Tolak konvensi, Golkar beruntung miliki JK
Jum'at, 30 Agustus 2013 - 09:02 WIB
Tolak konvensi, Golkar beruntung miliki JK
A
A
A
Sindonews.com - Sikap mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) untuk ikut serta dalam konvensi penjaringan calon presiden (Capres) Partai Demokrat terus menuai pujian. Banyak kalangan menilai Jk sudah mengambil langkah yang tepat.
"Penolakan JK terhadap undangan konvensi tepat. JK tertib dan taat azas lantaran dia adalah kader Partai Golkar. Ini membuktikan bahwa ia kader tulen," ujar Senior Researcher Founding Fathers House (FFH) Dian Permata ketika dihubungi Sindonews, Jumat (30/8/2013).
Menurutnya, Partai Golkar beruntung memiliki kader tulen dan loyal kepada partai. Pemandangan yang dinilai langka saat ini di dunia politik dimana banyak politikus dengan mudah menjadi "kutu loncat".
"Jarang sekali partai memiliki kader seperti JK. Golkar beruntung memiliki JK. Karena nilai kader JK di atas rata-rata. Penolakan tersebut memberikan contoh baik kepada kader-kader Partai Golkar atau partai lainnya tentang ideologi dan idealisme," tandasnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, Komite Konvensi Partai Demokrat sudah mengundang JK untuk mengikuti konvensi penjaringan capres Partai Demokrat. Namun, usaha Komite Konvensi itu sia-sia.
Sekretaris Komite Konvensi, Suaidi Marasabessy mengatakan, pihaknya menghormati keputusan JK untuk tidak ikut konvensi, mengingat JK termasuk salah satu petinggi Partai Golkar.
"Beliau pernah jadi Ketum Golkar, sedangkan kalau ikut konvensi lalu menang, ada di jabatan struktural partai lain. Pada saat terpilih dia harus jadi kader, jadi kita hormati (penolakan JK)," kata Suadi kepada wartawan di Wisma Kodel, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2013.
Diakui Suaidi, undangan untuk ikut konvensi belum diberikan kepada mantan Ketua Umum Partai Golkar itu. Menurutnya, selama ini pendekatan oleh Komite Konvensi dilakukan secara non formal.
"Ya tidak resmi (disampaikan), karena pendektan non formal tadi malam Pak Maftuh dan Pak Ruki, saya menerima informasi demikian," tukasnya.
Seperti diketahui, peserta konvensi yang keluar jadi pemenang dan menjadi Capres Partai Demokrat maka harus menjadi kader partai berlambang segitiga ini. Suaidi menduga hal itu yang membuat JK tidak mau ikut konvensi.
"Karena pernah jadi ketum (Golkar) ada kode etik kalau dia capres, dia (JK) harus jadi kader Demokrat, mungkin itu," pungkasnya.
"Penolakan JK terhadap undangan konvensi tepat. JK tertib dan taat azas lantaran dia adalah kader Partai Golkar. Ini membuktikan bahwa ia kader tulen," ujar Senior Researcher Founding Fathers House (FFH) Dian Permata ketika dihubungi Sindonews, Jumat (30/8/2013).
Menurutnya, Partai Golkar beruntung memiliki kader tulen dan loyal kepada partai. Pemandangan yang dinilai langka saat ini di dunia politik dimana banyak politikus dengan mudah menjadi "kutu loncat".
"Jarang sekali partai memiliki kader seperti JK. Golkar beruntung memiliki JK. Karena nilai kader JK di atas rata-rata. Penolakan tersebut memberikan contoh baik kepada kader-kader Partai Golkar atau partai lainnya tentang ideologi dan idealisme," tandasnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, Komite Konvensi Partai Demokrat sudah mengundang JK untuk mengikuti konvensi penjaringan capres Partai Demokrat. Namun, usaha Komite Konvensi itu sia-sia.
Sekretaris Komite Konvensi, Suaidi Marasabessy mengatakan, pihaknya menghormati keputusan JK untuk tidak ikut konvensi, mengingat JK termasuk salah satu petinggi Partai Golkar.
"Beliau pernah jadi Ketum Golkar, sedangkan kalau ikut konvensi lalu menang, ada di jabatan struktural partai lain. Pada saat terpilih dia harus jadi kader, jadi kita hormati (penolakan JK)," kata Suadi kepada wartawan di Wisma Kodel, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2013.
Diakui Suaidi, undangan untuk ikut konvensi belum diberikan kepada mantan Ketua Umum Partai Golkar itu. Menurutnya, selama ini pendekatan oleh Komite Konvensi dilakukan secara non formal.
"Ya tidak resmi (disampaikan), karena pendektan non formal tadi malam Pak Maftuh dan Pak Ruki, saya menerima informasi demikian," tukasnya.
Seperti diketahui, peserta konvensi yang keluar jadi pemenang dan menjadi Capres Partai Demokrat maka harus menjadi kader partai berlambang segitiga ini. Suaidi menduga hal itu yang membuat JK tidak mau ikut konvensi.
"Karena pernah jadi ketum (Golkar) ada kode etik kalau dia capres, dia (JK) harus jadi kader Demokrat, mungkin itu," pungkasnya.
(kri)