Somasi pengkritiknya, tindakan SBY kekanak-kanakan
Selasa, 28 Januari 2014 - 06:05 WIB
Somasi pengkritiknya, tindakan SBY kekanak-kanakan
A
A
A
Sindonews.com - Dengan mensomasi sejumlah politikus melalui kuasa hukumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai gagal dalam melihat dirinya sebagai pejabat publik. Bahkan, langkah SBY tersebut dinilai abu-abu apakah sebagai pribadi atau kepala negara.
"Penunjukan kuasa hukum keluarga untuk menggugat orang-orang yang berbeda pandangan secara politik atau kebijakan dengan dirinya, merupakan upaya untuk mengaburkan batas antara dirinya sebagai pejabat publik dan dirinya secara pribadi," ujar Peneliti Indonesian Legal Roundtable (ILR), Erwin Natosmal Oemar saat dihubungi Sindonews, Selasa (28/1/2014).
Selain gagal memahami dirinya sebagai pejabat publik, lanjut dia, bisa jadi bahwa penunjukan kuasa hukum tersebut dilakukan sebagai persiapan dalam menghadang kritikan oposisi menjelang lengser.
"Mungkin dia berpikiran bahwa di masa menjabat saja sudah banyak kritik apalagi tidak menjabat?" tandasnya.
Meski demikian, tambah Erwin, tetap saja tindakan SBY yang mensomasi para pengkritiknya adalah tindakan yang kekanak-kanakan. "SBY menunjukkan banalitas dirinya sebagai seorang pemimpin," tutupnya.
Seperti diketahui, Presiden SBY melalui pengacara keluarga melayangkan somasi kepada beberapa pihak. Mereka yang disomasi antara lain aktivis ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Sri Mulyono, mantan Menteri era Presiden Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli, dan politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah.
Palmer Situmorang selaku kuasa hukum keluarga SBY mengungkapkan somasi kepada Rizal Ramli yang kedua akan diajukan jika tidak ada niat baik dari pihak yang bersangkutan untuk menyelesaikannya.
"Kami sudah melayangkan somasi kepada saudara Rizal Ramli yang menuding gratifikasi jabatan wapres di salah satu stasiun televisi nasional," kata Palmer di Resto Merah Delima, Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, Kamis 23 Januari 2014 lalu.
Baca berita:
Demokrat gerah somasi SBY jadi polemik
"Penunjukan kuasa hukum keluarga untuk menggugat orang-orang yang berbeda pandangan secara politik atau kebijakan dengan dirinya, merupakan upaya untuk mengaburkan batas antara dirinya sebagai pejabat publik dan dirinya secara pribadi," ujar Peneliti Indonesian Legal Roundtable (ILR), Erwin Natosmal Oemar saat dihubungi Sindonews, Selasa (28/1/2014).
Selain gagal memahami dirinya sebagai pejabat publik, lanjut dia, bisa jadi bahwa penunjukan kuasa hukum tersebut dilakukan sebagai persiapan dalam menghadang kritikan oposisi menjelang lengser.
"Mungkin dia berpikiran bahwa di masa menjabat saja sudah banyak kritik apalagi tidak menjabat?" tandasnya.
Meski demikian, tambah Erwin, tetap saja tindakan SBY yang mensomasi para pengkritiknya adalah tindakan yang kekanak-kanakan. "SBY menunjukkan banalitas dirinya sebagai seorang pemimpin," tutupnya.
Seperti diketahui, Presiden SBY melalui pengacara keluarga melayangkan somasi kepada beberapa pihak. Mereka yang disomasi antara lain aktivis ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Sri Mulyono, mantan Menteri era Presiden Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli, dan politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah.
Palmer Situmorang selaku kuasa hukum keluarga SBY mengungkapkan somasi kepada Rizal Ramli yang kedua akan diajukan jika tidak ada niat baik dari pihak yang bersangkutan untuk menyelesaikannya.
"Kami sudah melayangkan somasi kepada saudara Rizal Ramli yang menuding gratifikasi jabatan wapres di salah satu stasiun televisi nasional," kata Palmer di Resto Merah Delima, Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, Kamis 23 Januari 2014 lalu.
Baca berita:
Demokrat gerah somasi SBY jadi polemik
(kri)