Demokrat sering mendapat tekanan dari lawan politik
Selasa, 05 November 2013 - 08:12 WIB
Demokrat sering mendapat tekanan dari lawan politik
A
A
A
Sindonews.com - Pada Pemilu 2014 Partai Demokrat diprediksi turun kelas menjadi partai menengah. Perolehan suara Demokrat diperkirakan turun drastis dari pemilu sebelumnya.
"Terkait Partai Demokrat yang hanya masuk parpol kelas menengah, hal itu disebabkan karena realitas politik saat ini yakni Demokrat mendapatkan citra negatif dari publik dikarenakan soal korupsi yang melilit kader Demokrat," ujar pengamat politik dari Political Communication Institute Heri Budianto kepada Sindonews, Selasa (5/11/2013).
Partai pemenang pemilu dua periode berturut ini merosot citranya karena kasus korupsi, yang dilakukan elite parpolnya sendiri. Sehingga partai pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini ditinggal simpatisannya pada pemilu mendatang. Selain itu Demokrat tak memiliki figur tokoh yang kuat untuk dijadikan capres maupun cawapres.
Lebih lanjut Heri menilai, Demokrat juga kerap mendapat tekanan politik dari lawan politiknya. "Dan penilaian saya elite Demokrat tak mampu menghadapi tekanan tersebut. Inilah yang menyebabkan Demokrat turun drastis di mata publik" ucap Heri.
Jika Demokrat mampu mengatasi tekanan dari lawan politiknya, lanjut dia, bukan tidak mungkin Demokrat mempertahankan posisinya sebagai partai besar di urutan tiga besar. Namun ada upaya yang harus dilakukan partai berlambang mercy ini.
"Jika Demokrat mampu menghadapi berbagai persoalan dan mampu melakukan konsolidasi, maka kans tiga besar akan tetap bisa diraih," kata Heri.
Menurutnya, partai besar lainnya seperti Golkar dan PDIP juga tak luput dari persoalan hukum yang merusak citranya, dan berdampak pada elektabel dan popularitas partai.
"Partai lain seperti Golkar juga sedang mengalami tekanan politik dan masalah yang sama yakni kadernya tersangkut kasus korupsi," tandasnya.
Persoalan internal penyumbang terbesar merosotnya Demokrat
"Terkait Partai Demokrat yang hanya masuk parpol kelas menengah, hal itu disebabkan karena realitas politik saat ini yakni Demokrat mendapatkan citra negatif dari publik dikarenakan soal korupsi yang melilit kader Demokrat," ujar pengamat politik dari Political Communication Institute Heri Budianto kepada Sindonews, Selasa (5/11/2013).
Partai pemenang pemilu dua periode berturut ini merosot citranya karena kasus korupsi, yang dilakukan elite parpolnya sendiri. Sehingga partai pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini ditinggal simpatisannya pada pemilu mendatang. Selain itu Demokrat tak memiliki figur tokoh yang kuat untuk dijadikan capres maupun cawapres.
Lebih lanjut Heri menilai, Demokrat juga kerap mendapat tekanan politik dari lawan politiknya. "Dan penilaian saya elite Demokrat tak mampu menghadapi tekanan tersebut. Inilah yang menyebabkan Demokrat turun drastis di mata publik" ucap Heri.
Jika Demokrat mampu mengatasi tekanan dari lawan politiknya, lanjut dia, bukan tidak mungkin Demokrat mempertahankan posisinya sebagai partai besar di urutan tiga besar. Namun ada upaya yang harus dilakukan partai berlambang mercy ini.
"Jika Demokrat mampu menghadapi berbagai persoalan dan mampu melakukan konsolidasi, maka kans tiga besar akan tetap bisa diraih," kata Heri.
Menurutnya, partai besar lainnya seperti Golkar dan PDIP juga tak luput dari persoalan hukum yang merusak citranya, dan berdampak pada elektabel dan popularitas partai.
"Partai lain seperti Golkar juga sedang mengalami tekanan politik dan masalah yang sama yakni kadernya tersangkut kasus korupsi," tandasnya.
Persoalan internal penyumbang terbesar merosotnya Demokrat
(lal)