Mendikbud minta abaikan selebaran berisi UN batal
Rabu, 17 April 2013 - 07:03 WIB
Mendikbud minta abaikan selebaran berisi UN batal
A
A
A
Sindonews.com - Selebaran gelap tak diketahui dari mana asalnya meresahkan siswa siswi yang tengah mengikuti Ujian Nasional (UN) di wilayah Jakarta.
Selebaran berbunyi "UN tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun ini dinyatakan gagal, karena banyak terjadi kesalahan dari berbagai pihak, yaitu Kementrian Pendidikan dan pihak percetakan naksah UN."
Masih dalam selebaran itu, tertulis pula "Selain itu banyak kesalahan lainnya: 1. Lembar jawaban komputer yang berkualitas buruk, menyebabkan mudah rusak saat dihapus-hapus. 2. Terlambatnya pencetakan dan pendistribusian soal UN untuk 11 provinsi3.
3.Serta kesalahan pembagian soal pada hari pertama di daerah Aceh oleh karenanya UN 2013 akan diulang pada tanggal 22 April - 25 April 2013."
Menyikapi selebaran itu orang tua murid salah satu siswi yang tengah UN, Eddy Koko, mengatakan, selebaran itu sangat meresakan, tidak saja anak yang sedang UN tapi juga para orang tua.
Karena itulah, Pemimpin Redaksi Radio Sindo Trijaya FM ini tadi malam menanyakan langsung kepada Mendikbud Muhammad Nuh mengenai kebenaran selebaran itu.
"Tadi pagi pukul 03.00 WIB lewat, Mendikbud melalui SMS menjawab, selebaran itu tidak bisa dipertanggungjawabkan, jadi abaikan saja," jelas Eddy ketika dihubungi, Rabu (17/4/2013).
Eddy sangat menyesalkan selebaran yang membuat semua siswa dan para orangtua resah. Menurutnya, sebagai wartawan dirinya bisa segera mencari info kebenaran soal selebaran tersebut, tapi bagaimana dengan orangtua yang tak memiliki akses untuk mendapatkan penjelasan.
Padahal, akibat selebaran itu siswa siswi yang sedang melaksanakan UN menjadi tidak semangat mengikuti UN, karena mereka beranggapan UN akan diulang.
"Sebagian teman-teman anak saya bahkan bersikap santai saja toh nanti UN akan diulang, maka pagi tadi saya langsung meminta anak saya meneruskan ke teman-temannya soal penjelasan dari Mendikbud tersebut," ujarnya.
Eddy juga menyesalkan pihak yang menyebarkan selebaran itu, apa motifnya. Kalaupun selebaran itu sebagai bentuk serangan kepada pemerintah, mereka tak pernah berpikir dampak yang ditimbulkan, siswa siswi akhirnya menjadi korban.
Selebaran berbunyi "UN tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun ini dinyatakan gagal, karena banyak terjadi kesalahan dari berbagai pihak, yaitu Kementrian Pendidikan dan pihak percetakan naksah UN."
Masih dalam selebaran itu, tertulis pula "Selain itu banyak kesalahan lainnya: 1. Lembar jawaban komputer yang berkualitas buruk, menyebabkan mudah rusak saat dihapus-hapus. 2. Terlambatnya pencetakan dan pendistribusian soal UN untuk 11 provinsi3.
3.Serta kesalahan pembagian soal pada hari pertama di daerah Aceh oleh karenanya UN 2013 akan diulang pada tanggal 22 April - 25 April 2013."
Menyikapi selebaran itu orang tua murid salah satu siswi yang tengah UN, Eddy Koko, mengatakan, selebaran itu sangat meresakan, tidak saja anak yang sedang UN tapi juga para orang tua.
Karena itulah, Pemimpin Redaksi Radio Sindo Trijaya FM ini tadi malam menanyakan langsung kepada Mendikbud Muhammad Nuh mengenai kebenaran selebaran itu.
"Tadi pagi pukul 03.00 WIB lewat, Mendikbud melalui SMS menjawab, selebaran itu tidak bisa dipertanggungjawabkan, jadi abaikan saja," jelas Eddy ketika dihubungi, Rabu (17/4/2013).
Eddy sangat menyesalkan selebaran yang membuat semua siswa dan para orangtua resah. Menurutnya, sebagai wartawan dirinya bisa segera mencari info kebenaran soal selebaran tersebut, tapi bagaimana dengan orangtua yang tak memiliki akses untuk mendapatkan penjelasan.
Padahal, akibat selebaran itu siswa siswi yang sedang melaksanakan UN menjadi tidak semangat mengikuti UN, karena mereka beranggapan UN akan diulang.
"Sebagian teman-teman anak saya bahkan bersikap santai saja toh nanti UN akan diulang, maka pagi tadi saya langsung meminta anak saya meneruskan ke teman-temannya soal penjelasan dari Mendikbud tersebut," ujarnya.
Eddy juga menyesalkan pihak yang menyebarkan selebaran itu, apa motifnya. Kalaupun selebaran itu sebagai bentuk serangan kepada pemerintah, mereka tak pernah berpikir dampak yang ditimbulkan, siswa siswi akhirnya menjadi korban.
(lns)