Wiranto: Jadi pemimpin tidak bisa instan
Senin, 10 Maret 2014 - 01:17 WIB
Wiranto: Jadi pemimpin tidak bisa instan
A
A
A
Sindonews.com - Calon presiden (capres) dari Partai Hanura, Wiranto, menyampaikan untuk menjadi kepala negara seseorang harus memiliki pengalaman dari semua bidang.
"Pemimpin tidak bisa instan perlu ada pengalaman politik, pengalaman kerakyatan, pengalaman jabatan, dalam partai itu sendiri. Dan harus menggali pengalaman begitu banyak, baik dari diri sendiri atau orang lain. Baru dia matang jadi pemimpin," kata Wiranto saat menghadiri kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, Minggu (9/3/2014).
Wiranto juga mengatakan, seorang pemimpin yang berpengalaman begitu penting agar bisa menyelesaikan persoalan satu bangsa.
"Pemimpin tidak instan, tidak bisa dipaksakan dan dimanipulasi sebab negeri ini butuh pemimpin yang ke depan mampu membawa rakyat Indonesia dalam satu konteks persaingan global yang sangat dahsyat dan ketat," tegasnya.
"Sehingga kalau pemimpin tidak tahu permasalahan ekonomi global, masalah nasional dan regional dan tidak mampu melihat fenomena yang dihadapi permasalahan serta solusi, ya kita tetap seperti ini," sambungnya.
Ketua Umum DPP Partai Hanura ini berharap agar ke depan hadir pemimpin Indonesia dari tokoh muda yang benar-benar memiliki pengalaman dan integritas. "Supaya muncul pemimpin muda punya kecerdasan, punya pengalaman, punya keahlian tetapi punya integritas juga. Punya wawasan kebangsaan yang baik," tuntasnya.
Selain itu, untuk menjadi pemimpin maka diperlukan adanya sikap bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. "Pemimpin harus punya prinsip akuntabilitas mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan," kata Wiranto.
Hal ini penting karena, kata dia, seorang pemimpin khususnya di lembaga pemerintahan terpilih oleh rakyat sehingga mereka harus bisa menjaga apa yang telah diamanatkan kepadanya.
"Kalau kita bicara pemimpin rakyat, kita kan pelayan rakyat bukan raja kecil di antara rakyat. Kalau pemimpin rakyat ya merakyat mendahulukan kepentingan rakyatnya bukan dirinya, kan yang pilih rakyat beliau dimandatkan rakyat," terangnya.
Selain harus memiliki sikap akuntabilitas, mantan Panglima ABRI ini juga menekankan pemimpin harus memiliki sikap dekat dengan rakyat agar bisa meyakinkan visi dan misi saat akan dipilih sebagai pemimpin. "Kalau kita ingin dipilih kita harus dekat dengan mereka harus bisa meyakini kalau kita dapat dipercaya untuk membawa misi-misi kerakyatan mereka," pungkasnya.
"Pemimpin tidak bisa instan perlu ada pengalaman politik, pengalaman kerakyatan, pengalaman jabatan, dalam partai itu sendiri. Dan harus menggali pengalaman begitu banyak, baik dari diri sendiri atau orang lain. Baru dia matang jadi pemimpin," kata Wiranto saat menghadiri kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, Minggu (9/3/2014).
Wiranto juga mengatakan, seorang pemimpin yang berpengalaman begitu penting agar bisa menyelesaikan persoalan satu bangsa.
"Pemimpin tidak instan, tidak bisa dipaksakan dan dimanipulasi sebab negeri ini butuh pemimpin yang ke depan mampu membawa rakyat Indonesia dalam satu konteks persaingan global yang sangat dahsyat dan ketat," tegasnya.
"Sehingga kalau pemimpin tidak tahu permasalahan ekonomi global, masalah nasional dan regional dan tidak mampu melihat fenomena yang dihadapi permasalahan serta solusi, ya kita tetap seperti ini," sambungnya.
Ketua Umum DPP Partai Hanura ini berharap agar ke depan hadir pemimpin Indonesia dari tokoh muda yang benar-benar memiliki pengalaman dan integritas. "Supaya muncul pemimpin muda punya kecerdasan, punya pengalaman, punya keahlian tetapi punya integritas juga. Punya wawasan kebangsaan yang baik," tuntasnya.
Selain itu, untuk menjadi pemimpin maka diperlukan adanya sikap bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. "Pemimpin harus punya prinsip akuntabilitas mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan," kata Wiranto.
Hal ini penting karena, kata dia, seorang pemimpin khususnya di lembaga pemerintahan terpilih oleh rakyat sehingga mereka harus bisa menjaga apa yang telah diamanatkan kepadanya.
"Kalau kita bicara pemimpin rakyat, kita kan pelayan rakyat bukan raja kecil di antara rakyat. Kalau pemimpin rakyat ya merakyat mendahulukan kepentingan rakyatnya bukan dirinya, kan yang pilih rakyat beliau dimandatkan rakyat," terangnya.
Selain harus memiliki sikap akuntabilitas, mantan Panglima ABRI ini juga menekankan pemimpin harus memiliki sikap dekat dengan rakyat agar bisa meyakinkan visi dan misi saat akan dipilih sebagai pemimpin. "Kalau kita ingin dipilih kita harus dekat dengan mereka harus bisa meyakini kalau kita dapat dipercaya untuk membawa misi-misi kerakyatan mereka," pungkasnya.
(hyk)