akan menggunakan KTP atau identitas lain yang akan langsung datang memilih pada hari H," ucapnya.
Selain DPT, proses cetak dan distribusi logistik juga bisa menjadi potensi kecurangan dalam pemilu. Jeirry mengatakan, jika proses tender percetakan sudah berlangsung sejak bulan Nopember 2013. "Kami khawatir, selisih logistik ini dimanipulasi untuk kepentingan rekapitulasi suara," kata Jeirry.
Jeirry menambahkan, potensi kecurangan yang ketiga bisa saja terjadi di masa tenang. "Politik uang kepada pemilih, mobilisasi birokrasi (guru, babinsa dan lurah) untuk mendukung partai incumbent dan meminta mereka memobilisasi dukungan rakyat dan kampanye terselubung juga masih dilakukan dengan menggunakan modus pertemuan warga," pungkasnya.
Hal tersebut dikatakan Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) Jeirry Sumampow. Menurutnya, kecurangan bisa terjadi karena sampai saat ini belum beres dan final soal DPT.
"Sampai saat ini kita tak pernah tahu jumlah pasti DPT karena sampai bulan lalu masih terjadi penambahan dan pengurangan," kata Jeirry dalam konferensi pers di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Minggu (6/4/2014).
Dia menjelaskan, begitu juga belum ada angka yang pasti berapa jumlah pemilih yang bertambah berdasarkan DPTb (DPT tambahan), DPK dan DPKTb (DPT khusus tambahan).
"Belum lagi dengan pemilih yang akan menggunakan KTP atau identitas lain yang akan langsung datang memilih pada hari H," ucapnya.
Selain DPT, proses cetak dan distribusi logistik juga bisa menjadi potensi kecurangan dalam pemilu. Jeirry mengatakan, jika proses tender percetakan sudah berlangsung sejak bulan Nopember 2013. "Kami khawatir, selisih logistik ini dimanipulasi untuk kepentingan rekapitulasi suara," kata Jeirry.
Jeirry menambahkan, potensi kecurangan yang ketiga bisa saja terjadi di masa tenang. "Politik uang kepada pemilih, mobilisasi birokrasi (guru, babinsa dan lurah) untuk mendukung partai incumbent dan meminta mereka memobilisasi dukungan rakyat dan kampanye terselubung juga masih dilakukan dengan menggunakan modus pertemuan warga," pungkasnya.
(maf)