Jadi capres, Jokowi belum tentu menang
Rabu, 19 Maret 2014 - 03:08 WIB
Jadi capres, Jokowi belum tentu menang
A
A
A
Sindonews.com - Meski dielu-elukan sebagai calon presiden (capres) yang diinginkan masyarakat banyak, Joko Widodo (Jokowi) belum pasti bisa memenangkan pertarungan di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 nanti.
"Walaupun Jokowi tinggi elektabilitasnya, tapi dinamika politik akan terus berjalan. Pasangan (cawapres) Jokowi akan ikut mempengaruhi," kata Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat dalam acara rilis survei Indikator Politik Indonesia (Indikator) yang bertajuk "Pro Kontra Seputar Pencalonan Jokowi di Mata Pemilih" di kantor Indikator, Jakarta, Selasa (18/3/2014).
Karena pengalaman pemilu sebelumnya membuktikan, pemilih bukan hanya mempertimbangkan siapa capresnya, tapi juga siapa cawapres pendampingnya. Karena, siapa pasangan yang akan mendampingi Jokowi akan mempengaruhi kemungkinan peta koalisi.
Selain itu, susunan kabinet apa yang disuguhkan oleh Jokowi juga turut mempengaruhi. Orang-orang yang mengisi kabinet pun haruslah orang yang berkompeten di bidangnya, dan bukan orang parpol. Jangan sampai kabinet yang disusung Jokowi hanya sekedar pembagian jatah menteri ke parpol koalisi.
"Jangan sekedar 'kabinet pelangi' yang hanya sebentar saja terlihat keindahannya. Orang-orang di dalamnya harus punya otoritas kompetensi," tambah Koordinator Rumah Kebangsaan itu.
Namun begitu, Jokowi jangan keburu senang dengan elektabilitasnya. Karena Indonesia memiliki stok tokoh terbaik lainnya. Jokowi akan memiliki kompetitor yang seimbang untuk bersaing dalam Pilpres 2014 nanti.
"Walaupun Jokowi tinggi elektabilitasnya, tapi dinamika politik akan terus berjalan. Pasangan (cawapres) Jokowi akan ikut mempengaruhi," kata Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat dalam acara rilis survei Indikator Politik Indonesia (Indikator) yang bertajuk "Pro Kontra Seputar Pencalonan Jokowi di Mata Pemilih" di kantor Indikator, Jakarta, Selasa (18/3/2014).
Karena pengalaman pemilu sebelumnya membuktikan, pemilih bukan hanya mempertimbangkan siapa capresnya, tapi juga siapa cawapres pendampingnya. Karena, siapa pasangan yang akan mendampingi Jokowi akan mempengaruhi kemungkinan peta koalisi.
Selain itu, susunan kabinet apa yang disuguhkan oleh Jokowi juga turut mempengaruhi. Orang-orang yang mengisi kabinet pun haruslah orang yang berkompeten di bidangnya, dan bukan orang parpol. Jangan sampai kabinet yang disusung Jokowi hanya sekedar pembagian jatah menteri ke parpol koalisi.
"Jangan sekedar 'kabinet pelangi' yang hanya sebentar saja terlihat keindahannya. Orang-orang di dalamnya harus punya otoritas kompetensi," tambah Koordinator Rumah Kebangsaan itu.
Namun begitu, Jokowi jangan keburu senang dengan elektabilitasnya. Karena Indonesia memiliki stok tokoh terbaik lainnya. Jokowi akan memiliki kompetitor yang seimbang untuk bersaing dalam Pilpres 2014 nanti.
(hyk)