Mahfud MD sebut pendidikan di Indonesia salah sistem
Minggu, 23 Maret 2014 - 15:54 WIB
Mahfud MD sebut pendidikan di Indonesia salah sistem
A
A
A
Sindonews.com - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyampaikan, ada dua hal besar yang bisa diberikan Nahdlatul Ulama (NU) dalam konteks pembangunan bangsa ke depan.
Pertama, melalui pendidikan, NU bisa melakukan penataan filosofi pendidikan. Menurut Mahfud, saat ini ada tiga persoalan pokok yang dihadapi dalam pendidikan.
"Yaitu terciptanya jarak antara ilmu dengan agama, menguatnya faham rasionalisme dalam ilmu pengetahuan, dan pengembangan iptek yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan," kata Mahfud dalam pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng), di Pendopo Kabupaten Semarang, Minggu (23/3/2014).
"Seluruh persoalan kita saat ini, seperti perilaku korupsi dan bentuk perbuatan yang tidak bertanggung jawab lainnya adalah sebab dari filosofi pendidikan kita yang salah," imbuhnya.
Calon presiden (capres) yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menjelaskan, NU harus terlibat aktif dalam pemerintahan dan pengelolaan Negara. Jika NU ingin membangun bangsa ini maka NU harus memiliki kekuasaan.
"Kekuasaan itu penting bagi kita untuk mengembangkan diri. Bayangkan, dulu ketika umat Islam dijajah oleh Belanda, tidak memiliki kekuasaan, maka anak-anak kita tidak bisa sekolah. Setelah kita merdeka, maka santri bisa menjadi menteri bahkan Presiden," pungkasnya.
Pertama, melalui pendidikan, NU bisa melakukan penataan filosofi pendidikan. Menurut Mahfud, saat ini ada tiga persoalan pokok yang dihadapi dalam pendidikan.
"Yaitu terciptanya jarak antara ilmu dengan agama, menguatnya faham rasionalisme dalam ilmu pengetahuan, dan pengembangan iptek yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan," kata Mahfud dalam pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng), di Pendopo Kabupaten Semarang, Minggu (23/3/2014).
"Seluruh persoalan kita saat ini, seperti perilaku korupsi dan bentuk perbuatan yang tidak bertanggung jawab lainnya adalah sebab dari filosofi pendidikan kita yang salah," imbuhnya.
Calon presiden (capres) yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menjelaskan, NU harus terlibat aktif dalam pemerintahan dan pengelolaan Negara. Jika NU ingin membangun bangsa ini maka NU harus memiliki kekuasaan.
"Kekuasaan itu penting bagi kita untuk mengembangkan diri. Bayangkan, dulu ketika umat Islam dijajah oleh Belanda, tidak memiliki kekuasaan, maka anak-anak kita tidak bisa sekolah. Setelah kita merdeka, maka santri bisa menjadi menteri bahkan Presiden," pungkasnya.
(maf)