Warga sambut kedatangan HT di Madiun dan Ponorogo
Kamis, 13 Maret 2014 - 21:48 WIB
Warga sambut kedatangan HT di Madiun dan Ponorogo
A
A
A
Sindonews.com - Pembagian asuransi gratis oleh Cawapres dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Hary Tanoesoedibjo (HT) disambut gembira oleh kader partai. Kader Hanura berharap pembagian asuransi gratis ini bisa menjadi program pemerintah jika kelak Wiranto dan HT (WIN-HT) menjadi pasangan yang memimpin Indonesia.
“Ya tidak berharap ada musibah, tapi kalau ada asuransi yang seperti ini (gratis) ya seneng juga. Apalagi kalau ini jadi program pemerintah,” ungkap Endah (44), warga Tambakbayan, Ponorogo, saat ditemui usai kedatangan HT di daerah tersebut pada hari ini, Kamis (13/3/2014).
Selain asuransi WIN-HT, di Dusun Keden, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, HT sempat menyerahkan bantuan berupa 500 paket sembako kepada warga setempat. Pengusaha asli Surabaya ini juga memberi dua buah traktor kepada warga.
Pada hari ini HT mengunjungi Madiun, Ponorogo dan sekitarnya. Usai menyerahkan klaim asuransi kepada tiga orang ahli waris pemegang kartu asuransi WIN-HT yang merupakan kader Hanura di sekitar Madiun, HT mengatakan, asuransi gratis adalah hal yang bisa diberikan oleh negara bila telah ditata dengan baik. Selain asuransi gratis, kredit bunga 0 persen adalah fasilitas yang juga bisa diberikan.
Menurut HT, asuransi gratis dan kredit 0 persen yang telah diberikan ke sejumlah kader Partai Hanura tersebut merupakan model percontohan program nasional. Namun HT mengatakan, dua program tersebut bisa dilaksanakan jika pemerintah memiliki niat yang baik untuk melakukan perubahan.
“Tentu saja kalau mau negaranya baik harus ada pemimpin yang baik juga, yang mengerti apa yang harus dilakukan. Yang mau membawa kepada perubahan,” ujarnya di Madiun.
Di depan sejumlah kadernya di Madiun maupun Ponorogo yang jadi lokasi kunjungannya, HT menyebut saat ini Indonesia masih menemui banyak persoalan yang harus diselesaikan. Mulai korupsi yang harus dituntaskan pemberantasannya hingga ke regulasi-regulasinya, dan persoalan sumber daya alam yang belum tergarap dengan optimal.
Kepada para warga Ponorogo yang sebagian besar mata pencahariannya adalah petani, HT mengingatkan kondisi pertanian yang sudah masuk ke taraf membahayakan. Yaitu lahan yang semakin sempit, produktivitas yang stagnan, dan mulai ditinggalkannya profesi petani oleh anak cucu para petani.
Semakin sempitnya lahan adalah akibat mudahnya alih fungsi menjadi berbagai bangunan. Untuk mengatasi, pemerintah bisa memfasilitas petani yang ingin melebarkan lahan dengan fasilitas cicilan atau sejenisnya. Profesi petani juga ditinggalkan karena sistem bertani masih konvensional sehingga pendapatan tidak pernah meningkat sehingga tidak menarik generasi muda.
“Ya tidak berharap ada musibah, tapi kalau ada asuransi yang seperti ini (gratis) ya seneng juga. Apalagi kalau ini jadi program pemerintah,” ungkap Endah (44), warga Tambakbayan, Ponorogo, saat ditemui usai kedatangan HT di daerah tersebut pada hari ini, Kamis (13/3/2014).
Selain asuransi WIN-HT, di Dusun Keden, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, HT sempat menyerahkan bantuan berupa 500 paket sembako kepada warga setempat. Pengusaha asli Surabaya ini juga memberi dua buah traktor kepada warga.
Menurut HT, asuransi gratis dan kredit 0 persen yang telah diberikan ke sejumlah kader Partai Hanura tersebut merupakan model percontohan program nasional. Namun HT mengatakan, dua program tersebut bisa dilaksanakan jika pemerintah memiliki niat yang baik untuk melakukan perubahan.
“Tentu saja kalau mau negaranya baik harus ada pemimpin yang baik juga, yang mengerti apa yang harus dilakukan. Yang mau membawa kepada perubahan,” ujarnya di Madiun.
Di depan sejumlah kadernya di Madiun maupun Ponorogo yang jadi lokasi kunjungannya, HT menyebut saat ini Indonesia masih menemui banyak persoalan yang harus diselesaikan. Mulai korupsi yang harus dituntaskan pemberantasannya hingga ke regulasi-regulasinya, dan persoalan sumber daya alam yang belum tergarap dengan optimal.
Kepada para warga Ponorogo yang sebagian besar mata pencahariannya adalah petani, HT mengingatkan kondisi pertanian yang sudah masuk ke taraf membahayakan. Yaitu lahan yang semakin sempit, produktivitas yang stagnan, dan mulai ditinggalkannya profesi petani oleh anak cucu para petani.
Semakin sempitnya lahan adalah akibat mudahnya alih fungsi menjadi berbagai bangunan. Untuk mengatasi, pemerintah bisa memfasilitas petani yang ingin melebarkan lahan dengan fasilitas cicilan atau sejenisnya. Profesi petani juga ditinggalkan karena sistem bertani masih konvensional sehingga pendapatan tidak pernah meningkat sehingga tidak menarik generasi muda.
(hyk)