Tan Malaka & TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 (bagian 2)
Senin, 10 Maret 2014 - 05:26 WIB
Tan Malaka & TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 (bagian 2)
A
A
A
PADA 15 Desember 1925, Sardjono, Budisutjitro, Winanta, Alimin, Musso, Ali Archam, Said Ali dengan dua orang kawan dari Solo, dan dua orang dari Jawa Timur, berkumpul di Candi Prambanan, pada 25 Desember 1925.
Mereka sepakat untuk melakukan revolusi serentak pada 18 Juni 1926. Namun, rencana itu gagal. Tidak ada pemberontakan di sejumlah daerah pada tanggal itu. Lalu, pada 22 Duni 1926, sebelas orang yang menyetujui keputusan Candi Perambanan kembali berkumpul dan sepakat meneruskan revolusi Perambanan.
Benar saja, pada 12/13 November 1926, Revolusi PKI pecah. Terjadi pemberontakan di Jakarta, Ciamis/Bandung dan Menes, Banten, serta Silungkang, Sumatera Barat.
Pemberontakan ini berbuah kegagalan yang berakibat sangat fatal bagi pergerakan kemerdekaan. Pada pemberontakan pertama ini, sebanjak 13.000 orang komunis ditangkap. Sedang pada pemberontakan Silungkang 1 Januari 1927, sebanyak 7.000 lebih komunis di seluruh Sumatera, ditangkap.
Sejak itu, PKI dinyatakan dilarang. Inilah, bencana terbesar PKI di masa prakemerdekaan. Djamaluddin mencatat, 1 Januari 1927 adalah hari kematian PKI yang mereka bentuk tahun 1920-an.
Lantas, di mana peran Tan Malaka dalam pemberontakan itu? Dijelaskan Djamaluddin, saat itu Tan Malaka sedang berada di Canton, dalam pembuangan dan berusaha menolak rencana pemberontakan. Setelah Keputusan Perambanan diambil, Alimin diutus untuk menemui Tan Malaka. Namun bukan di Canton, tetapi di Manila.
Di Manila, Tan Malaka menyamar dengan memakai nama Fuentes, sejak pertengahan tahun 1925. Setelah mendengarkan keterangan Alimin tentang rencana pemberontakan, Tan Malaka mengatakan, bahwa keputusan itu sangat membahayakan dan merugikan PKI.
"Bukankah pada bukan Djanuari 1925 setahun jang lampau saja sudah menjatakan di Canton, bahwa membubarkan Sarekat Rakjat itu adalah suatu kesalahan taktik jang amat besar, membahajakan dan merugikan kepada PKI?".
Lebih jauh, Tan Malaka menjelaskan kepada Alimin, tidak ada dalam sejarah revolusioner yang menyatakan bahwa sesuatu revolusi itu bisa ditentukan, hari, tanggal, bulan, dan tahunnya.
Bersambung ke tulisan selanjutnya:
Tan Malaka & TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 (bagian 3)
Baca juga:
Tan Malaka & TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966
Mereka sepakat untuk melakukan revolusi serentak pada 18 Juni 1926. Namun, rencana itu gagal. Tidak ada pemberontakan di sejumlah daerah pada tanggal itu. Lalu, pada 22 Duni 1926, sebelas orang yang menyetujui keputusan Candi Perambanan kembali berkumpul dan sepakat meneruskan revolusi Perambanan.
Benar saja, pada 12/13 November 1926, Revolusi PKI pecah. Terjadi pemberontakan di Jakarta, Ciamis/Bandung dan Menes, Banten, serta Silungkang, Sumatera Barat.
Pemberontakan ini berbuah kegagalan yang berakibat sangat fatal bagi pergerakan kemerdekaan. Pada pemberontakan pertama ini, sebanjak 13.000 orang komunis ditangkap. Sedang pada pemberontakan Silungkang 1 Januari 1927, sebanyak 7.000 lebih komunis di seluruh Sumatera, ditangkap.
Sejak itu, PKI dinyatakan dilarang. Inilah, bencana terbesar PKI di masa prakemerdekaan. Djamaluddin mencatat, 1 Januari 1927 adalah hari kematian PKI yang mereka bentuk tahun 1920-an.
Lantas, di mana peran Tan Malaka dalam pemberontakan itu? Dijelaskan Djamaluddin, saat itu Tan Malaka sedang berada di Canton, dalam pembuangan dan berusaha menolak rencana pemberontakan. Setelah Keputusan Perambanan diambil, Alimin diutus untuk menemui Tan Malaka. Namun bukan di Canton, tetapi di Manila.
Di Manila, Tan Malaka menyamar dengan memakai nama Fuentes, sejak pertengahan tahun 1925. Setelah mendengarkan keterangan Alimin tentang rencana pemberontakan, Tan Malaka mengatakan, bahwa keputusan itu sangat membahayakan dan merugikan PKI.
"Bukankah pada bukan Djanuari 1925 setahun jang lampau saja sudah menjatakan di Canton, bahwa membubarkan Sarekat Rakjat itu adalah suatu kesalahan taktik jang amat besar, membahajakan dan merugikan kepada PKI?".
Lebih jauh, Tan Malaka menjelaskan kepada Alimin, tidak ada dalam sejarah revolusioner yang menyatakan bahwa sesuatu revolusi itu bisa ditentukan, hari, tanggal, bulan, dan tahunnya.
Bersambung ke tulisan selanjutnya:
Tan Malaka & TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 (bagian 3)
Baca juga:
Tan Malaka & TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966
(san)