Alasan SBY terbitkan buku dinilai tak elok
Selasa, 12 November 2013 - 05:35 WIB
Alasan SBY terbitkan buku dinilai tak elok
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan meluncurkan buku yang ditulisnya sendiri berjudul "Selalu Ada Pilihan" bulan Desember mendatang. Buku tersebut dibuat sebagai bentuk respons SBY terhadap kritikan dan fitnah dari masyarakat dan sejumlah kalangan terhadapnya.
Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Muradi mengatakan, dalam komunikasi politik langkah SBY sebagai bagian dari respons atas opini yang berkembang adalah wajar dilakukan oleh siapapun terlebih politikus.
"Yang menjadi masalah adalah alasan dari penerbitan buku tersebut sebagai respons atas fitnah dan tuduhan publik," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Selasa (12/11/2013).
Ia beranggapan, kurang elok jika alasan SBY menerbitkan buku itu karena merespons berbagai tudingan yang ditujukan kepadanya. Mengingat konsekuensi dari seorang pemimpin adalah menjadikan kritikan, termasuk fitnah di dalamnya sebagai basis untuk merumuskan kebijakan.
"Agar dapat berjalan dengan baik setelah menyelesaikan periode kedua kepemimpinannya," kata pengajar Universitas Pertahanan ini.
Ditambahkannya, penerbitan buku tanpa dasar argumentasi yang jelas hanya akan memperkuat asumsi publik bahwa SBY adalah Presiden yang mendahulukan pencitraan dari pada penuntasan tugas-tugasnya.
"Buku ini justru bisa membuka serangan baru terhadap pemerintahannya atau dirinya sebagai presiden dan pribadi," pungkasnya.
Baca berita:
Buku SBY ditujukan untuk Pilpres 2014
Pengamat Politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Muradi mengatakan, dalam komunikasi politik langkah SBY sebagai bagian dari respons atas opini yang berkembang adalah wajar dilakukan oleh siapapun terlebih politikus.
"Yang menjadi masalah adalah alasan dari penerbitan buku tersebut sebagai respons atas fitnah dan tuduhan publik," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Selasa (12/11/2013).
Ia beranggapan, kurang elok jika alasan SBY menerbitkan buku itu karena merespons berbagai tudingan yang ditujukan kepadanya. Mengingat konsekuensi dari seorang pemimpin adalah menjadikan kritikan, termasuk fitnah di dalamnya sebagai basis untuk merumuskan kebijakan.
"Agar dapat berjalan dengan baik setelah menyelesaikan periode kedua kepemimpinannya," kata pengajar Universitas Pertahanan ini.
Ditambahkannya, penerbitan buku tanpa dasar argumentasi yang jelas hanya akan memperkuat asumsi publik bahwa SBY adalah Presiden yang mendahulukan pencitraan dari pada penuntasan tugas-tugasnya.
"Buku ini justru bisa membuka serangan baru terhadap pemerintahannya atau dirinya sebagai presiden dan pribadi," pungkasnya.
Baca berita:
Buku SBY ditujukan untuk Pilpres 2014
(kri)