Populer belum tentu mampu jadi capres
Minggu, 16 Maret 2014 - 17:39 WIB
Populer belum tentu mampu jadi capres
A
A
A
Sindonews.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) diminta untuk menyiapkan debat terbuka bagi para calon presiden (capres). Debat capres penting agar masyarakat dapat menilai kualitas capres secara rasional. Dari debat itu akan terlihat apakah sosok yang populer layak untuk menjadi presiden.
Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKS Fahri Hamzah yakin seorang yang paling populer sekalipun belum tentu unggul saat berdebat. “Saya yakin dengan diselenggarakannya debat capres, mata masyarakat akan lebih terbuka. Yang paling populer nantinya akan kelihatan bahwa dia bukan yang paling dianggap mampu menjadi capres,” tutur Fahri ketika dihubungi di sela-sela kampanye PKS di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (16/3/2014).
Fahri tidak setuju jika ada anggapan calon yang tidak sepopuler dengan calon lain tidak akan dipilih masyarakat. Oleh karena itu, kata dia, dukungan masyarakat harus diuji dalam proses pemilu seperti debat dan pemilu itu sendiri. ”Dukungan nyata masyarakat bisa dilihat dari hasil pemilu dan bukan dari hasil survei,” ujarnya.
Dia khawatir masyarakat lebih menggunakan emosionalnya dalam memilih capres pada pemilu nanti, ketimbang ketimbang rasionalitasnya. "Pilihan yang akan dijatuhkan masyarakat terhadap calon presiden tampaknya tidak dilandasi oleh pikiran yang rasional terhadap partai politik ataupun calon presiden. Pilihan tampaknya akan diberikan hanya secara emosional dan tidak proporsional,” ujar.
Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKS Fahri Hamzah yakin seorang yang paling populer sekalipun belum tentu unggul saat berdebat. “Saya yakin dengan diselenggarakannya debat capres, mata masyarakat akan lebih terbuka. Yang paling populer nantinya akan kelihatan bahwa dia bukan yang paling dianggap mampu menjadi capres,” tutur Fahri ketika dihubungi di sela-sela kampanye PKS di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (16/3/2014).
Fahri tidak setuju jika ada anggapan calon yang tidak sepopuler dengan calon lain tidak akan dipilih masyarakat. Oleh karena itu, kata dia, dukungan masyarakat harus diuji dalam proses pemilu seperti debat dan pemilu itu sendiri. ”Dukungan nyata masyarakat bisa dilihat dari hasil pemilu dan bukan dari hasil survei,” ujarnya.
Dia khawatir masyarakat lebih menggunakan emosionalnya dalam memilih capres pada pemilu nanti, ketimbang ketimbang rasionalitasnya. "Pilihan yang akan dijatuhkan masyarakat terhadap calon presiden tampaknya tidak dilandasi oleh pikiran yang rasional terhadap partai politik ataupun calon presiden. Pilihan tampaknya akan diberikan hanya secara emosional dan tidak proporsional,” ujar.
(dam)