Sikap PDIP masih lebih baik ketimbang PKS soal BBM
Selasa, 04 Juni 2013 - 14:13 WIB
Sikap PDIP masih lebih baik ketimbang PKS soal BBM
A
A
A
Sindonews.com - Kampanye penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melalui spanduk-spanduknya dinilai pengamat tak efektif.
Kampanye itu tidak efektif untuk mendongkrak elektabilitas menjelang Pemilu 2014 serta memperbaiki citra PKS yang sudah diterjang kasus suap kuota impor daging sapi.
Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat mengatakan, pemasangan spanduk tersebut menunjukkan bahwa PKS mengubah positioning mereka meski bergabung di dalam koalisi, tetapi menolak kenaikan harga BBM.
"Mereka menunjukkan eksistensi, bahwa meski ada dalam Setgab, lalu melawan. Mereka mau menunjukkan bahwa mereka berada di barisan rakyat. Ini detik - detik terakhir PKS ubah strategi, tetapi ini terlambat," tukasnya di Depok, Rabu (04/06/2013).
Cecep menilai sikap PDIP justru lebih baik yang sejak awal konsisten berada diluar koalisi. Ancaman PKS keluar dari koalisi menurutnya hanya gertak sambal.
"Menteri dalam kabinet harusnya otomatis ditarik, karena itu PKS hanya gertak sambal saja. Kan PKS ada tiga menteri yakni Mensos, Menkominfo, dan Mentan dimana ketiganya berhubungan erat dengan masyarakat," paparnya.
Dengan mempercantik diri lewat spanduk, kata Cecep, masih terlalu jauh untuk menuju 2014. Cecep juga mempertanyakan kesungguhan pemerintah menaikkan harga BBM bukan untuk kepentingan politis.
"Kalau kita lihat dari sisi positisnya, kenaikan harga BBM kan memang karena harga BBM kita lebih rendah dari negara lain, lalu cadangan kita terbatas. Tapi pengalaman sebelumnya kan menjelang pemilu ditunin tiga kali yang ada jadi politis dan pencitraan, belum lagi adanya bantuan langsung, masyarakat tak mau terulang dua kali," tutupnya.
Kampanye itu tidak efektif untuk mendongkrak elektabilitas menjelang Pemilu 2014 serta memperbaiki citra PKS yang sudah diterjang kasus suap kuota impor daging sapi.
Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat mengatakan, pemasangan spanduk tersebut menunjukkan bahwa PKS mengubah positioning mereka meski bergabung di dalam koalisi, tetapi menolak kenaikan harga BBM.
"Mereka menunjukkan eksistensi, bahwa meski ada dalam Setgab, lalu melawan. Mereka mau menunjukkan bahwa mereka berada di barisan rakyat. Ini detik - detik terakhir PKS ubah strategi, tetapi ini terlambat," tukasnya di Depok, Rabu (04/06/2013).
Cecep menilai sikap PDIP justru lebih baik yang sejak awal konsisten berada diluar koalisi. Ancaman PKS keluar dari koalisi menurutnya hanya gertak sambal.
"Menteri dalam kabinet harusnya otomatis ditarik, karena itu PKS hanya gertak sambal saja. Kan PKS ada tiga menteri yakni Mensos, Menkominfo, dan Mentan dimana ketiganya berhubungan erat dengan masyarakat," paparnya.
Dengan mempercantik diri lewat spanduk, kata Cecep, masih terlalu jauh untuk menuju 2014. Cecep juga mempertanyakan kesungguhan pemerintah menaikkan harga BBM bukan untuk kepentingan politis.
"Kalau kita lihat dari sisi positisnya, kenaikan harga BBM kan memang karena harga BBM kita lebih rendah dari negara lain, lalu cadangan kita terbatas. Tapi pengalaman sebelumnya kan menjelang pemilu ditunin tiga kali yang ada jadi politis dan pencitraan, belum lagi adanya bantuan langsung, masyarakat tak mau terulang dua kali," tutupnya.
(lns)