PDIP khawatir 10,4 juta pemilih bermasalah dimanipulasi
Senin, 11 November 2013 - 18:00 WIB
PDIP khawatir 10,4 juta pemilih bermasalah dimanipulasi
A
A
A
Sindonews.com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) masih trauma dengan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) sebelumnya yang dipenuhi berbagai kecurangan. Hal itu dikhawatirkan kembali terulang pada Pemilu 2014.
"Mengacu pada hasil Pileg (Pemilihan Legislatif) dan Pilpres (Pemilihan Presiden) 2004 dan 2009 lalu saja, hingga hari ini sebenarnya PDIP masih merasakan bahwa pemilu yang lalu dilakukan tidak jujur dan adil, juga tidak dilakukan secara transparan," kata Ketua DPP PDIP, Puan Maharani, di Hotel Grand Pasundan, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (11/11/2013).
Atas dasar itu, PDIP khawatir adanya pemilih bermasalah yang berjumlah 10,4 juta jiwa akan menuai masalah pada pemilu nanti dan bisa dimanipulasi. Apalagi golongan putih (golput) diprediksi masih akan ada.
Jika golput dan DPT bermasalah, kemudian dimanipulasi untuk memenangkan parpol tertentu, itu jelas sebuah kebohongan publik. Hal itu juga tidak memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat.
"Jadi, apakah kemudian setiap pemilu kita akan membuat suatu pemilu yang bohongan dan pura-pura dengan memanipulasi data-data. Harusnya dari dulu-dulu masalah seperti ini sudah bisa diselesaikan," jelas Puan.
Ia lalu meminta pemilih bermasalah itu diselesaikan KPU dengan baik, agar tidak jadi masalah dikemudian hari. "Berikan kami akurasi data yang memang cukup akurat dan lengkap, bahwa tidak akan ada manipulasi suara berkaitan dengan masalah DPT," tegasnya.
PDIP pun makin gusar lantaran Mahkamah Konstitusi (MK) yang jadi garda terakhir dalam proses demokrasi ternyata juga bermasalah. PDIP bahkan kini tidak percaya dengan kredibilitas MK karena selama ini MK sering tidak adil dalam menangani sengketa pemilihan umum kepala darah (pemilukada).
"Saya rasa kekhawatiran ini bukan hanya dirasakan oleh PDIP, tapi semua parpol (partai politik) lain dan tentu saja rakyat Indonesia yang mau peduli dengan pemilu, di mana pesta demokrasi itu hanya dilakukan lima tahun sekali," tandasnya.
Berita terkait:
KPU & Kemendagri akan koordinasi soal pemilih bermasalah
"Mengacu pada hasil Pileg (Pemilihan Legislatif) dan Pilpres (Pemilihan Presiden) 2004 dan 2009 lalu saja, hingga hari ini sebenarnya PDIP masih merasakan bahwa pemilu yang lalu dilakukan tidak jujur dan adil, juga tidak dilakukan secara transparan," kata Ketua DPP PDIP, Puan Maharani, di Hotel Grand Pasundan, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (11/11/2013).
Atas dasar itu, PDIP khawatir adanya pemilih bermasalah yang berjumlah 10,4 juta jiwa akan menuai masalah pada pemilu nanti dan bisa dimanipulasi. Apalagi golongan putih (golput) diprediksi masih akan ada.
Jika golput dan DPT bermasalah, kemudian dimanipulasi untuk memenangkan parpol tertentu, itu jelas sebuah kebohongan publik. Hal itu juga tidak memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat.
"Jadi, apakah kemudian setiap pemilu kita akan membuat suatu pemilu yang bohongan dan pura-pura dengan memanipulasi data-data. Harusnya dari dulu-dulu masalah seperti ini sudah bisa diselesaikan," jelas Puan.
Ia lalu meminta pemilih bermasalah itu diselesaikan KPU dengan baik, agar tidak jadi masalah dikemudian hari. "Berikan kami akurasi data yang memang cukup akurat dan lengkap, bahwa tidak akan ada manipulasi suara berkaitan dengan masalah DPT," tegasnya.
PDIP pun makin gusar lantaran Mahkamah Konstitusi (MK) yang jadi garda terakhir dalam proses demokrasi ternyata juga bermasalah. PDIP bahkan kini tidak percaya dengan kredibilitas MK karena selama ini MK sering tidak adil dalam menangani sengketa pemilihan umum kepala darah (pemilukada).
"Saya rasa kekhawatiran ini bukan hanya dirasakan oleh PDIP, tapi semua parpol (partai politik) lain dan tentu saja rakyat Indonesia yang mau peduli dengan pemilu, di mana pesta demokrasi itu hanya dilakukan lima tahun sekali," tandasnya.
Berita terkait:
KPU & Kemendagri akan koordinasi soal pemilih bermasalah
(maf)