Tokoh militer layak jadi pilihan parpol Islam
Sabtu, 03 Agustus 2013 - 08:34 WIB
Tokoh militer layak jadi pilihan parpol Islam
A
A
A
Sindonews.com - Tokoh berlatarberlakang militer dinilai bisa menjadi alternatif pilihan bagi partai politik (Parpol) berbasis Islam yang sedang mengalami krisis ketokohan. Meski kecenderungannya tokoh militer tak cukup populer di mata masyarakat.
"Bisa sebagai alternatif, tapi berat juga karena sudah ada tokoh yang tampil humanis tapi tetep tegas. Tokoh berlatarbelakang militer punya kans jika ada instabilitas," ujar Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Nico Harjanto kepada Sindonews, Sabtu (3/8/2013).
Menurutnya, beberapa purnawirawan jenderal yang beredar di masyarakat sebagai calon presiden (Capres) sudah tidak memiliki arena pembuktian kinerja terhadap masyarakat.
"Agak berat karena mereka (capres militer) tidak punya arena pembuktian kinerja atau janji mereka. Kekuatan karisma atau orasi makin menurun dalam menarik simpati. Pemilih lebih suka capres yang terbukti bekerja untuk mereka dan punya komitmen terhadap rakyat yang kuat," jelasnya.
Analisis Kebijakan Publik Rajawali Foundation ini menilai, figur-figur berlatarbelakang militer kurang relevan saat ini karena yang dibutuhkan adalah tokoh yang bisa memunculkan kepercayaan publik. Sementara, tokoh militer lebih kuat dalam memunculkan imaji tentang stabilitas.
"Bisa kita lihat, popularitas Prabowo memang tinggi, tapi elektabilitasnya stagnan di bawah 20 persen. Artinya nilai lebih yang ada di figur Prabowo kurang bisa menarik dukungan yang lebih luas lagi. Captive market-nya cuma segitu berarti," pungkasnya.
"Bisa sebagai alternatif, tapi berat juga karena sudah ada tokoh yang tampil humanis tapi tetep tegas. Tokoh berlatarbelakang militer punya kans jika ada instabilitas," ujar Pengamat Politik dari Universitas Paramadina Nico Harjanto kepada Sindonews, Sabtu (3/8/2013).
Menurutnya, beberapa purnawirawan jenderal yang beredar di masyarakat sebagai calon presiden (Capres) sudah tidak memiliki arena pembuktian kinerja terhadap masyarakat.
"Agak berat karena mereka (capres militer) tidak punya arena pembuktian kinerja atau janji mereka. Kekuatan karisma atau orasi makin menurun dalam menarik simpati. Pemilih lebih suka capres yang terbukti bekerja untuk mereka dan punya komitmen terhadap rakyat yang kuat," jelasnya.
Analisis Kebijakan Publik Rajawali Foundation ini menilai, figur-figur berlatarbelakang militer kurang relevan saat ini karena yang dibutuhkan adalah tokoh yang bisa memunculkan kepercayaan publik. Sementara, tokoh militer lebih kuat dalam memunculkan imaji tentang stabilitas.
"Bisa kita lihat, popularitas Prabowo memang tinggi, tapi elektabilitasnya stagnan di bawah 20 persen. Artinya nilai lebih yang ada di figur Prabowo kurang bisa menarik dukungan yang lebih luas lagi. Captive market-nya cuma segitu berarti," pungkasnya.
(kri)