Soal surat misterius, KPK dinilai tak satu visi
Rabu, 13 November 2013 - 15:31 WIB
Soal surat misterius, KPK dinilai tak satu visi
A
A
A
Sindonews.com - Politikus Partai Demokrat yang juga bagian dari anggota organisasi masyarakat (Ormas) Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), Gede Pasek Suardika menilai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak satu visi.
Hal itu disampaikannya menyusul surat misterius yang dibawa penyidik KPK dari penggeledahan di rumah mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Dalam surat itu ditujukan untuk Anas yang ditulis dan dikirim oleh salah seorang yang mengaku pegawai lembaga superbody itu.
"Saya setuju dengan pendapat Jubir KPK yang mengatakan surat kaleng tidak perlu direspon, sayangnya juru sita KPK malah tertarik (membawa). Nah jadilah buat penasaran banyak orang. Juru bicara dan juru sita KPK enggak satu visi memahami mana yang penting dan tidak," katanya saat dihubungi wartawan, Rabu (13/11/2013).
Anggota Komisi III ini pun enggan mengomentari terlalu jauh perihal isi surat tersebut. "Kalau aku sih enggak anggap surat begituan. Paling-paling niatnya untuk mengadu aja. Tapi, kan enggak bisa juga ngelarang orang lain punya penilaian beda dengan aku," pungkasnya.
Sebelumnya, Juru Bicara PPI, Ma'mun Murod mengatakan, ada sebuah surat yang ditulis dan dikirimkan oleh salah seorang yang mengaku sebagai pegawai KPK dengan latar belakang organisasi yang sama dengan Anas, yang disita oleh KPK.
"Sifatnya rahasia, jadi surat (aslinya) sudah dibawa KPK. Surat itu harus dibacakan karena terkait dengan identitas seseorang. Ini sudah saya fotokopi suratnya," kata Ma'mun Murod dalam konferensi persnya di Markas PPI, Duren Sawit, Jakarta Timur, kemarin.
Namun saat dikonfirmasi, bagaimana surat tersebut sudah difotokopi sebelum disita oleh KPK, Ma'mun mengaku tidak tahu menahu. "Saya tidak tahu, sudah ada saja fotokopinya," kata Ma'mun.
Baca berita:
Surat untuk Anas dari pegawai KPK
Hal itu disampaikannya menyusul surat misterius yang dibawa penyidik KPK dari penggeledahan di rumah mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Dalam surat itu ditujukan untuk Anas yang ditulis dan dikirim oleh salah seorang yang mengaku pegawai lembaga superbody itu.
"Saya setuju dengan pendapat Jubir KPK yang mengatakan surat kaleng tidak perlu direspon, sayangnya juru sita KPK malah tertarik (membawa). Nah jadilah buat penasaran banyak orang. Juru bicara dan juru sita KPK enggak satu visi memahami mana yang penting dan tidak," katanya saat dihubungi wartawan, Rabu (13/11/2013).
Anggota Komisi III ini pun enggan mengomentari terlalu jauh perihal isi surat tersebut. "Kalau aku sih enggak anggap surat begituan. Paling-paling niatnya untuk mengadu aja. Tapi, kan enggak bisa juga ngelarang orang lain punya penilaian beda dengan aku," pungkasnya.
Sebelumnya, Juru Bicara PPI, Ma'mun Murod mengatakan, ada sebuah surat yang ditulis dan dikirimkan oleh salah seorang yang mengaku sebagai pegawai KPK dengan latar belakang organisasi yang sama dengan Anas, yang disita oleh KPK.
"Sifatnya rahasia, jadi surat (aslinya) sudah dibawa KPK. Surat itu harus dibacakan karena terkait dengan identitas seseorang. Ini sudah saya fotokopi suratnya," kata Ma'mun Murod dalam konferensi persnya di Markas PPI, Duren Sawit, Jakarta Timur, kemarin.
Namun saat dikonfirmasi, bagaimana surat tersebut sudah difotokopi sebelum disita oleh KPK, Ma'mun mengaku tidak tahu menahu. "Saya tidak tahu, sudah ada saja fotokopinya," kata Ma'mun.
Baca berita:
Surat untuk Anas dari pegawai KPK
(kri)