SBY tak tegas, kenaikan BBM bisa dipolitisasi
Minggu, 16 Juni 2013 - 16:44 WIB
SBY tak tegas, kenaikan BBM bisa dipolitisasi
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai tidak tegas dalam menyikapi wacana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal ini bisa dimanfaatkan lawan politiknya untuk mencari keuntungan dengan dalih mendukung rakyat.
"Itu karena ketidaktegasan Pemerintah dan tarik ulur yang terlalu panjang, seolah-olah main-main layang. Sikap tidak tegas Pak SBY memberikan poin tertentu untuk ajang tarik menarik (parpol)," kata Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro di Gallery Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (16/6/2013).
Menurutnya, dengan sikap itu maka wacana kenaikan harga BBM bersubsidi menjadi cara ampuh Parpol lainnya untuk meraih simpati masyarakat.
Karena menurut mereka, dengan menolak kebijakan pemerintah maka akan mendapat dukungan dari masyarakat yang sepenuhnya merasa keberatan dengan dampak negatif kenaikan harga BBM bersubsidi.
"Jadi partai-partai membonceng isu yang menjadi kebutuhan masyarakat. Sebetulnya masyarakat sederhana, bahwa mereka keberatan dengan beban baru berupa kenaikan harga BBM, yang berdampak negatif melambungnya harga-harga lain. Ini yang membuat masyarakat tidak setuju," ungkapnya.
"Menurut saya ini juga yang akan diperkarakan. Ini yang menimbulkan respon tidak tunggal, ada pro dan kontra. Kita khawatir sekali karena ini memang tahun politik," sambungnya.
Terakhir, dia menegaskan dengan sikap partai seperti itu maka masyarakat pula lah yang akan dirugikan, karena itu Ia pun mendesak agar SBY bisa bertindak tegas.
"Lalu masyarakat yang dirugikan. Menurut saya Pemerintah kurang tegas dan bertindak cepat dalam mengatasi isu-isu yang seharusnya timbul seperti ini," tuntasnya.
"Itu karena ketidaktegasan Pemerintah dan tarik ulur yang terlalu panjang, seolah-olah main-main layang. Sikap tidak tegas Pak SBY memberikan poin tertentu untuk ajang tarik menarik (parpol)," kata Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro di Gallery Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (16/6/2013).
Menurutnya, dengan sikap itu maka wacana kenaikan harga BBM bersubsidi menjadi cara ampuh Parpol lainnya untuk meraih simpati masyarakat.
Karena menurut mereka, dengan menolak kebijakan pemerintah maka akan mendapat dukungan dari masyarakat yang sepenuhnya merasa keberatan dengan dampak negatif kenaikan harga BBM bersubsidi.
"Jadi partai-partai membonceng isu yang menjadi kebutuhan masyarakat. Sebetulnya masyarakat sederhana, bahwa mereka keberatan dengan beban baru berupa kenaikan harga BBM, yang berdampak negatif melambungnya harga-harga lain. Ini yang membuat masyarakat tidak setuju," ungkapnya.
"Menurut saya ini juga yang akan diperkarakan. Ini yang menimbulkan respon tidak tunggal, ada pro dan kontra. Kita khawatir sekali karena ini memang tahun politik," sambungnya.
Terakhir, dia menegaskan dengan sikap partai seperti itu maka masyarakat pula lah yang akan dirugikan, karena itu Ia pun mendesak agar SBY bisa bertindak tegas.
"Lalu masyarakat yang dirugikan. Menurut saya Pemerintah kurang tegas dan bertindak cepat dalam mengatasi isu-isu yang seharusnya timbul seperti ini," tuntasnya.
(rsa)