Survei INES: Anggota DPR dicap tukang bohong

Kamis, 05 September 2013 - 14:15 WIB
Survei INES: Anggota...
Survei INES: Anggota DPR dicap tukang bohong
A A A
Sindonews.com - Kepercayaan masyarakat terhadap wakil rakyat alias anggota DPR sepertinya sulit untuk dipulihkan. Bahkan, para anggota DPR dicap menjadi tukang bohong atau tidak jujur.

Hal itu merupakan salah satu kesimpulan dari hasil survei yang dilakukan Indonesia Network Election Survey (INES), yang diumumkan pada hari ini.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 16 Agustus 2013 hingga 30 Agustus 2013 ini, sebanyak 89,3 persen responden menyatakan bahwa anggota DPR RI saat ini tukang bohong dan tidak jujur. Selain itu, sebanyak 87,3 persen responden menyatakan anggota DPR RI menjadi pelaku korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

"Ini tergambar dalam temuan survei dan fakta bahwa banyak anggota DPR RI yang tertangkap KPK serta menjadi calo anggaran," ujar Direktur Eksekutif INES, Irwan Suhanto di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (5/9/2013).

Disamping itu, sebanyak 78,6 persen responden menyatakan bahwa anggota DPR RI saat ini malas untuk mengikuti sidang paripurna.

"Anggota DPR malas sidang dan jika sidang berjalan sering tidur dan terlihat tidak mengikuti dengan seksama," katanya. Kemudian, 20,4 persen responden menyatakan bahwa anggota DPR RI bertingkah laku sopan santun.

Pengumpulan data dalam survei ini dengan metode tatap muka langsung (face to face interview), dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan informasi. Pertanyaan menggunakan kombinasi pertanyaan terbuka (open ended) dan pertanyaan tertutup (close ended).

Sampling frame dalam survei ini adalah warga negara Indonesia yang sudah mempunyai hak pilih pada saat Pemilu 2014. Sample yang diambil adalah 8.280 responden di 33 provinsi, 390 kabupaten, 92 kotamadya, meliputi 600 desa dan 425 kelurahan dengan margin of error sekitar 1,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Penarikan sample dalam survei ini menggunakan metode stratified random sampling. Sample diambil secara random atas dasar provinsi, proporsi desa kota, penghasilan dan jenis kelamin. Stratifikasi diperlukan agar heterogenitas dari populasi masyarakat Indonesia dapat tercermin dalam sample.
(kri)
Berita Terkait
Survei Ungkap Pentingnya...
Survei Ungkap Pentingnya Sentuhan Manusia di Era Adopsi AI oleh Brand di Indonesia
Survei Ungkap 2 Faktor...
Survei Ungkap 2 Faktor Ini Bikin Kepercayaan Publik ke DPR Jeblok
Survei: 62,94% Masyarakat...
Survei: 62,94% Masyarakat Puas dengan Kinerja Bupati Pemalang
Cyrus Network Kritisi...
Cyrus Network Kritisi Survei KedaiKOPI Terkait Kinerja Kejagung
Laboratorium Psikologi...
Laboratorium Psikologi Politik UI Rilis Survei Nasional, Polarisasi Politik Di Indonesia: Mitos Atau Fakta
Rilis Survei ARSC: Titik...
Rilis Survei ARSC: Titik Tengah Demokrasi Indonesia Menuju Pemilu 2024
Berita Terkini
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Buku Laku Spiritual...
Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen Diluncurkan, Kupas Cara Soeharto Tunjuk Pembantunya
Isu Dana Dapur MBG Belum...
Isu Dana Dapur MBG Belum Cair, Nanik S Deyang Sebut Hoaks
Penampakan 2 Tersangka...
Penampakan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji Kenakan Rompi Oranye KPK
Presiden Prabowo Terima...
Presiden Prabowo Terima 8 Duta Besar Negara Sahabat di Istana Merdeka
Infografis
Profil Rahayu Saraswati,...
Profil Rahayu Saraswati, Keponakan Prabowo yang Mundur dari DPR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved