Parpol harus kembali ke khitahnya
Rabu, 11 September 2013 - 21:58 WIB
Parpol harus kembali ke khitahnya
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya meyakini, banyaknya masyarakat yang tidak mau masuk ke dalam partai politik (parpol) saat ini, dikarenakan parpol tidak dapat menjadi wadah yang menarik untuk masyarakat.
"Semua orang itu pada dasarnya, suka dengan politik, namun wadahnya (partai) tidak menarik," kata Bima usai diskusi yang bertemakan Urgenitas Regenerasi Politik di Indonesia di Rumah Kebangsaan, Jalan Pattimura, Jakarta Selatan, Rabu (11/9/2013).
Lebih lanjut dia mengatakan, untuk itu,semua parpol harus kembali ke khitahnya, dengan cara memberikan edukasi politik yang baik untuk masyarakat. Sehingga masyarakat tidak alergi untuk masuk dan berkecimpung dalam parpol.
"Partai harusnya kembali ke khitahnya. Orang alergi masuk partai karena tidak ada contoh yang baik," tandasnya.
Pengamat politik dari Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti menambahkan, semua parpol yang ada di Indonesia mengalami satu problem yang sama. "Problem regenerasi memang ada di semua partai. Seperti Partai Golkar yang proses regenerasinya payah. Satu persatu anak muda yang brilian keluar dari Partai Golkar atau dipaksa keluar," katanya.
"Semua orang itu pada dasarnya, suka dengan politik, namun wadahnya (partai) tidak menarik," kata Bima usai diskusi yang bertemakan Urgenitas Regenerasi Politik di Indonesia di Rumah Kebangsaan, Jalan Pattimura, Jakarta Selatan, Rabu (11/9/2013).
Lebih lanjut dia mengatakan, untuk itu,semua parpol harus kembali ke khitahnya, dengan cara memberikan edukasi politik yang baik untuk masyarakat. Sehingga masyarakat tidak alergi untuk masuk dan berkecimpung dalam parpol.
"Partai harusnya kembali ke khitahnya. Orang alergi masuk partai karena tidak ada contoh yang baik," tandasnya.
Pengamat politik dari Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti menambahkan, semua parpol yang ada di Indonesia mengalami satu problem yang sama. "Problem regenerasi memang ada di semua partai. Seperti Partai Golkar yang proses regenerasinya payah. Satu persatu anak muda yang brilian keluar dari Partai Golkar atau dipaksa keluar," katanya.
(maf)