Tanpa JK & Mahfud, Konvensi Demokrat kehilangan gereget
Jum'at, 30 Agustus 2013 - 06:02 WIB
Tanpa JK & Mahfud, Konvensi Demokrat kehilangan gereget
A
A
A
Sindonews.com - Dua kandidat populer sudah memastikan diri mundur dari konvesi penjaringan calon presiden (Capres) Partai Demokrat. Sebelumnya, santer terdengar Partai Demokrat gencar dalam rangka mengajak Jusuf Kalla (JK) dan Mahfud MD menjadi peserta konvensi.
Pengamat Politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai, mundurnya JK dan Mahfud mengurangi target Komite Konvensi yang ingin menghadirkan tokoh-tokoh dengan elektabilitas yang memadai dalam Konvensi Demokrat.
"Saya sendiri menduga perkembangan pelaksanaan Konvensi Demokrat yang banyak dikiritisi publik memang membuat para kandidat berpikir ulang sebelum memutuskan jadi peserta konvensi. Minus Jk dan Mahfud MD, konvensi jadi kurang gereget. Itu sudah pasti," ujar dia ketika dihubungi Sindonews, Kamis (29/8/2013) malam.
Menurutnya, hal lainnya yang menyurutkan niat JK dan Mahfud unuk menjadi peserta konvensi karena citra Partai Demokrat yang melorot karena sejumlah kasus korupsi yang menimpa kadernya.
"Hal lain yang lebih penting tentu adalah soal kepastian hasil konvensi menjadi acuan elite partai dalam menentukan Capres Partai Demokrat 2014," tandasnya.
Apalagi, lanjutnya, untuk bisa mencalonkan capres, Partai Demokrat harus bisa menembus ambang presidential threshold 20 persen suara nasional dan 25 persen parliamentary threshold di parlemen.
"Jadi pasca konvensi pun, kalau seorang kandidat sudah final memenanginya, belum otomatis jaminan pencapresannya didukung oleh elite partai. Jadi dengan sejumlah ketidakpastian itu, rasanya keputusan JK dan Mahfud merupakan keputusan yang tepat," pungkasnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, Mahfud MD secara resmi menyampaikan tidak akan ikut konvensi capres Partai Demokrat. Dia mengakui, keputusan tersebut setelah berkonsultasi dengan para ulama.
"Setelah saya merenung dan berkonsultasi, salat istikharah dan berdiskusi, saya memutuskan tidak mengikuti Konvensi Partai Demokrat," kata Mahfud MD di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta Selatan.
Diakuinya, keputusan tidak ikut Konvensi Demokrat setelah berkonsultasi dengan para kiai dari pondok pesantren baik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Tak hanya itu, dia juga berkosultasi dengan para petinggi gereja dan koleganya. Menurutnya mereka menyarankan supaya tidak ikut Konvensi Demokrat.
Sementara, Komite Konvensi Partai Demokrat sudah mengundang JK untuk mengikuti konvensi penjaringan capres Partai Demokrat. Namun, usaha Komite Konvensi itu sia-sia.
Sekretaris Komite Konvensi, Suaidi Marasabessy mengatakan, pihaknya menghormati keputusan JK untuk tidak ikut konvensi, mengingat JK termasuk salah satu petinggi Partai Golkar.
"Beliau pernah jadi Ketum Golkar, sedangkan kalau ikut konvensi lalu menang, ada di jabatan struktural partai lain. Pada saat terpilih dia harus jadi kader, jadi kita hormati (penolakan JK)," kata Suadi kepada wartawan di Wisma Kodel, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2013.
Pengamat Politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai, mundurnya JK dan Mahfud mengurangi target Komite Konvensi yang ingin menghadirkan tokoh-tokoh dengan elektabilitas yang memadai dalam Konvensi Demokrat.
"Saya sendiri menduga perkembangan pelaksanaan Konvensi Demokrat yang banyak dikiritisi publik memang membuat para kandidat berpikir ulang sebelum memutuskan jadi peserta konvensi. Minus Jk dan Mahfud MD, konvensi jadi kurang gereget. Itu sudah pasti," ujar dia ketika dihubungi Sindonews, Kamis (29/8/2013) malam.
Menurutnya, hal lainnya yang menyurutkan niat JK dan Mahfud unuk menjadi peserta konvensi karena citra Partai Demokrat yang melorot karena sejumlah kasus korupsi yang menimpa kadernya.
"Hal lain yang lebih penting tentu adalah soal kepastian hasil konvensi menjadi acuan elite partai dalam menentukan Capres Partai Demokrat 2014," tandasnya.
Apalagi, lanjutnya, untuk bisa mencalonkan capres, Partai Demokrat harus bisa menembus ambang presidential threshold 20 persen suara nasional dan 25 persen parliamentary threshold di parlemen.
"Jadi pasca konvensi pun, kalau seorang kandidat sudah final memenanginya, belum otomatis jaminan pencapresannya didukung oleh elite partai. Jadi dengan sejumlah ketidakpastian itu, rasanya keputusan JK dan Mahfud merupakan keputusan yang tepat," pungkasnya.
Seperti diberitakan Sindonews sebelumnya, Mahfud MD secara resmi menyampaikan tidak akan ikut konvensi capres Partai Demokrat. Dia mengakui, keputusan tersebut setelah berkonsultasi dengan para ulama.
"Setelah saya merenung dan berkonsultasi, salat istikharah dan berdiskusi, saya memutuskan tidak mengikuti Konvensi Partai Demokrat," kata Mahfud MD di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta Selatan.
Diakuinya, keputusan tidak ikut Konvensi Demokrat setelah berkonsultasi dengan para kiai dari pondok pesantren baik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
Tak hanya itu, dia juga berkosultasi dengan para petinggi gereja dan koleganya. Menurutnya mereka menyarankan supaya tidak ikut Konvensi Demokrat.
Sementara, Komite Konvensi Partai Demokrat sudah mengundang JK untuk mengikuti konvensi penjaringan capres Partai Demokrat. Namun, usaha Komite Konvensi itu sia-sia.
Sekretaris Komite Konvensi, Suaidi Marasabessy mengatakan, pihaknya menghormati keputusan JK untuk tidak ikut konvensi, mengingat JK termasuk salah satu petinggi Partai Golkar.
"Beliau pernah jadi Ketum Golkar, sedangkan kalau ikut konvensi lalu menang, ada di jabatan struktural partai lain. Pada saat terpilih dia harus jadi kader, jadi kita hormati (penolakan JK)," kata Suadi kepada wartawan di Wisma Kodel, Jakarta, Rabu 28 Agustus 2013.
(kri)