Praktik bosisme penyebab korupsi tumbuh subur di daerah

Rabu, 25 September 2013 - 17:41 WIB
Praktik bosisme penyebab...
Praktik bosisme penyebab korupsi tumbuh subur di daerah
A A A
Sindonews.com - Proses politik di Indonesia sejak diberlakukannya otonomi daerah telah dikuasai oleh segelintir orang berpengaruh di satu daerah. Akibatnya, ketika pemilihan kepala daerah dilakukan, pertarungan politik hanya dilakukan dari segelintir orang yang berpengaruh di daerah itu.

"Mereka yang kami sebut sebagai para bos, jadi yang terjadi di tingkat lokal itu terbangunnya sistem bosisme lokal. Bosisme lokal satu lingkaran kekuasaan diisi oleh segelintir elite yang kemudian berkuasa atas seluruh proses politik," kata Direktur Lembaga Pemilih Indonesia Boni Hargens dalam Dialog Kenegaraan "Memberantas Korupsi di Daerah" yang digelar DPD di komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (25/9/2013).

Mereka yang disebut Bosisme lokal, kata Boni, antara lain orang partai, konglomerat, birokrat, elite kultural lokal, aparat keamanan bisa Polri dan preman sipil. "Ini segelintir orang yang selalu kuasai proses politik dan pilkada itu adalah pertarungan figur yang dicetak oleh bosisme ini," jelasnya.

Selanjutnya, kata Boni, setelah pemerintahan terbentuk, kelompok inilah juga yang berkuasa dan penguasaan sumber daya alam dikuasai oleh bos ini.

"Korupsi politik subur karena kepentingan sekelompok bos ini, jadi bosisme lokal menjadi akar persoalan korupsi politik dan mandegnya demokratisasi lokal."

"Musuh demokrasi lokal adalah sistem bosisme itu, segelintir elite yang menguasai pusat-pusat ekonomi bisnis itu dan korupsi hanyalah modus yang dibuang pada saat pemilu dan upaya mencari untung," tambahnya.

Persoalan ini, kata dia, masih dianggap remeh oleh pemerintah, apalagi politik Indonesia sangat Jakarta sentris. Untuk itu, menurut Boni, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) harus menjadi instrumen yang menjembatani kepentingan lokal dengan pusat.

"Persoalan sekarang ini DPD selalu beralasan kewenangan mereka tidak cukup di aturan konstitusi sehingga mereka tidak bergerak banyak, alasan ini menjadi justifikasi dari kelambanan DPD sendiri," terangnya.

Karena itu, Boni mendorong DPD untuk lebih aktif dalam mencermati masalah-masalah di daerah. "Ini sangat ditentukan oleh seberapa komitmen DPD dalam membantu daerah," pungkasnya.
(kri)
Berita Terkait
Masa Depan Politik di...
Masa Depan Politik di Indonesia: Politik Dinasti?
Rakernas Perdana di...
Rakernas Perdana di Surabaya, Partai Mahasiswa Indonesia Berkomitmen Tingkatkan Partisipasi Politik Anak Muda
Demokrasi Indonesia...
Demokrasi Indonesia Dinilai Masih Diwarnai Politik Identitas
Politik Santuy atau...
Politik Santuy atau Politik Baperan
Mimbar Demokrasi Melawan...
Mimbar Demokrasi Melawan Politik Dinasti
Crab Mentality Penggerus...
Crab Mentality Penggerus Soliditas Bangsa
Berita Terkini
Pengamat: Seskab Teddy...
Pengamat: Seskab Teddy Punya Kapasitas untuk Dipercaya Presiden Prabowo
Seleksi Hakim Agung...
Seleksi Hakim Agung 2026 Berlanjut, 36 Kandidat Jalani Penelusuran Rekam Jejak
Roy Suryo Sentil Rismon...
Roy Suryo Sentil Rismon Sianipar yang Ungkit Lagi Kasus Panci: Perkara Sudah Inkrah
6 Pejabat TNI AL Berganti,...
6 Pejabat TNI AL Berganti, Kadiskomlekal hingga Kadislitbangal
Presiden Prabowo Fokus...
Presiden Prabowo Fokus pada Kebutuhan Dasar Rakyat dan Kesejahteraan Masyarakat
Kubu Roy Suryo Tepis...
Kubu Roy Suryo Tepis Berkas Kasus Pencemaran Nama Baik Terkait Ijazah Jokowi Sudah P21
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved