Peserta konvensi diminta berkaca pada JK & Mahfud
Jum'at, 30 Agustus 2013 - 07:05 WIB
Peserta konvensi diminta berkaca pada JK & Mahfud
A
A
A
Sindonews.com - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD memutuskan mundur jadi peserta konvensi penjaringan calon presiden (Capres) Partai Demokrat. Padahal, keduanya digadang-gadang jadi calon kuat dengan elektabilitas yang cukup tinggi.
Pengamat Politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mengatakan, mundurnya JK dan Mahfud menjadi pelajaran ke depan bagi Partai Demokrat agar konvensi harus menjadi kebijakan rutin partai dalam melakukan perekrutan capres.
"Konvensi jangan hanya menjadi jawaban untuk kekosongan tokoh potensial untuk dicalonkan. Juga konvensi jangan hanya menjadi sarana pencitraan semata," ketika dihubungi Sindonews, Kamis (29/8/2013) malam.
Menurutnya, dunia dimana politik menempatkan pencitraan sebagai kebutuhan akan menjadikan politik tak bermutu. Pasalnya, banyak orang dipaksa untuk terampil "mengelabui" publik dengan sosok hasil kemasan tertentu.
"Mundurnya Mahfud dan JK juga menjadi pelajaran penting bagi peserta konvensi untuk konsisten dengan pilihan politik. Jika berencana menjadi capres maka proses politik harus mau dilalui. Jangan juga memanfaatkan momentum instan yang tersedia agar bisa meraih kekuasaan," jelasnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, Mahfud MD secara resmi menyampaikan tidak akan ikut konvensi capres Partai Demokrat. Dia mengakui, keputusan tersebut setelah berkonsultasi dengan para ulama.
"Setelah saya merenung dan berkonsultasi, salat istikharah dan berdiskusi, saya memutuskan tidak mengikuti Konvensi Partai Demokrat," kata Mahfud MD di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta Selatan.
Diakuinya, keputusan tidak ikut Konvensi Demokrat setelah berkonsultasi dengan para kiai dari pondok pesantren baik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Tak hanya itu, dia juga berkosultasi dengan para petinggi gereja dan koleganya. Menurutnya mereka menyarankan supaya tidak ikut Konvensi Demokrat.
Sementara, Komite Konvensi Partai Demokrat sudah mengundang JK untuk mengikuti konvensi penjaringan capres Partai Demokrat. Namun, usaha Komite Konvensi itu sia-sia.
Sekretaris Komite Konvensi, Suaidi Marasabessy mengatakan, pihaknya menghormati keputusan JK untuk tidak ikut konvensi, mengingat JK termasuk salah satu petinggi Partai Golkar.
"Beliau pernah jadi Ketum Golkar, sedangkan kalau ikut konvensi lalu menang, ada di jabatan struktural partai lain. Pada saat terpilih dia harus jadi kader, jadi kita hormati (penolakan JK)," kata Suadi kepada wartawan di Wisma Kodel, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2013.
Pengamat Politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus mengatakan, mundurnya JK dan Mahfud menjadi pelajaran ke depan bagi Partai Demokrat agar konvensi harus menjadi kebijakan rutin partai dalam melakukan perekrutan capres.
"Konvensi jangan hanya menjadi jawaban untuk kekosongan tokoh potensial untuk dicalonkan. Juga konvensi jangan hanya menjadi sarana pencitraan semata," ketika dihubungi Sindonews, Kamis (29/8/2013) malam.
Menurutnya, dunia dimana politik menempatkan pencitraan sebagai kebutuhan akan menjadikan politik tak bermutu. Pasalnya, banyak orang dipaksa untuk terampil "mengelabui" publik dengan sosok hasil kemasan tertentu.
"Mundurnya Mahfud dan JK juga menjadi pelajaran penting bagi peserta konvensi untuk konsisten dengan pilihan politik. Jika berencana menjadi capres maka proses politik harus mau dilalui. Jangan juga memanfaatkan momentum instan yang tersedia agar bisa meraih kekuasaan," jelasnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, Mahfud MD secara resmi menyampaikan tidak akan ikut konvensi capres Partai Demokrat. Dia mengakui, keputusan tersebut setelah berkonsultasi dengan para ulama.
"Setelah saya merenung dan berkonsultasi, salat istikharah dan berdiskusi, saya memutuskan tidak mengikuti Konvensi Partai Demokrat," kata Mahfud MD di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta Selatan.
Diakuinya, keputusan tidak ikut Konvensi Demokrat setelah berkonsultasi dengan para kiai dari pondok pesantren baik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Tak hanya itu, dia juga berkosultasi dengan para petinggi gereja dan koleganya. Menurutnya mereka menyarankan supaya tidak ikut Konvensi Demokrat.
Sementara, Komite Konvensi Partai Demokrat sudah mengundang JK untuk mengikuti konvensi penjaringan capres Partai Demokrat. Namun, usaha Komite Konvensi itu sia-sia.
Sekretaris Komite Konvensi, Suaidi Marasabessy mengatakan, pihaknya menghormati keputusan JK untuk tidak ikut konvensi, mengingat JK termasuk salah satu petinggi Partai Golkar.
"Beliau pernah jadi Ketum Golkar, sedangkan kalau ikut konvensi lalu menang, ada di jabatan struktural partai lain. Pada saat terpilih dia harus jadi kader, jadi kita hormati (penolakan JK)," kata Suadi kepada wartawan di Wisma Kodel, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2013.
(kri)