Yenny batal ke Demokrat, karena posisi tak sesuai target
Rabu, 17 April 2013 - 06:32 WIB
Yenny batal ke Demokrat, karena posisi tak sesuai target
A
A
A
Sindonews.com - Batalnya putri kedua Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau akrab dipanggil Yenny Wahid bergabung dengan Partai Demokrat menimbulkan banyak spekulasi.
Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Airlangga Pribadi menduga, Yenny mengurungkan niatnya itu karena ternyata apa yang akan didapat di Demokrat tidak sesuai harapan.
"Artinya posisi yang didapatkan Yenny di Partai Demokrat bisa saja tidak sesuai dengan target yang ia inginkan," tukas pria akrab disapa Angga ini ketika dihubungi, Rabu (17/4/2013).
Menurut Angga, langkah yang diambil Ketua Umum Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) sesungguhnya cukup realistis, mengingat tingkat elektabilitas Partai Demokrat hingga kini masih tetap terpuruk.
"Prediksinya Partai Demokrat hingga Pemilu 2014 semakin turun, jadi untuk apa Yenny masuk ke Demokrat," tukas dosen Ilmu Politik di Unair ini.
Apalagi jika Yenny tak diberi posisi strategis ketika sudah berada di partai itu. "Kalau posisi tidak strategis buat apa masuk partai yang sedang merosot elektabilitasnya," tukas Angga lagi.
Lebih lanjut Angga mengatakan, dalam politik, apapun bisa saja berubah dalam waktu yang singkat. Sehingga apa yang dilakukan Yenny bukan sesuatu yang mengejutkan dan cukup realistis. "Namanya juga transaksi politik, ya seperti itu," ujarnya.
Sesungguhnya, imbuh Angga, keberadaan Yenny di Partai Demokrat sendiri tak menjamin akan diikuti oleh suara Nahdlatul Ulama (NU). Sebab, pendukung Gus Dur belum tentu pendukung Yenny. Selain itu di NU sendiri juga banyak sekali friksi-friksi politiknya.
Seperti diketahui Yenny Wahid telah mengumumkan batalnya niat untuk bergabung ke Partai Demokrat. Alasan Yenny, tawaran politik dari Partai Demokrat ini datangnya terlambat.
"Tawaran dari Partai Demokrat ini datangnya agak terlambat, jadi itu yang menjadi pertimbangan utama saya salah satunya untuk memutuskan tetap berada di luar struktur," ujar Direktur Wahid Institute ini saat jumpa pers di Kantor DPP PKBIB, Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa 16 April 2013.
Menurut Yenny banyak mantan kader PKBIB telah memroses pencalegan dari partai-partai lain.
"Kalau saya kemudian berada dalam suatu parpol khusus, tentu tak bisa mengayomi teman-teman yang ada di partai lain. Prinsip yang kami anut pada saat ini, kami tidak kemana-mana tapi ada di mana-mana," ucapnya
Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Airlangga Pribadi menduga, Yenny mengurungkan niatnya itu karena ternyata apa yang akan didapat di Demokrat tidak sesuai harapan.
"Artinya posisi yang didapatkan Yenny di Partai Demokrat bisa saja tidak sesuai dengan target yang ia inginkan," tukas pria akrab disapa Angga ini ketika dihubungi, Rabu (17/4/2013).
Menurut Angga, langkah yang diambil Ketua Umum Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) sesungguhnya cukup realistis, mengingat tingkat elektabilitas Partai Demokrat hingga kini masih tetap terpuruk.
"Prediksinya Partai Demokrat hingga Pemilu 2014 semakin turun, jadi untuk apa Yenny masuk ke Demokrat," tukas dosen Ilmu Politik di Unair ini.
Apalagi jika Yenny tak diberi posisi strategis ketika sudah berada di partai itu. "Kalau posisi tidak strategis buat apa masuk partai yang sedang merosot elektabilitasnya," tukas Angga lagi.
Lebih lanjut Angga mengatakan, dalam politik, apapun bisa saja berubah dalam waktu yang singkat. Sehingga apa yang dilakukan Yenny bukan sesuatu yang mengejutkan dan cukup realistis. "Namanya juga transaksi politik, ya seperti itu," ujarnya.
Sesungguhnya, imbuh Angga, keberadaan Yenny di Partai Demokrat sendiri tak menjamin akan diikuti oleh suara Nahdlatul Ulama (NU). Sebab, pendukung Gus Dur belum tentu pendukung Yenny. Selain itu di NU sendiri juga banyak sekali friksi-friksi politiknya.
Seperti diketahui Yenny Wahid telah mengumumkan batalnya niat untuk bergabung ke Partai Demokrat. Alasan Yenny, tawaran politik dari Partai Demokrat ini datangnya terlambat.
"Tawaran dari Partai Demokrat ini datangnya agak terlambat, jadi itu yang menjadi pertimbangan utama saya salah satunya untuk memutuskan tetap berada di luar struktur," ujar Direktur Wahid Institute ini saat jumpa pers di Kantor DPP PKBIB, Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa 16 April 2013.
Menurut Yenny banyak mantan kader PKBIB telah memroses pencalegan dari partai-partai lain.
"Kalau saya kemudian berada dalam suatu parpol khusus, tentu tak bisa mengayomi teman-teman yang ada di partai lain. Prinsip yang kami anut pada saat ini, kami tidak kemana-mana tapi ada di mana-mana," ucapnya
(lns)