Tolak Miss World, Adhie tuding ada kepentingan Istana
Jum'at, 13 September 2013 - 17:06 WIB
Tolak Miss World, Adhie tuding ada kepentingan Istana
A
A
A
Sindonews.com - Tokoh Islam Indonesia diminta untuk menahan diri dan tidak bereaksi berlebihan dalam menyikapi pagelaran ajang Miss World 2013 di Nusa Dua, Bali. Mereka harus belajar dari reaksi berlebihan organisasi masyarakat (ormas) Islam garis keras ketika menolak kehadiran penyanyi kontroversial Lady Gaga, yang ternyata di balik semua itu ada persaingan bisnis.
Hal ini diuangkapkan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih Adhie M Massardi dalam rilis yang diterima Sindonews, Jumat (13/9/2013) di Jakarta. “Bukan mustahil di balik reaksi berlebihan atas penyelenggaraan Miss World itu juga ada tendensi persaingan bisnis (pertelevisian) yang juga bernuansa politik," kata Adhie.
Dia menjelaskan, penayangan ajang Miss World 2013 ditayangkan oleh kelompok media massa yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo, Dimana Hary juga merupakan calon wakil presiden (cawapres) dari Partai Hanura, bersama (capres) Wiranto.
Oleh sebab itu Adhie menyesalkan keterlibatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dalam penolakan gelaran Miss World itu. “Saya prihatin kalau ternyata Kiai Said yang dekat dengan kalangan Istana dipakai untuk mereduksi kontes Miss World untuk kepentingan politik tertentu, dengan dalih masalah akidah,” cetusnya.
Adhie menyarankan agar PBNU dalam berpolitik tetap berpedoman kepada konstitusi (UUD 1945) dan UU yang berlaku di negeri ini. "Kalau memang penyelenggaraan kontes itu ada yang melanggar UU, ya diproses secara hukum," tegasnya.
“Miss World memang tidak bisa menguatkan nilai rupiah yang anjlok, atau menurunkan harga kedelai, seperti diungkapkan Kiai Said. Tapi beliau harus paham, yang meruntuhkan nilai rupiah, manaikkan harga kedelai dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya, adalah korupsi di kalangan para penyelenggara negara," ketus Adhie.
Hal ini diuangkapkan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih Adhie M Massardi dalam rilis yang diterima Sindonews, Jumat (13/9/2013) di Jakarta. “Bukan mustahil di balik reaksi berlebihan atas penyelenggaraan Miss World itu juga ada tendensi persaingan bisnis (pertelevisian) yang juga bernuansa politik," kata Adhie.
Dia menjelaskan, penayangan ajang Miss World 2013 ditayangkan oleh kelompok media massa yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo, Dimana Hary juga merupakan calon wakil presiden (cawapres) dari Partai Hanura, bersama (capres) Wiranto.
Oleh sebab itu Adhie menyesalkan keterlibatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj dalam penolakan gelaran Miss World itu. “Saya prihatin kalau ternyata Kiai Said yang dekat dengan kalangan Istana dipakai untuk mereduksi kontes Miss World untuk kepentingan politik tertentu, dengan dalih masalah akidah,” cetusnya.
Adhie menyarankan agar PBNU dalam berpolitik tetap berpedoman kepada konstitusi (UUD 1945) dan UU yang berlaku di negeri ini. "Kalau memang penyelenggaraan kontes itu ada yang melanggar UU, ya diproses secara hukum," tegasnya.
“Miss World memang tidak bisa menguatkan nilai rupiah yang anjlok, atau menurunkan harga kedelai, seperti diungkapkan Kiai Said. Tapi beliau harus paham, yang meruntuhkan nilai rupiah, manaikkan harga kedelai dan harga-harga kebutuhan pokok lainnya, adalah korupsi di kalangan para penyelenggara negara," ketus Adhie.
(lal)