Penyandang tunanetra di Indonesia alami diskriminasi

Selasa, 29 Oktober 2013 - 22:50 WIB
Penyandang tunanetra...
Penyandang tunanetra di Indonesia alami diskriminasi
A A A
Sindonews.com - Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Ismail Prawira Kusuma mengatakan, penghambat tercapainya tingkat kehidupan bermasyarakat secara aktif, adalah anggapan tunanetra itu sama dengan sakit.

Menurutnya, anggapan seperti itu menjadi penghalang bagi penyandang tunanetra karena membuatnya dianggap lemah, tidak berdaya dan perlu dikasihani. Bahkan para dokter pun menjadi tidak memberikan surat keterangan sehat bagi tunanetra, sehingga memperkecil peluang bekerja di tempat tertentu yang mensyaratkan surat keterangan sehat.

"Selain faktor-faktor eksternal ada faktor internal yang membuat tunanetra rentan terhadap perlakuan diskriminatif. Di antaranya, adalah kepribadian para tunanetra yang cenderung eksklusif, tidak mampu bersosialisasi dengan baik, dan kurang percaya diri," kata dia, Selasa (29/10/2013).

Menurut dia, perlakuan diskriminatif terhadap tunanetra seperti seorang tunanetra kerap ditolak membuka rekening di bank, karena dianggap tidak cakap hukum, bodoh, dan tidak tahu cara menyimpan uang maupun buku rekening.

Kalaupun bisa dilayani, para tunanetra biasanya harus didampingi orang lain yang punya penglihatan baik. Selain itu, perlakuan diskriminatif juga diterima oleh tunanetra menggunakan pesawat. Seorang perempuan tunanetra diturunkan kembali dari pesawat milik sebuah maskapai.

"Ini perintah langsung dari sang pilot dengan mengancam tidak akan menaikan pesawat, jika si tunanetra tersebut tidak turun," ujarnya.

Untuk itu diharapkan para tunanetra mengikuti latihan kepemimpinan sosial, hal ini sebagai bekal untuk dapat memiliki rasa percaya untuk hidup di tengah masyarakat.

Dengan begitu perlakukan diskriminatif akan hilang dengan sendirinya, karena para tunanetra memiliki kemampuan untuk bersosialisasi.

Sementara itu, sebagai utusan presiden untuk percepatan MDGs Nila mengatakan, negara seharusnya dapat mengeluarkan biaya operasi katarak setiap tahunnya sebesar Rp9 miliar.

Dengan pengehematan negara untuk dana beban hidup lansia Rp648 miliar per tahunya. "Harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat menjadi 72 tahun. Sedangkan 46 tahun, adalah usia rentan terkan katarak di tengah kebanyakan masyarakat," katanya.

Klik di sini untuk berita terkait.
(stb)
Berita Terkait
Saleh Husin: Kerukunan...
Saleh Husin: Kerukunan Warga Dapat dan Olahraga juga Dapat
Buka Cabang di GDC,...
Buka Cabang di GDC, Satu Dental Ingin Kesehatan Gigi Masyarakat Terjaga
Fenomena Bocah Disunat...
Fenomena Bocah Disunat Jin, Begini Penjelasan Ketua IDI Tangsel
Kondisi Kesehatan Dinilai...
Kondisi Kesehatan Dinilai Sangat Mempengaruhi Kualitas Fokus Otak
Menjaga Kesehatan Masyarakat...
Menjaga Kesehatan Masyarakat Indonesia
Derita Kanker Stadium...
Derita Kanker Stadium 3, Bocah 7 Tahun Warga Tangsel Ini Butuh Biaya
Berita Terkini
Penampakan 2 Tersangka...
Penampakan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji Kenakan Rompi Oranye KPK
Presiden Prabowo Terima...
Presiden Prabowo Terima 8 Duta Besar Negara Sahabat di Istana Merdeka
Edukasi Holistik Nikotin...
Edukasi Holistik Nikotin Ungkap Fakta Ini
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Tegaskan Buruh Tetap Bisa Demo Sesuai Aturan
KPK Tahan 2 Tersangka...
KPK Tahan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji
HUT ke-80, SPS: Fondasi...
HUT ke-80, SPS: Fondasi Pers Nasional Terletak pada Integritas, Profesionalisme, dan Kepentingan Publik
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved